Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd
“Sholat akan mengantarkan engkau pada kebahagiaan. Sholat mendekatkan engkau pada kesuksesan. Sholat mengantarkan engkau pada kedamaian. Makanya kalau orang sholat, pasti tenang hatinya,” terang Ustaz Adi Hidayat, via saluran resminya, WhatsApp.
Namun, sebuah tanya menggantung di langit batin banyak orang orang. “Mengapa aku sholat, tapi hatiku tetap gundah? Mengapa aku rajin sujud, tapi hidupku tak kunjung lapang? Apakah ada yang salah dalam salatku?”
Pertanyaan itu bagai cermin yang memantulkan wajah sejati ibadah kita kebanyakan. Sebab, sholat yang sejati bukan sekadar gerak badan dan bacaan yang dihafal. Ia adalah mi‘raj, sebuah perjalanan ruhani yang menghubungkan makhluk dengan Khalik. Akan tetapi, jika yang naik hanya jasad, sedang ruh tertinggal di dunia, maka yang “sampai hanyalah gerakan,” bukan kedekatan.
Allah SWT berfirman:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingatKu.”
QS. Ṭāhā:14
Maka, jika shalat tak melahirkan ketenangan, boleh jadi kita tidak benar-benar mengingat-Nya. Lidah membaca ayat, tapi hati masih sibuk menghitung hitung dunia. Dahi menempel di sajadah, tapi pikiran berkelana ke banyak urusan kerja dan citra diri.
Nabi SAW bersabda:
“Tidaklah seseorang selesai dari sholatnya, melainkan hanya mendapatkan sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, dan seterusnya—sesuai kadar kekhusukannya.”
(HR. Abu Dawud)
Artinya, sholat tidak secara otomatis menghadirkan kebahagiaan. Yang menentukan adalah kualitas hudurul qalb, hadirnya hati di hadapan Allah. Banyak orang sholat, tapi tak hadir. Banyak yang sujud, tapi hatinya tak tunduk.
Padahal, ketenangan yang dijanjikan Allah bukan hadiah instan, melainkan buah dari perjalanan jiwa yang konsisten.
Allah SWT berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
QS. Ar-Ra‘d:28
Jadi, barangkali bukan sholatnya yang salah. Akan tetapi cara kita memandang sholat yang keliru. Kita memperlakukannya seperti tiket menuju keberuntungan dunia, bukan perjumpaan sakral dengan Sang Pencipta. Kita sholat agar hidup bahagia, padahal seharusnya kita hidup untuk sholat, untuk tunduk, mengabdi, dan menyerahkan diri seutuhnya.
Karena sesungguhnya, kedamaian tidak datang dari banyaknya rakaat, tapi dari seberapa dalam sujud itu menenggelamkan ego kita.
Dan kebahagiaan tidak lahir dari suksesnya urusan dunia, tapi dari tentramnya hati yang yakin bahwa Allah selalu cukup.
Maka, barangkali yang perlu dibenahi bukan gerakan sholatnya, melainkan gerakan hati yang tertinggal jauh di belakang takbir pertama.
Apakah kita sudah benar-benar sujud? Atau baru sekadar menunduk? Jawabannya, jangan berkaca diriak air gelombang pasang. Juga, bukan pada rumput yang bergoyang — seperti dalam syair, lagu Ebiet G Ade. (KH/***)
