Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Tak bisa dipungkiri, ilmu dalam khazanah Islam, bukanlah sekadar tumpukan dalil-dalil atau hafalan kitab — yang terpajang di rak rak buku kita. Ia adalah cahaya.
Dan cahaya, kata para sufi, tidak pernah membakar, kecuali pada hati yang dipenuhi minyak ego.
E hem… Maka, ketika seorang berilmu marah, sejatinya yang diuji bukanlah ilmunya, melainkan sejauh mana cahaya itu telah benar-benar bersemayam dalam hati dan jiwanya.
Marah bukanlah perkara yang haram secara mutlak. Bahkan Rasulullah SAW pun marah. Namun, kemarahan beliau selalu berada dalam koridor iman dan kasih sayang.
Beliau marah ketika kebenaran diinjak, ketika keadilan dilukai, ketika umat terancam tersesat.
Namun, tak pernah tercatat beliau marah demi harga diri pribadi, apalagi demi mempertahankan gengsi keilmuan.
Al-Qur’an telah memberikan rambu yang sangat jelas tentang bagaimana sikap orang beriman dalam mengelola emosi.
Allah SWT berfirman:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
QS. Āli ‘Imrān:134
Ayat ini tidak sedang berbicara tentang orang awam semata, melainkan standar moral bagi siapa pun yang mengaku beriman, terlebih mereka yang memikul amanah ilmu.
Idealnya, orang yang berilmu agama memahami betul bahwa ilmu bukan alat pemukul, melainkan jembatan penyadaran. Ia tahu, kebenaran tidak selalu harus ditegakkan dengan suara tinggi, apalagi dengan caci maki yang menyisakan luka.
Maka, tak mengherankan jika banyak ulama besar justru dikenal karena kelapangannya dalam mengalah, bahkan meminta maaf lebih dulu, meski ia berada di posisi yang benar.
Imam Syafi’i pernah berkata dengan penuh kebijaksanaan,
“Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap kebenaran muncul dari lisannya.”
Sebuah pernyataan yang terasa semakin mahal di zaman ketika debat sering kali bukan lagi soal mencari kebenaran, melainkan mencari pemenang dan mengalahkan lawan bicaranya sejatuh jatuhnya: Untuk segera minta maaf pula pada “koleganya.” Nauzubillahiminzalik.
Namun realitas tidak selalu seindah idealitas. Di tengah masyarakat kita, muncul fenomena yang lebih menggelitik sekaligus memprihatinkan: Seseorang yang merasa berilmu tinggi dalam agama, tetapi ketika marah justru melebihi orang yang tak pernah mencicipi bangku sekolah. Nada suaranya meninggi, kata-katanya menusuk, dan dalil-dalil dijadikan tameng untuk menyerang, bukan untuk menerangi.
Ketika dikritisi, ia tidak membuka ruang dialog, melainkan menutupnya dengan ayat dan hadis yang dilontarkan seperti senjata. Seolah-olah dalil adalah palu godam untuk meremukkan lawan bicara. Padahal, para ulama salaf selalu mengingatkan: Dalil tanpa adab adalah fitnah.
Rasulullah SAW dengan tegas mengingatkan bahaya kemarahan yang tak terkendali. “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini seharusnya membuat siapa pun yang mengaku berilmu, jadi bahan perenung panjang. Sebab, marah yang melampaui batas sering kali bukan pertanda kekuatan iman, melainkan kelemahan dalam mengelola nafsu.
Sehingga, orang lain yang selaiknya diajak berangkulan untuk saling menguatkan dalam cahaya ilmu — justru dianggap kompetitor dan dianggap tak ber-mashab sama.
Para sufi membaca kemarahan dengan kacamata yang lebih dalam. Jalaluddin Rumi, misalnya, pernah menulis, bahwa kemarahan adalah asap dari api ego.
Selama ego belum padam, asap itu akan terus mengepul, mengaburkan pandangan, bahkan bagi orang yang merasa paling tahu arah kiblat.
Di titik inilah, ilmu diuji keasliannya. Apakah ia benar-benar melahirkan tawadhu, atau justru menyuburkan kesombongan yang dibungkus jubah kesalehan? Imam Malik bin Anas, ulama besar Madinah, pernah menolak berdebat keras meski berada di posisi benar.
Beliau berkata, “Setiap orang bisa benar dan bisa salah, kecuali penghuni kubur ini,” sambil menunjuk makam Rasulullah SAW.
Sikap ini menunjukkan bahwa kerendahan hati adalah mahkota ilmu. Tanpanya, ilmu hanya akan menjadi beban moral, bahkan bisa berubah menjadi alat penindasan simbolik atas nama agama.
Ironisnya, orang awam sering kali lebih cepat minta maaf ketika salah, sementara sebagian yang merasa berilmu justru sulit mengalah.
Barangkali karena bagi yang awam, harga diri tidak digantungkan pada gelar dan pengakuan.
Sedangkan bagi yang terjebak pada identitas keilmuan, mengalah dianggap sama dengan kalah.
Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan bukan pada banyaknya ilmu yang dipamerkan, melainkan pada ketakwaan.
“……..Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13).
Maka, marahnya orang berilmu seharusnya semakin membuatnya rendah hati, semakin berhati-hati dalam bertutur, dan semakin cepat kembali kepada adab.
Jika tidak, barangkali yang perlu dikoreksi bukanlah dari kritik orang lain, melainkan cermin di hadapan diri sendiri.
Sebab, ilmu sejati tidak pernah berteriak. Ia berbicara pelan, menyejukkan, dan ketika disakiti, ia lebih memilih memaafkan.
Dan setelahnya diam, diam dan diam. Karena tahu, kebenaran tidak pernah berkurang — hanya karena kita bersikap diam serta lemah lembut dihadapan orang -orang “berilmu” dan orang awam. Kebenaran yang hakiki, hanya milik Allah SWT. (KH/***)
