Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Kabut sore turun perlahan di lereng bukit. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disentuh gerimis. Di sebuah warung kopi sederhana yang menghadap lembah, Fauzar duduk sendiri. Secangkir kopi di hadapannya telah dingin sejak lama. Ia tidak sedang ditinggalkan.
Setidaknya, begitulah yang terlihat.
Nomor Zahra masih tersimpan di teleponnya. Sesekali mereka masih saling menyapa. Kadang masih bertukar kabar. Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pintu yang dibanting. Namun entah mengapa, setiap hari Fauzar merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia tunjuk dengan jari.
Ia kehilangan seseorang yang masih ada.
Dan itulah yang paling menyakitkan.
Beberapa hari terakhir perutnya sering mual. Makan tak lagi terasa nikmat. Bahkan nyaris tak kuat pegang gelas untuk minumnya sendiri. Parah. Malam-malamnya dipenuhi langkah mondar-mandir yang tidak berujung. Ia mencoba mencari sebabnya. Sampai akhirnya ia menemukan satu kalimat dalam buku psikologi yang dibacanya:
“Ambiguous loss. Kehilangan yang tidak memiliki akhir yang jelas.”
Fauzar tersenyum pahit.
“Jadi ini namanya…”

Sore itu Zahra datang.
Perempuan itu duduk di hadapannya. Wajahnya tetap teduh seperti dulu. Namun ada jarak yang tak terlihat di antara mereka. Jarak yang tidak bisa diukur dengan kilometer.
Jarak yang hanya bisa dirasakan hati.
“Kau terlihat lelah, Fauzar,” kata Zahra.
Fauzar menatap lembah yang mulai diselimuti kabut.
“Aku sedang kehilangan sesuatu.”
Zahra terdiam.
“Apa yang hilang?”
Fauzar tersenyum.
“Itulah masalahnya. Aku tak tahu.”
Mereka sama-sama diam.
Di kejauhan terdengar suara azan magrib menggema dari sebuah surau kecil di sela bukiy. Percakapan terjeda.Usai azan.
Fauzar kembali bicara.
“Dulu aku mengerti posisi kita. Jika memang harus berpisah, aku siap menerima luka itu. Luka yang jelas lebih mudah dirawat.”

“Tapi sekarang?” tanya Zahra pelan.
“Sekarang aku seperti berdiri di jembatan yang tak punya ujung.”
Ia menarik napas panjang.
“Hubungan ini tidak benar-benar ada. Tapi juga belum benar-benar tiada.”
Zahra menunduk.
Kalimat itu menembus pertahanan yang selama ini ia bangun.
“Aku tidak pernah berniat melukaimu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu mengapa kau terlihat begitu sedih?”
Fauzar tersenyum lagi. Senyum seseorang yang telah terlalu lama berbicara dengan kesunyiannya sendiri.
“Karena kehilangan yang paling menyakitkan bukan saat seseorang pergi.”
“Lalu?”
“Saat seseorang masih ada, tetapi tak lagi hadir.”
Mata Zahra berkaca-kaca.
Ia memahami maksud itu.
Beberapa bulan terakhir, ia memang berubah.
Kesibukan, kehidupan, dan berbagai hal yang tak pernah sempat dijelaskan telah perlahan menjauhkan dirinya.

Bukan karena benci.
Bukan karena tidak peduli.
Namun, kadang hidup memang menarik manusia ke arah yang berbeda.
“Aku sering bertanya-tanya,” kata Fauzar.
“Tentang apa?”
“Apakah kau menemukan seseorang yang lebih menjanjikan? Lebih memperhatikan?Lebih bermarwah?”
Zahra terkejut.
“Aku tidak tahu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku sungguh tidak tahu, Fauzar.”
Angin kembali berembus.
Membawa dedaunan jatuh ke tanah.
Fauzar memandangnya lama.
Lalu berkata dengan suara yang sangat tenang.
“Aku hanya mata air kecil, Zahra.”
Perempuan itu mengangkat wajahnya.
“Maksudmu?”
“Aku hanya tetesan yang lahir dari sela-sela batu.”
Ia menatap jauh ke lembah.
“Aku mengalir pelan menuju muaraku sendiri.”
Suara Fauzar semakin lembut.
“Jika kini kau sedang mencari anak sungai yang lebih deras…”
Ia tersenyum tipis.
“…maaf. Itu bukan caraku menolong.”
Zahra menunduk.
Air mata jatuh tanpa izin.
Karena untuk pertama kalinya ia mendengar cinta berbicara tanpa tuntutan.
Tidak memaksa.
Tidak menahan.
Tidak mengemis untuk dipilih.
Hanya menerima.
Dan justru karena itulah terasa sangat menyakitkan.
“Aku tidak ingin kau menghilang dari hidupku,” bisik Zahra.
“Tapi kau juga tak bisa tinggal seperti dulu.”
“Ya.”
“Dan aku tak tahu harus bagaimana.”
Fauzar mengangguk.
“Itulah yang disebut kehilangan yang menggantung.”
Mereka terdiam.
Lalu Fauzar melanjutkan.
“Dalam hidup ini ada luka yang jelas. Ada pula luka yang samar.”
“Luka samar?”
“Ya. Luka yang tak memiliki makam untuk diziarahi.”
Zahra memandangnya bingung.
Fauzar tersenyum tipis.
“Orangnya masih hidup.”
“Masih ada.”
“Masih bisa diajak bicara.”
“Tetapi yang kita rindukan sebenarnya sudah lama pergi.”
Kalimat itu membuat Zahra menangis.
Karena ia tahu.
Yang dirindukan Fauzar bukan dirinya hari ini.
Melainkan dirinya yang dulu.
Dirinya yang pernah begitu dekat.
Dirinya yang pernah menjadikan Fauzar tempat pulang dari segala kegelisahan.
Malam mulai turun.
Lampu kampung di lereng menyala satu demi satu.
Fauzar berdiri.
Lalu menatap langit yang gelap.
“Barangkali cinta memang tidak selalu ditakdirkan untuk memiliki.”
Zahra ikut berdiri.
“Kalau begitu untuk apa cinta hadir?”
Fauzar tersenyum.
“Untuk mengajarkan manusia bahwa tidak semua yang indah harus menetap.”
Mereka saling memandang.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada janji.
Tidak ada kepastian.
Hanya dua hati yang sedang belajar menerima sesuatu yang sulit dijelaskan oleh logika.
Sebelum pergi, Zahra bertanya sekali lagi.
“Apakah kau akan melupakanku?”
Fauzar menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku hanya akan belajar berdamai dengan kenyataan.”
Ia melangkah perlahan meninggalkan warung itu.
Dan di dalam dadanya, untuk pertama kali, ia mengerti satu hal:
Kadang proses paling menyakitkan bukan kehilangan seseorang.
Melainkan menerima dari dirinya yang dahulu kita cintai…
mungkin sudah lama tidak ada.
Sementara kita baru menyadarinya hari ini.
Depok, 5 Mei 2026.
