Oleh: Budi Wahyuni, S.Pd.
Di tengah zaman yang bergerak secepat desir angin digital, banyak anak muda tumbuh dengan segudang informasi, tetapi tidak semuanya menemukan arah.
Mereka belajar berbagai rumus dan teori di ruang kelas, namun sering kali masih bertanya dalam diam: ke mana langkah ini akan dibawa, dan menjadi manusia seperti apa aku kelak?
Pendidikan sejatinya hadir untuk menjawab kegelisahan itu. Ia bukan sekadar jalan menuju nilai akademik, melainkan ikhtiar memanusiakan manusia. Sebab, sekolah yang baik tidak hanya melahirkan siswa yang cerdas berpikir, tetapi juga matang dalam bersikap, bijak dalam bertindak, sehingga mampu berinteraksi dengan baik dalam berorganisasi.
Atas dasar semangat itulah mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMK Darussalam 2 Pamulang pada 7 Mei 2026.
Mengusung tema “Kolaborasi dalam Budaya Organisasi terhadap Keterampilan Sosial (Social Skills) Siswa”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh dalam kehidupan sekolah.

Dalam perspektif pendidikan modern, keterampilan sosial bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan. Dunia kerja dan kehidupan masyarakat hari ini menuntut kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi, dan menghargai perbedaan.
Namun jauh sebelum semua istilah itu menjadi tren, para ulama dan ahli hikmah telah mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang disempurnakan melalui hubungan dengan manusia lainnya.
Tasawuf menyebutnya sebagai proses tahdzibun nafs—penyucian dan pendewasaan jiwa. Sebab seseorang tidak akan mengenal kualitas dirinya hanya ketika ia sendirian, melainkan ketika ia hidup bersama orang lain: saat berbeda pendapat, saat harus bekerja sama, saat belajar mendengar, dan saat belajar mengalahkan ego demi kemaslahatan bersama.
Di hadapan para siswa SMK, mahasiswa menjelaskan bahwa budaya organisasi bukan sekadar aturan yang tertempel di dinding sekolah. Ia adalah ruh yang hidup dalam kebiasaan sehari-hari.
Ia juga hadir dalam kedisiplinan yang dijaga bersama, dalam sapaan yang penuh hormat, dalam kepedulian kepada teman yang sedang kesulitan, dan dalam kemampuan menyelesaikan perbedaan tanpa menumbuhkan permusuhan.

Sebuah sekolah sesungguhnya bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi juga taman tempat karakter ditumbuhkan. Dari sanalah lahir keberanian untuk berbicara dengan santun, kemampuan mendengarkan dengan empati, serta kesadaran bahwa keberhasilan tidak pernah dibangun seorang diri.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan komunikatif. Para siswa terlibat aktif dalam diskusi, menyampaikan pertanyaan, serta berbagi pandangan mengenai pengalaman mereka dalam berorganisasi dan berinteraksi di lingkungan sekolah.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terbesar remaja hari ini bukan hanya pengetahuan, melainkan juga ruang untuk bertumbuh sebagai manusia yang utuh.
Dalam sesi motivasi, para mahasiswa mendorong siswa untuk berani percaya pada potensi dirinya. Mereka diajak memahami bahwa keberanian mengemukakan pendapat, kemampuan bekerja sama, serta keterampilan membangun hubungan yang sehat. Hal ini merupakan bekal yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis yang dipelajari di bangku sekolah.
Pesan itu terasa relevan di tengah realitas zaman. Banyak orang memiliki kemampuan akademik yang tinggi, tetapi gagal membangun hubungan sosial yang sehat.
Sebaliknya, tidak sedikit yang mampu melangkah jauh karena memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan menjaga kepercayaan orang lain.
Partisipasi aktif para siswa selama kegiatan menjadi pertanda bahwa generasi muda sesungguhnya memiliki semangat untuk berkembang.
Mereka hanya membutuhkan lingkungan yang memberi teladan, ruang yang memberi kesempatan, dan pendamping yang mampu menunjukkan arah.
Bagi mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pengamalan ilmu yang diperoleh selama masa studi.
Sebab, pendidikan tidak boleh berhenti sebagai teori yang tersimpan di ruang kuliah. Ia harus hadir di tengah masyarakat, menjawab kebutuhan nyata, dan memberi manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh peserta didik.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar proses belajar mengajar. Pendidikan adalah ikhtiar menanam nilai, membentuk karakter, dan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Sebagaimana para sufi mengibaratkan manusia sebagai pohon yang tumbuh menuju langit namun akarnya tetap menembus bumi, demikian pula generasi muda perlu dibekali cita-cita yang tinggi sekaligus kemampuan hidup bersama sesamanya. Sebab ilmu tanpa akhlak akan kehilangan cahaya, sementara kecerdasan tanpa kepedulian akan kehilangan makna.
Melalui kegiatan PKM ini, diharapkan siswa SMK Darussalam 2 Pamulang semakin terdorong untuk membangun karakter positif, memperkuat keterampilan sosial, dan menanamkan semangat kolaborasi dalam setiap langkah kehidupannya. Karena pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa baik seseorang mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Dan mungkin, di tengah pencarian arah yang sedang dijalani banyak anak muda hari ini, pendidikan yang memadukan ilmu, karakter, dan kematangan sosial adalah salah satu kompas terbaik untuk menemukan jalan pulang menuju versi terbaik dari dirinya sendiri. (***)
