Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Ada saat-saat dalam hidup ketika langit seolah memilih diam. Do’a-do’a melayang setiap malam, namun tak segera kembali membawa kabar. Hanya sunyi yang turun perlahan bersama embun sepertiga malam.
Bagi ku, menyandang dosen yang telah lama mengabdikan hidup ku di dunia pendidikan, masa-masa itu bukan sekadar kisah. Aku pernah menjalaninya seperti seorang musafir yang berjalan di gurun panjang tanpa penunjuk arah, selain keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian.
Malam-malam ku telah lama menjadi tempat bermukim air mata. Di atas sajadah yang mulai akrab dengan basah do’a, aku berkali-kali mengetuk pintu langit dengan nama-nama Allah yang indah. 99 Hasmaul Husna. Bukan meminta kemewahan. Bukan pula meminta hidup tanpa ujian. Aku hanya memohon satu hal: jalan yang halal untuk mempertahankan hidup dan membesarkan ketiga anak yang menggantungkan harapan pada diri ku.
Hari-hari berlalu dalam ketidakpastian.
Dunia yang pernah memberinya ruang untuk menyalakan pelita ilmu perlahan berubah menjadi lorong yang asing. Di tempat yang dahulu aku mengajar, tidak semua hati tumbuh bening bersama ilmu. Ada prasangka yang diam-diam mengeras. Ada kata-kata yang melukai tanpa suara. Ada perlakuan yang membuat seseorang merasa asing di rumah pengabdiannya sendiri.
Maka aku memilih pergi.
Bukan karena kalah, melainkan karena menjaga martabat. Sebab terkadang meninggalkan sebuah tempat adalah cara paling elegan untuk menyelamatkan hati dari kerusakan yang lebih dalam.
Namun, kepergian itu menyisakan perjalanan yang tidak mudah.
Di balik wajah ku yang tetap tenang, aku harus berhadapan dengan pergulatan batin yang panjang. Tubuh ku berkali-kali berbicara melalui gejala yang tak terlihat mata. Kecemasan, tekanan psikis, dan kelelahan jiwa datang silih berganti seperti ombak yang tak mengenal musim.
Ada malam ketika dada ku sesak oleh ketakutan yang tak memiliki nama.
Ada hari ketika pikiran ku dipenuhi bayang-bayang kegagalan yang terus mengetuk kesadaran.
Tetapi di tengah semua itu, aku menemukan satu kenyataan yang semakin terang: iman adalah rumah terakhir yang tidak pernah menutup pintunya.
“Alhamdulillah,” begitu aku sering berbisik dalam kesendirian.
Sebab, Allah masih menjaga kewarasan ku. Allah masih memelihara nyala harap di dalam diri ku. Dan ketika dunia terasa semakin sempit, sajadah selalu menyediakan ruang yang luas untuk menangis tanpa dihakimi.
Para arif pernah mengajarkan bahwa jalan menuju Allah sering kali dibentangkan melalui kehilangan.
Bukan karena Allah ingin menyiksa hamba-Nya, melainkan karena Dia sedang membersihkan ketergantungan-ketergantungan yang selama ini menempel pada hati.
Bukankah seorang sufi pernah berkata, “Allah terkadang mencabut tempat bersandarmu agar engkau mengetahui bahwa satu-satunya sandaran yang sejati hanyalah Dia.”
Mungkin itulah yang sedang aku alami.
Ketika satu pintu tertutup, aku terus mengetuk pintu-pintu lain. Lamaran demi lamaran ku kirimkan. Harapan demi harapan disemai dalam diam. Sering kali jawabannya tidak datang. Namun aku tetap melangkah.
Sampai pada suatu hari, tanpa gemuruh dan tanpa perayaan besar, jawaban itu akhirnya datang.
Allah menjawab do’a ku.
Aku diterima mengajar di sebuah perguruan yang baru.
Bagi sebagian orang, kabar itu mungkin tampak biasa. Bahkan ada yang menganggapnya belum sempurna, sebab sampai hari ini aku belum menerima bayaran dari pengabdian di sana.
Tetapi aku memandangnya dengan cara yang berbeda.
Baginya, kesempatan mengajar kembali adalah tanda bahwa Allah belum mencabut amanah ilmu dari tangan ku. Bahwa Allah masih memberi ruang untuk menyalakan cahaya bagi generasi muda.
Ketika seseorang bertanya bagaimana aku menjalani semuanya tanpa kepastian penghasilan, aku hanya tersenyum kecil.
“Biar nanti Allah saja yang membayar pendapatan saya,” ujar ku pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sesungguhnya di sanalah letak rahasia perjalanan ruhani yang panjang.
Sebab tidak semua orang mampu bekerja tanpa terlebih dahulu menghitung keuntungan. Tidak semua orang sanggup tetap memberi ketika dirinya sendiri sedang kekurangan. Dan tidak semua orang dapat melihat rezeki sebagai sesuatu yang jauh lebih luas daripada angka yang masuk ke rekening.
Aku sedang belajar menyaksikan bahwa rezeki bukan hanya uang.
Rezeki bisa berupa kesehatan yang masih tersisa.
Rezeki bisa berupa kesempatan untuk tetap bermanfaat.
Rezeki bisa berupa hati yang tidak kehilangan iman di tengah badai.
Dan rezeki terbesar adalah ketika Allah masih memperkenankan seorang hamba untuk berharap hanya kepada-Nya.
Kini aku masih berjalan.
Masih menggandeng tiga anak yang menjadi amanah kehidupan ku.
Masih menjaring matahari dengan tangan-tangan yang rapuh.
Masih mencari mata air di antara bebatuan takdir yang keras.
Namun, ada sesuatu yang telah berubah di dalam diriku
Aku tidak lagi mencari jawaban dengan tergesa-gesa.
Karena aku mulai memahami bahwa setiap do’a memiliki musimnya sendiri untuk berbuah.
Dalam dunia tasawuf, kedekatan kepada Allah bukanlah ketika seluruh keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati tetap tenang meskipun belum memahami seluruh rencana-Nya.
Dan mungkin, inilah pelajaran paling indah yang sedang diajarkan Tuhan kepada aku:
Bahwa jawaban do’a tidak selalu datang dalam bentuk kemudahan.
Kadang ia hadir sebagai kesempatan untuk tetap mengabdi.
Kadang ia menjelma menjadi kekuatan untuk terus bertahan.
Dan kadang, ia datang dalam bentuk keyakinan yang begitu dalam, hingga seorang hamba mampu berkata dengan tenang di tengah ketidakpastian:
“Aku tidak tahu dari mana rezekiku akan datang. Tetapi aku mengenal Tuhan yang menjaminnya.”
Depok, 1 Juni 2026
