Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Entah takdir apa lagi yang sedang Kau tuliskan untukku di lembar-lembar rahasia Lauhul Mahfuz itu. Malam-malam ku telah lama menjadi sungai air mata yang mengalir diam di ujung sajadah. Kening ini telah terlalu sering rebah pada bumi, mengetuk pintu langit-Mu dengan nama-nama yang agung, namun jawaban-Mu masih berupa sunyi yang panjang.
Ya Rabb…
andaikan aku harus menjaring matahari dengan tangan yang rapuh, dan mencari mata air di sela batu-batu kering demi kelangsungan hidup dan ketiga anak-anakku, maka ajarkan aku bentuk pasrah yang paling sempurna. Sebab kadang yang paling melelahkan bukanlah lapar dan kekurangan, melainkan belajar bernapas tanpa menggugat takdir-Mu.
Aku hanyalah perempuan biasa yang pernah berdiri di ruang-ruang ilmu, menyalakan pelita bagi banyak kepala muda yang mencari arah. Namun rupanya, di tempat ilmu diajarkan, tak semua hati menjadi bening. Ada kata-kata yang dilontarkan seperti duri. Ada tatapan yang perlahan menjatuhkan harga diri. Ada ruang yang sempit oleh iri dan prasangka, hingga aku dipaksa pergi dengan senyum yang dipaksakan tetap teduh.
Aku mundur dengan hormat, walau sampai hari ini aku tak benar-benar tahu dosa apa yang sedang mereka hukum dariku. Mungkin aku terlalu diam. Mungkin terlalu jujur. Atau mungkin, di dunia yang penuh topeng, ketulusan sering dianggap ancaman.
Di balik senyum yang terlihat tenang itu, sesungguhnya aku pernah bergulat dengan luka batin yang panjang. Aku terkena mental health, psikosomatis, distress, bipolar, dan paranoid yang diam-diam menggerogoti jiwa serta pikiranku.

Ada malam-malam ketika tubuhku gemetar oleh cemas yang tak mampu dijelaskan. Ada hari-hari ketika dadaku terasa sesak oleh ketakutan yang bahkan tak memiliki nama. Namun, Alhamdulillah, dengan iman dan Islam, aku tetap kuat. Allah masih menjaga akalku agar tidak jatuh pada lupa ingatan ataupun keinginan untuk bunuh diri.
Di saat diriku nyaris runtuh, sajadah dan do’a menjadi tempat terakhirku bersandar.
Bukankah para sufi pernah berkata;
“Kadang Allah menghancurkan tempatmu berpijak agar kau tahu bahwa yang menopang hidupmu bukanlah manusia, melainkan Dia.”
Maka, kini aku berjalan di lorong ketidakpastian sambil menggandeng tiga jiwa kecil yang menggantungkan langitnya padaku. Aku belajar menjadi kuat tanpa suara. Menjadi tegar tanpa tepuk tangan. Menjadi sabar tanpa harus dipahami siapa-siapa.
Di setiap ikhtiar lamaran kerja yang kukirim, ada serpihan do’a yang kuselipkan diam-diam. Di setiap langkah mencari tempat baru untuk mengabdi sebagai dosen, ada harapan yang nyaris patah, namun tak ingin benar-benar menyerah. Sebab, aku percaya, rezeki bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kemuliaan yang Allah titipkan pada cara seseorang bertahan tanpa kehilangan iman.

Kadang aku merasa seperti musafir yang berjalan di padang tandus sambil memanggul matahari di pundaknya sendiri. Letih. Sangat letih. Namun di dalam dadaku masih ada keyakinan kecil yang belum mati: bahwa setelah malam paling pekat, fajar selalu diam-diam belajar lahir.
Ya Allah…
jika hidup ini adalah samudera ujian, maka jadikan hatiku perahu yang tak bocor oleh kecewa. Jika dunia terus memalingkan wajahnya dariku, jangan biarkan aku kehilangan wajah-Mu. Sebab hanya kepada-Mu aku ingin pulang, setelah segala luka belajar ikhlas menjadi debu.
Aku tidak meminta hidup yang mudah. Aku hanya meminta agar di setiap sulitku, Kau tetap menggenggam tanganku. Agar ketiga anakku tidak tumbuh dengan mewarisi kepahitan ibunya.
Dan, agar aku tetap mampu tersenyum meski diam-diam sedang menjahit reruntuhan hati sendiri.
Karena mungkin, hakikat tasawuf bukan tentang menghilang dari luka, melainkan tetap mencintai Allah meski do’a-do’a belum juga menemukan jawabannya. (Depok, 28 Mei 2026)
