Humaniora
Beranda » Humaniora » Meraba Takdir di Sepertiga Malam

Meraba Takdir di Sepertiga Malam

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

(Menolog: Seperti yang dituturkan oleh Elly pada penulis) 

Di antara sunyi yang menggantung di langit malam, aku seorang perempuan yang masih setia menadahkan harap.  Bukan sedang mengejar dongeng tentang cinta yang sempurna, bukan pula menunggu pangeran dalam kisah-kisah yang sering dibumbui khayalan. Yang aku cari adalah seorang teman perjalanan: seseorang yang kelak berjalan bersama menuju ridho Allah, saling menguatkan ketika dunia terasa berat, dan saling menggenggam ketika usia mulai menua. 

Pada sepertiga malam, ketika banyak mata terpejam dan jalanan kehilangan hiruk-pikuknya, aku duduk dalam keheningan. Di hadapan ku terbentang sajadah yang telah menjadi saksi panjang perjalanan hidup.  Ada luka yang pernah singgah, ada kehilangan yang pernah menggoreskan jejak, ada harapan yang sempat patah lalu tumbuh kembali. 

Namun, di hadapan Allah, semuanya menjelma do’a.

Menjaring Matahari, Mencari Mata Air (Jilid 2: Ketika Jawaban Tuhan Datang Dalam Bentuk Keikhlasan)

Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan agar manusia mengambil pelajaran. Dalam keyakinan itulah aku menyimpan harap. Aku percaya, jika Allah telah menetapkan rezeki bagi seekor burung yang terbang tanpa membawa bekal, maka Allah pun telah menuliskan pertemuan bagi dua hati yang dipersiapkan untuk saling menyempurnakan. 

Malam demi malam berlalu. Usia terus bergerak seperti arus sungai yang tak pernah berhenti menuju muara. Sesekali aku bertanya kepada dirinya sendiri, adakah seseorang di luar sana yang sedang memanjatkan do’a yang sama? Adakah seorang lelaki yang juga menengadahkan tangan pada waktu yang sama, memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan perempuan yang dapat menjadi penyejuk jiwanya? 

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak membuat aku gelisah. Sebaliknya, aku jadikan sebagai bahan bakar kesabaran. Sebab aku memahami satu hakikat yang sering diajarkan para ahli tasawuf: bahwa manusia hanya mampu merencanakan perjalanan, sedangkan Allah adalah Pemilik peta dan tujuan. 

Dalam perjalanan ruhani, aku belajar bahwa cinta sejati bukanlah tentang menemukan seseorang yang mampu menghapus seluruh luka. Cinta adalah anugerah yang mempertemukan dua insan yang sama-sama bersedia bertumbuh, memperbaiki diri, dan belajar mencintai karena Allah. Sebagaimana para sufi memaknai mahabbah, cinta adalah jembatan menuju Sang Pencipta, bukan tujuan akhir dari perjalanan. 

Maka aku tidak lagi meminta pasangan yang sempurna. Aku memohon seseorang yang hatinya mengenal sujud, yang lisannya akrab dengan dzikir, yang memahami bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat bernaung dari panas dan hujan, melainkan madrasah kehidupan tempat dua jiwa belajar tentang sabar, syukur, dan pengabdian. 

Anggap Aku Telah “Hijrah” ke Dimensi hidup yang Berbeda

Di setiap akhir do’anya, aku selalu menyisipkan kalimat yang sederhana:

“Ya Allah, jika dia telah Engkau ciptakan untukku, maka dekatkanlah kami dengan cara yang paling Engkau ridhoin. Jika waktunya belum tiba, lapangkanlah dadaku untuk menunggu. Dan jika jalan kami masih berjauhan, bimbinglah langkah kami agar saling menuju dalam cahaya-Mu.” 

Harapan itu tidak pernah aku gantungkan kepada manusia. Aku gantungkan sepenuhnya kepada Allah. Sebab aku memahami sabda Rasulullah SAW bahwa do’a pada sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat istimewa, saat Allah mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon. 

Karena itu, setiap kali dunia bertanya mengapa aku masih sendiri? Aku tersenyum. Aku tahu bahwa takdir bukanlah sesuatu yang terlambat. Takdir selalu datang tepat pada waktunya.

Mungkin saat ini namanya masih menjadi rahasia yang tersimpan di langit. Mungkin wajahnya masih asing dan belum pernah berpapasan. Mungkin jaraknya hanya beberapa langkah, atau bahkan terpisah oleh kota dan waktu. 

Muslimah, Madrasah Pertama dan Jalan Menuju Surga

Namun bila Allah telah menetapkan pertemuan itu, tidak ada satu pun kekuatan di bumi yang mampu menghalanginya.

Dan pada sepertiga malam yang kembali turun dengan kelembutannya, aku kembali sujud, kembali menengadahkan tangan. Bukan dengan kegelisahan, melainkan dengan keyakinan.

Sebab akubtahu, tugasku bukan menemukan takdir.

Tugas aku adalah memperindah diri di hadapan Allah, sementara takdir akan menemukan jalannya sendiri.

Seperti fajar yang selalu datang setelah malam paling gelap, seperti hujan yang turun setelah langit lama menahan mendung, demikian pula pertemuan yang telah ditulis di Lauhul Mahfuz. 

Aku akan datang.

Pada waktu yang paling tepat.

Dengan cara yang paling indah.

Dan ketika hari itu tiba, aku  akan mengerti bahwa seluruh penantian panjangnya hanyalah cara Allah mengajarkan satu hal yang paling berharga:

Bahwa apa yang lahir dari kesabaran, akan terasa lebih nikmat daripada apa yang diperoleh dengan tergesa-gesa. Dan apa yang datang dari Allah, tidak pernah salah alamat.

*****

Setu, Bekasi Selatan

31 Mei 2026