Humaniora
Beranda » Humaniora » [Puisi] Ketika Aku Harus Ikhlas Melepasnya

[Puisi] Ketika Aku Harus Ikhlas Melepasnya

(Foto ilustrasi - Istimewa)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Senja temaram seolah enggan benar-benar padam, aku belajar tentang cinta yang tidak memiliki nama, atau sengaja tak ku diberi nama. Cinta itu hadir seperti kabut: terasa, namun tak pernah benar-benar bisa digenggam. 

Diantara aneka rasa yang singgah dalam hidupku —  inilah yang paling sunyi, senyap bersemayam di lubuk hati. Mencintai seseorang yang telah menjadi milik orang lain, sementara status rasa itu sendiri menggantung: antara memiliki dan dimiliki, antara ada dan tiada. Tampa kepastian ditutup dengan tegas dan terang menderang. 

Dalam bahasa jurnalistik, mungkin ini bisa disebut sebagai “wilayah abu-abu”— ruang tanpa definisi yang tegas, tanpa batas yang benar-benar bisa ditarik. Tapi ,dalam bahasa tasawuf, ini adalah ujian halus bagi hati: sejauh mana aku – kita mampu mencintai tanpa melanggar, merasakan tanpa merusak, dan menahan tanpa mengingkari fitrah. 

Di luar nalar aku tidak pernah merencanakan hal ini — mungkin juga dirimu. Cinta itu tumbuh seperti rumput liar di sela-sela retakan batu—tidak diundang, tapi juga sulit dicabut begitu saja. 

Menjaga Bara Ramadhan: Memaknai Puasa Syawal sebagai Jalan Istiqomah

Awal pertemuan terasa biasa saja di mata kerabat. Namun, diam-diam meninggalkan getar yang tak selesai di dalam dada. Percakapan yang tampak sederhana, tetapi menetap seperti gema yang berulang-ulang di relung jiwa. 

Namun, aku tahu, sejak awal, ini bukan ladang yang boleh kutanami harapan.

dirimu adalah “istri seseorang”.

Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki bobot  nyaris tak tertanggungkan oleh hati yang lemah. 

Dalam perspektif syariat, batasnya jelas. Tidak ada ruang untuk tafsir. Tidak ada celah untuk kompromi. Tapi hati manusia seringkali berjalan lebih lambat dari kesadaran. Ia tertatih-tatih mengejar apa yang akal sudah lebih dulu pahami: bahwa tidak semua yang terasa indah, diizinkan untuk dimiliki. 

[Puisi] Ketika Rasa Cinta Itu Diuji

Dalam tradisi tasawuf, para ulama sering mengingatkan bahwa cinta adalah energi yang harus diarahkan. Jika ia tidak menemukan jalan yang halal, maka ia harus dikembalikan kepada Sang Pemilik Cinta itu sendiri. Sebab sejatinya, tidak ada cinta yang sia-sia—yang sia-sia hanyalah ketika kita salah menempatkannya. 

Aku mencoba memahami ini sebagai latihan. Bukan sekadar menahan diri, tetapi juga menata niat. Bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Bahwa rasa yang tumbuh tidak harus berakhir dengan kebersamaan. Kadang, justru kesempurnaan cinta terletak pada kemampuannya untuk berhenti—di titik yang paling menyakitkan sekaligus paling jujur. 

Di antara do’a-do’a yang lirih, aku belajar mengubah arah: dari ingin memiliki, menjadi ingin menjaga. Dari ingin dekat, menjadi ingin memastikan ia tetap dalam kebaikan, meski bukan bersamaku. Ini bukan kekalahan, melainkan bentuk lain dari kemenangan yang jarang dirayakan. 

Karena dalam diam, aku mulai mengerti—bahwa cinta yang tidak sampai ke pelukan, masih bisa sampai ke langit.

Dan mungkin, di sanalah ia menemukan bentuknya yang paling utuh: tidak mengikat, tidak melukai, tidak menuntut untuk dimiliki. Hanya hadir sebagai getar yang mengingatkan bahwa hati ini pernah hidup, pernah merasa, dan pernah belajar… untuk melepaskan dengan cara yang paling ikhlas. (***)

[Puisi] Mencintaimu Bukan Perkara Mudah