Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Gema takbir saling bersahut sahutan di langit pagi Idul Fitri di Perumahan Vila Pamulang, tepatnya di jalan Bukit Raya. Suaranya mengalun dari masjid ke masjid, dari rumah-rumah yang masih setengah terjaga oleh malam panjang Ramadhan — yang semalam diguyur hujan.
Ada yang menangis haru, ada yang tersenyum lega, ada pula yang sekadar terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dahulu, kami masuk ke perumahan Vila Pamulang ini, boleh dibilang masih perkasa belia. Seiring perjalanan waktu yang panjang, kini rata rata umur kami sudah di atas lima puluh, enam puluh tahun — bahkan sudah ada beberapa dari kami yang “hijrah” ke balik papan.
Bagi sebagian orang, Idul Fitri adalah perayaan kemenangan yang riuh. Namun, bagi kami yang telah melangkah pada usia yang tak muda lagi, gema takbir sering kali menghadirkan ruang sunyi yang lebih dalam: ruang untuk mengenang, merenung, dan menghitung jejak-jejak kehidupan yang telah terlampaui.
Ramadhan demi Ramadhan telah berlalu. Dulu kita menyambutnya dengan tubuh yang kuat dan langkah yang ringan. Kini, mungkin lutut tak lagi sekuat dulu, mata tak lagi seterang masa muda, pendengaran menurun dan ingatan tentang sahabat-sahabat lama sering datang seperti angin yang membawa aroma masa silam. Dahulu, mereka pernah ada di sini, di tempat ini, di bumi ini.
Di usia yang mulai menua, Idul Fitri terasa bukan sekadar hari raya. Ia seperti pintu pengingat, bahwa perjalanan hidup tidak selamanya panjang.
Allah SWT mengingatkan manusia tentang hakikat waktu dalam firman-Nya, QS. Al-‘Asr ayat 1-3
وَالْعَصْرِۙ
“Demi masa,”
QS. Al-‘Aṣr[103]:1
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
“sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,”
QS. Al-‘Aṣr[103]:2
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ
“kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”
QS. Al-‘Aṣr[103]:3
Ayat yang pendek itu seakan menjadi cermin yang jujur bagi perjalanan hidup manusia. Waktu terus berjalan, sementara amal kitalah yang menentukan apakah kita termasuk orang yang beruntung? atau justru merugi? Semoga kita mendapatkan rahmatNya.
Idul Fitri pada usia digerbang senja, sering menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa syukur karena Allah SWT masih memberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan. Namun, di sisi lain, ada juga rasa malu yang pelan-pelan, sunyi mengetuk hati.
Berapa banyak Ramadhan yang telah kita lalui?
Berapa banyak ayat Al-Qur’an yang telah kita baca?
Dan berapa banyak yang benar-benar hidup dalam perilaku kita?
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini seperti pelukan bagi hati manusia yang dipenuhi penyesalan.Sebab, usia yang menua sering membuat seseorang melihat hidupnya dengan lebih jernih — dengan bahasa air mata. Kita mulai menyadari bahwa tidak semua waktu digunakan untuk kebaikan. Ada kesempatan yang terlewat, ada ibadah yang tertunda, ada dosa yang mungkin pernah dianggap kecil. Ujub, mungkin kita tak sadari….Merasa lebih satu kasta di atas dari lainnya.
Namun, justru di situlah makna Idul Fitri di usia kita yang tak muda lagi menemukan kedalamannya.
Hari raya ini bukan sekadar perayaan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah simbol kembalinya manusia kepada fitrah—kepada keadaan hati yang bersih, seperti bayi yang baru dilahirkan, atau kertas putih yang belum kena tinta.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Janji pengampunan inilah yang membuat takbir Idul Fitri terasa begitu agung. Ia bukan hanya seruan kemenangan, tetapi juga kabar gembira bagi jiwa – jiwa yang lelah oleh dosa.
Di usia kita yang rambut sudah berkelir dua, Idul Fitri sering terasa seperti sebuah undangan dari lagit untuk pulang.
Pulang kepada Allah.
Pulang kepada kesederhanaan hidup.
Pulang kepada hati yang lebih jujur dalam memandang dunia.
Sebab, semakin jauh seseorang berjalan dalam kehidupan, semakin ia mengerti bahwa dunia hanyalah persinggahan yang singkat. Seperti yang diingatkan Allah dalam Al-Qur’an, QS. Al-Hadid ayat 20
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Di titik inilah, Idul Fitri menjadi momentum yang sangat amat pribadi. Ia tidak lagi sekadar tentang pakaian baru, kuliner khas lebaran, atau kunjungan keluarga. Ia adalah bak cermin, kita berdiri hadapannya — dan bertanya dengan jujur:
Apakah hidupku sudah cukup dekat dengan Allah?
Barangkali karena itulah banyak orang yang meneteskan air mata di pagi Idul Fitri. Bukan karena sedih, tetapi karena hati merasa disentuh oleh rahmat yang begitu luas.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa manusia yang bijak adalah mereka yang menjadikan waktu sebagai cermin untuk melihat dirinya sendiri. Sebab setiap detik yang berlalu adalah bagian dari perjalanan menuju akhirat.
Dan, pada usia kita yang sudah kenyang pada aneka getir, pahit kehidupan — Idul Fitri seakan menjadi pengingat lembut bahwa perjalanan itu mungkin tidak lagi terlalu panjang.
Namun selama nafas masih berhembus, pintu taubat tetap terbuka, Allah SWT berfirman:
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
QS. Az-Zumar[39]:53
Ayat ini seperti cahaya yang menenangkan hati orang-orang yang merasa hidupnya dipenuhi kekurangan, amal kebajikan.
Karena pada akhirnya, Idul Fitri bukan tentang siapa yang paling sempurna. Ia adalah tentang siapa yang paling tulus kembali kepada Allah.
Maka, di usia kita yang sudah bermain dengan cucu.—- takbir Idul Fitri terdengar seperti bisikan dari langit yang amat sangat lembut:
Masih ada waktu.
Masih ada kesempatan.
Masih ada jalan pulang.
Dan, selama hati masih mampu berkata astaghfirullah, perjalanan menuju kepada Allah, belum benar-benar terlambat.
Selamat Idul Fitri, Ibuku, Ayahku, suamiku, istriku, anaku, saudaraku dan para sahabat serta mantemanku semua……
Semoga kita kembali kepada fitrah—dengan hati yang lebih lapang, iman yang lebih matang, dan harapan yang lebih tenang dalam menata, menatap sisa perjalanan kehidupan. Semoga kita dipertemukann kembali pada ramadhan dan Idul Fitri yang akan datang. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin. (KH/***)
