Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Aku merasakan ada perasaan yang datang tanpa aba-aba — seperti juga pada dirimu. Rasa itu seperti mengetuk, dan tidak pula meminta izin. Tumbuh begitu saja, diam-diam, lalu suatu hari kita tersadar: ada getar yang tak lagi bisa disangkal. Begitulah barangkali kisah ini bermula.
Dari percakapan sederhana, dari tawa yang mengalir tanpa dibuat-buat, hingga dari ruang-ruang sunyi bernama pesan singkat yang tiba-tiba terasa begitu hangat, hidup dan indah ….
Namun, di balik kehangatan itu, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi: rasa bersalah yang halus, nyaris tak terdengar, tetapi menetap. Rasa itu hadir setiap kali kedekatan itu melampaui batas kata, ketika peluk, meski hanya dalam bayang—terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut kebetulan.
Hati yang sering kali kita kira mudah diajak kompromi, justru diam-diam menyimpan kompasnya sendiri.
Kisah ini tidak dimulai dari perjalanan panjang. Hanya beberapa kali pertemuan—empat kali, mungkin tak lebih dalam rentang waktu tujuh semester.
Pertama, di sebuah acara besar, ketika senyum terlepas begitu saja, ringan dan tulus. Kedua, dalam sebuah kebetulan yang nyaris seperti skenario takdir: salah naik bus….ganti bus, turun diterminal bayangan pada senja yang menunggu. Akhirnya, kita berangkat bersama……
Selebihnya, percakapan seperti arus sungai mengalir — menemukan jalannya sendiri, tanpa kikuk, tanpa jeda, tanpa jarak yang berarti.
“Seperti teman lama yang lama tak berjumpa,” begitu katamu suatu waktu. Dan, dalam diam, hati ini mengamini.
Tetapi hidup, seperti banyak yang terjadi, tidak pernah sesederhana perasaan. Hidup selalu membawa konteks, membawa latar, membawa realitas yang tak bisa dihapus hanya dengan keinginan untuk merasa bahagia.
Status mu yang disebut “abu-abu” menjadi garis samar, justru paling terang dan tegas dalam renung duduku. Di satu sisi, ada keyakinan bahwa dirumu telah hidup sendiri, mandiri, seolah telah lepas dari ikatan lama. Namun di sisi lain, masih ada bayang-bayang yang belum benar-benar selesai, ditutup dengan terang.
Di titik inilah, cinta diuji bukan oleh kuatnya rasa, melainkan oleh kejernihan sikap.
Pandangan keluarga pun terbelah. Mereka, dengan cara sudut logika masing-masing dalam membaca situasi ini. Ada yang memberi restu, melihat kemungkinan bahagia di ujung jalan.
Namun, tak sedikit yang menahan, mempertanyakan, bahkan menolak—bukan tanpa alasan. Sebab mereka tahu, hubungan yang dimulai dari wilayah yang samar, sering kali berakhir dalam luka yang nyata.
Di tengah semua itu, pertanyaan sederhana justru menjadi paling sulit untuk dijawab: akan dibawa ke mana hubungan ini?
Jawabannya, barangkali, tidak terletak pada seberapa dalam rasa yang telah tumbuh. Sebab rasa, betapapun kuatnya, tidak pernah cukup menjadi fondasi jika ia berdiri di atas ketidakjelasan.
Hubungan, seperti bangunan, membutuhkan kepastian—tentang status, tentang arah, tentang kesiapan menghadapi segala konsekuensi yang menyertainya.
Dan mungkin, di sinilah letak kedewasaan kita diuji.
Menjaga jarak, bukan berarti mematikan rasa. Menahan diri, bukan berarti mengkhianati cinta. Justru sebaliknya, itu adalah cara paling jujur untuk merawat sesuatu yang berharga — agar tidak rusak sebelum waktunya, agar tidak salah tumbuh di tanah yang belum siap.
Sebab, tidak semua cinta harus segera dimiliki.
Ada yang harus ditunggu hingga terang.
Ada yang harus diuji oleh waktu dan kejelasan.
Dan, ada pula…..jika memang ditakdirkan, akan menemukan jalannya sendiri, bukan dalam keraguan, melainkan dalam kepastian yang terang menderang serta menenangkan. (***)
