Humaniora
Beranda » Humaniora » [Puisi] Ketika Rasa Cinta Itu Kembali Bias

[Puisi] Ketika Rasa Cinta Itu Kembali Bias

(Foto ilustrasi - Istimewa)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Dalam renung dudukku….

Terngiang kalimat singkat yang kau kirim via whatsApp: “Izin ya…baiknya aku blok aja kali ya …( nomer hp) mu?” 

Sontak, aku jawab, ” Ya Allah…kenapa?”

Agak lama dirimu jawab — ternyata jawabmu elegan — jika tak dibilang untuk tak melanjutkan rasa perasaan kita ini. “Jangan aku jadi penyebab dirimu sedih dan sakit, karena diriku. Aku jadi merasa bersalah….Dan, aku tak bisa berbuat apa apa, kucuali berharap pada takdir Nya.” 

Menjaga Bara Ramadhan: Memaknai Puasa Syawal sebagai Jalan Istiqomah

Aku tenggelam dalam sedih — mendengar isi hatimu. Lebih sedih lagi, aku akan kehilangan energi dan semangat yang sudah kau semai dan sirami —  jika benar kita tak berkabar lagi.

Dalam renunganku, benar juga kata kalimatmu ya,  “Kembali ke niat awal, sandarkan pada takdir Nya. Segala sesuatu yang kita kerjakan, karena Allah SWT…..” 

Ada rasa senang, sedih bercampur pupus harapan, mengelantung di langit pikiranku.

Ya Allah, rasa hati yang salah alamat, sudah terlanjur ku tambatkan. Aku sadar,  langkah minor berpijak pada “pekarangan orang lain”, itu memang salah. Maafkan hambamu ini ya Robbi.

Sekenario hidup, hanya punya Mu ya Robbi. Jika memang aku hidup dialam tak abadi ini, tak harus punya cinta pada sosok yang Engkau ciptakan, aku ikhlas. 

[Puisi] Ketika Aku Harus Ikhlas Melepasnya

Kembalikan rasa hati ini untuk lebih bisa pulang lagi ke rumah….. seperti aku belum mengenalnya. 

Kini, aku mengambil jalan tengah….

Biar saja rasa ini menguap sebelum sempat berkembang. Sebelum rasa itu menjelma menjadi taman yang kita rawat bersama diam-diam dengan harapan yang tak semestinya tumbuh. Bukankah sejak awal kita tahu, koridor batas yang tak boleh kita langkahi, meski hati, seringkali, tak pandai membaca rambu? 

Kita pernah menyirami rasa itu bersama, dalam percakapan yang hangat, dalam tawa yang terlalu lama selepas senja — dalam diam yang terasa lebih berarti daripada kata. Namun semakin rasa itu tumbuh, semakin jelas pula bayang-bayang yang mengikutinya, bahwa yang aku rasakan ini adalah milik seseorang yang telah lebih dulu menggenggamnya dalam ikatan yang sah,  meski kini…..statusmu perlu dipertanyakan dalam agama. 

Aku memilih merelakan, bukan karena cintaku dangkal, tapi justru karena rasa itu sudah terlalu dalam untuk dibiarkan menjadi luka bagi banyak hati. Ada hal-hal yang tak harus dimiliki untuk tetap berarti. Ada perasaan yang cukup dikenang tanpa harus diperjuangkan. 

[Puisi] Ketika Rasa Cinta Itu Diuji

Biarlah rasa itu menguap perlahan, menjadi embun yang hilang sebelum matahari meninggi. Kita pernah hampir—dan mungkin ….., itu sudah cukup untuk dikenang tanpa perlu disesali dan bersedih.

Sebab, mencintaimu dalam diam, lalu melepaskanmu dengan sadar… adalah bentuk cinta yang paling jujur yang aku punya, mampu aku jaga…… (***)