Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Langkah kecilku ini mendadak gamang, seolah kehilangan arah, saat kau berkata: cukup, sampai di sini saja kita saling berkabar. Ada tetes air mata menganak sungai di pipi. Dan, hening jatuh tiba-tiba, sunyi yang tak bersuara. Namun, riuh di dada bergelora — antara percaya dan tidak perkataanmu di atas itu.
Aku terdiam, lalu perlahan menoleh ke dalam diri, bertanya lirih: di mana letak salahku?
Bukankah kita bersepakat, dalam diam yang khusyuk, untuk saling menguatkan? Kita rajut harap lewat do’a-do’a yang kita langitkan, berharap semesta — dan terutama hati-hati yang terikat pada kita memberi restu dan meridhoi langkah yang hendak kita tempuh. Kita percaya, setidaknya waktu itu, bahwa niat baik akan menemukan jalannya.
Namun, mencintaimu ternyata bukan perkara sederhana. Statusmu bagai kabut di pagi hari—ada, namun tak benar-benar jelas. Kau disebut memiliki, tapi juga seperti tak sepenuhnya dimiliki. Hadir, tapi samar. Ada, tapi seakan berada di antara ada dan tiada. Ya Allah….
Dan, aku pun tak jauh berbeda. Berdiri di persimpangan “yang sama”, membawa kerumitan yang tak kalah pelik. Kita seperti dua jiwa yang ingin saling menggenggam untuk bersatu, tapi terjerat oleh benang kusut takdir yang sulit diurai.
Mungkin, pada akhirnya, bukan soal siapa yang salah. Tapi tentang kenyataan bahwa tak semua rasa harus menemukan muaranya. Ada yang cukup menjadi pelajaran—tentang ikhlas yang diuji, tentang cinta yang tak selalu harus dimiliki, dan tentang keberanian untuk melepaskan, meski hati belum benar-benar rela….. (***)
