Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
( Seperti yang dituturkan Anne.Y.Wachyuni, S.Pd. pada penulis)
“Ada rindu yang ditakdirkan untuk ⁸dipertemukan. Ada pula rindu yang ditakdirkan hanya untuk disimpan dalam doa.”
Pada suatu sore yang lengang, di antara lalu lintas kata-kata yang berseliweran di media sosial, aku menuliskan sebuah kalimat sederhana di laman Facebook-ku:
Anganku melayang,
khayalku melambung,
asaku terbang tinggi ke sana.
Andai aku mampu,
aku ingin menjadi Sang Penunggang Angin,
bersamamu…
Aku tidak pernah menyangka, beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk ke kotak inbox.
“Sang penunggang angin tak pernah benar-benar hinggap menggapai asa, bahkan pada dedaunan yang baru tumbuh. Ia hanya meninggalkan jejak, menggetarkan ranting-ranting kecil yang dulu pernah bersahaja dalam cinta.”
Aku terdiam. Sontak jantungku mendadak berdebar, seperti seseorang yang baru saja menemukan kembali bagian dirinya yang telah lama hilang.
Ketika kubaca nama pengirimnya, waktu seakan berhenti bergerak. Jeda.
Dua puluh delapan tahun lenyap begitu saja. Aku kembali menjadi gadis sembilan belas tahun yang baru menjejakkan kaki di sebuah pulau bernama Batam.
Tanggal 10 Juli 1998.
Dimana NKRI sedang belajar bangkit dari krisis. Di sudut lain negeri, seorang gadis asal Bandung mengejar masa depan dengan koper kecil dan mimpi yang jauh lebih besar daripada usianya.

Namaku Amelia Julianti — disapa Amel.
Saat itu, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan elektronik milik Jepang yang berdiri megah di kawasan industri Batam. Perusahaan itu begitu kokoh hingga bertahun-tahun kemudian, badai pandemi pun tak mampu menggoyahkannya.
Pagi-pagi sekali aku biasa berangkat kerja.
Udara masih menyimpan embun.
Langit belum sepenuhnya terjaga.
Aku mengayuh sepeda ungu kesayanganku dari asrama menuju pabrik.
Di jalan-jalan yang masih basah oleh sisa malam, aku sering menjadi pusat perhatian. Mungkin karena rambut panjangku yang ikal, mungkin karena senyum yang selalu kubagikan kepada siapa pun yang berpapasan.
Aku tidak pernah tahu bahwa pada pagi-pagi yang biasa itulah takdir sedang diam-diam menulis sebuah cerita.
Hari itu aku tiba di area produksi tepat pukul 06.45.
Suara mesin-mesin mulai meraung.
Lampu-lampu neon menyala terang.
Seperti biasa aku berjalan menuju pos kerjaku.
Lalu aku melihatnya.
Seorang pria berdiri beberapa meter di depanku.
Tatapannya mengarah kepadaku.
Ia mendekat.
Tersenyum.
“Pagiii…”
“Pagi,” jawabku singkat.
Hanya itu.
Namun esok harinya ia melakukan hal yang sama.
Dan keesokan harinya lagi.
Lalu lagi.
Dan lagi.
Sampai sapaan sederhana itu berubah menjadi rutinitas yang diam-diam kutunggu setiap pagi.
Suatu hari aku memberanikan diri mencari tahu siapa sebenarnya pria itu.
Namanya Erwin Erlangga Nasution.
Lelaki asal Palembang.
Alumni Universitas Sumatera Utara.
Seorang teknisi.
Kulitnya terang.
Matanya cokelat.
Rambutnya ikal sebahu.
Ia berkumis dan berjanggut tipis.
Penampilannya santai dengan topi terbalik yang menjadi ciri khasnya.
Tidak ada percakapan panjang di antara kami.
Tidak ada pengakuan cinta.
Tidak ada janji.
Hanya tatapan.
Namun kadang-kadang, justru tatapan adalah bahasa paling jujur yang pernah diciptakan Tuhan.
Sebab kata-kata bisa berbohong.
Mata tidak.
Aku masih mengingat bagaimana sepasang mata cokelat itu menembus keramaian pabrik, melewati deru mesin dan hiruk-pikuk produksi, lalu berhenti tepat di hatiku.
Di antara ribuan pekerja yang lalu lalang, entah mengapa aku merasa sedang ditemukan.
Tahun-tahun berlalu.
Hidup membawa kami ke arah yang berbeda.
Takdir yang tidak pernah meminta izin sebelum mengubah segalanya akhirnya menjauhkan kami.
Aku pulang ke Bandung.
Ia tetap menjalani hidupnya.
Kami tidak pernah menjadi “kita”.
Yang tersisa hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang tidak sempat lahir.
Dan seperti banyak kisah yang tak selesai, cinta yang tidak pernah memiliki akhir justru lebih lama tinggal di ingatan.
Sampai suatu malam.
Puluhan tahun kemudian.
Pesan itu datang.
Pesan yang membuka kembali pintu kenangan yang selama ini kukunci rapat.
Ia meminta maaf.
Berulang kali.
Seolah-olah selama bertahun-tahun hidupnya dihantui oleh sesuatu yang belum sempat diselesaikan.
“Aku masih mencintaimu, Amel.”
Kalimat itu muncul di layar.
Sederhana.
Namun mampu mengguncang seluruh benteng yang selama ini kubangun.
Aku membaca pesan itu dengan mata yang mulai basah.
Bukan karena berharap masa lalu kembali.
Melainkan karena aku tahu, beberapa luka memang sembuh, tetapi bekasnya tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam dunia tasawuf, para arif mengajarkan bahwa cinta adalah kendaraan menuju Tuhan.
Namun tidak semua cinta harus dimiliki.
Ada cinta yang diperintahkan untuk dilepaskan agar jiwa belajar tentang keikhlasan.
Ada rindu yang sengaja dipelihara agar manusia memahami bahwa tidak semua yang dicintai harus menjadi miliknya.
Bukankah Nabi Ya’qub menangis karena rindu kepada Yusuf?
Bukankah kerinduan juga bagian dari bahasa ruh?
Yang membuatnya berbeda hanyalah ke mana rindu itu diarahkan.
Jika rindu menjauhkan kita dari Allah, ia menjadi ujian.
Jika rindu mengembalikan kita kepada Allah, ia menjadi jalan pulang.
Malam itu aku sadar.
Aku dan Erwin bukan lagi dua anak muda yang sedang menunggu jawaban cinta.
Kami adalah dua jiwa yang telah dipisahkan oleh takdir dan dipertemukan kembali hanya untuk belajar menerima.
Bukan memiliki.
“Lupakan aku, Bang.”
Kalimat itu kutulis dengan tangan gemetar.
“Cintailah istrimu. Dia berhak atas seluruh cintamu.”
Di balik kalimat itu ada air mata yang tak terlihat.
Ada pertempuran yang tak terdengar.
Sebab melepaskan seseorang yang pernah menjadi rumah bagi hati bukanlah perkara sederhana.
Tetapi cinta sejati tidak selalu meminta untuk bersama.
Kadang cinta justru mengajarkan bagaimana merelakan.
Karena cinta yang dewasa bukan tentang siapa yang berhasil memiliki.
Melainkan siapa yang mampu menjaga yang dicintainya tetap berada di jalan yang diridhai Tuhan.
Sejak malam itu, Erwin menghilang.
Tak ada lagi pesan.
Tak ada lagi sapaan.
Tak ada lagi puisi-puisi yang menemaniku sebelum tidur.
Ia pergi seperti angin.
Datang tanpa bisa digenggam.
Pergi tanpa bisa ditahan.
Namun sebagian dirinya masih tertinggal dalam ruang-ruang sunyi di hatiku.
Ruang yang tak bisa dimasuki siapa pun.
Ruang yang hanya berisi kenangan.
Kini aku mengerti.
Rindu bukanlah musuh yang harus dibunuh.
Rindu adalah guru.
Ia mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki kuasa atas hatinya.
Bahwa ada rasa yang dititipkan Tuhan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dipahami.
Aku masih merindukannya.
Tetapi aku tidak lagi meminta takdir mempertemukan kami.
Karena ada cinta yang memang ditulis Tuhan hanya untuk dikenang.
Seperti bintang yang tak pernah turun ke bumi.
Ia jauh.
Tak tergapai.
Namun cahayanya tetap terlihat.
Dan mungkin memang begitu seharusnya.
Malam ini aku menengadah ke langit.
Kupanjatkan doa yang sama seperti dahulu:
“Ya Allah, jika rindu ini adalah ujian, jadikan ia jalan menuju-Mu. Jika cinta ini adalah luka, jadikan ia penghapus dosaku. Jika kenangan ini adalah beban, jadikan ia cahaya yang membimbingku menuju keikhlasan.”
Sebab pada akhirnya, semua cinta manusia akan berakhir.
Semua pertemuan akan berpisah.
Semua kenangan akan memudar.
Yang abadi hanyalah Dia, Sang Pemilik Hati.
Dan kepada-Nya pula seluruh rindu akan kembali.
Selamat tinggal, Bang Erwin.
Jika benar cinta tidak pernah mati, biarlah ia hidup sebagai doa.
Bukan sebagai penyesalan.
Bukan sebagai dosa.
Melainkan sebagai pelajaran tentang bagaimana mencintai tanpa harus memiliki.
Dan tentang bagaimana merindukan tanpa harus kembali.
Karena mungkin, rindu yang paling suci adalah rindu yang telah selesai meminta untuk dipertemukan.
Versi ini mempertahankan inti kisah Anda, tetapi lebih kuat dalam unsur feature jurnalistik, refleksi filosofis, dan perenungan tasawuf sehingga pembaca tidak hanya mengikuti alur cinta Amel dan Erwin, melainkan juga diajak merenungi makna takdir, rindu, ikhlas, dan perjalanan jiwa menuju Tuhan.
