Humaniora
Beranda » Humaniora » Seni Memenangkan Hati Saat Hidup Nyaris Tak Mampu Dikendalikan

Seni Memenangkan Hati Saat Hidup Nyaris Tak Mampu Dikendalikan

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

Yang tersisa kini hanya satu kata: Berserah.
Bukan berarti menyerah atau berhenti berjuang untuk bisa memiliki hatinya. Aku tetap melangkah, namun tanpa gaduh. Aku memilih jalan sunyi yang dipenuhi do’a-do’a yang melangit, tanpa lagi memaksakan kehendak kepada siapa pun. Sebab, tidak semua yang dicintai harus dimiliki, dan tidak semua yang pergi harus dikejar hingga kehilangan harga diri sendiri.

Kini  aku belajar, bahwa tidak segala sesuatunya harus berada di bawah kendaliku. Ada saat ketika hidup harus dibiarkan mengalir sebagaimana air menemukan jalannya sendiri menuju muara. Dan, dia yang telah pergi, mungkin sedang mencari lautnya sendiri, sebagaimana aku sedang mencari Tuhanku.

Aku tak lagi mampu menerka arah do’a yang dipanjatkannya di ujung sajadah yang basah. Mungkin ia pergi hanya untuk mengambil jeda dari segala yang melelahkan. Mungkin pula ia memang sedang mengikuti panggilan hatinya untuk terbang lebih bebas. Aku tidak tahu….

Namun, perlahan aku belajar. Bahwa, mengetahui segala jawaban bukanlah syarat untuk mendapatkan ketenangan.
Sebab, yang membuat hati damai bukanlah kepastian tentang manusia, melainkan keyakinan kepada Pemilik manusia.

Untuk aku, semua itu tak lagi terlalu penting buatku. Selama aku masih mampu melepaskan tanpa membenci, merelakan tanpa mengutuk, dan menerima tanpa menggugat takdir-Nya.

Rindu Yang Tak Diizinkan LangitKetika Cinta Menjadi Jalan Pulang Menuju Keikhlasan

Yang aku pentingkan, tdak kehilangan ingatan pun, aku sudah bersyukur atas cobaan-Mu, ya Rabb.
Karena ada banyak orang yang kehilangan lebih dari sekadar cinta. Ada yang kehilangan arah hidupnya. Ada yang kehilangan akal sehatnya. Ada yang kehilangan harapan, hingga tak mampu lagi melihat fajar sebagai rahmat.

Sementara, aku masih Engkau izinkan menyebut nama-Mu dalam sujud. Masih Engkau beri air mata untuk mengetuk pintu langit. Masih Engkau beri kesempatan untuk menata hati yang berserakan.

Bukankah Engkau telah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Maka, apa lagi yang harus kusesali jika yang pergi ternyata bukan yang terbaik untuk perjalanan ruhku?
Para arif mengajarkan bahwa cinta manusia sering kali menjadi jalan untuk mengenal cinta yang lebih tinggi.

Kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati, lalu Allah menunjukkan betapa rapuhnya tempat bergantung selain kepada-Nya.
Saat itulah kita mengerti, bahwa kehilangan bukan semata-mata hukuman. Kadang itu cara Allah membersihkan ruang di dalam dada agar hanya Dia yang menjadi penghuni utamanya.

[Cerpen] Mata Air Tak Pernah Menjadi Anak Sungai

Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya.”
(HR. Muslim)

Maka, jika perpisahan ini datang sebagai takdir, aku ingin menerimanya sebagai bagian dari kebaikan yang belum mampu kubaca hari ini.
Barangkali, suatu saat nanti aku akan memahami mengapa do”a-do’aku tidak dijawab dengan cara yang kuinginkan.
Barangkali, kelak aku akan tersenyum ketika melihat ke belakang dan menyadari bahwa Allah sedang menyelamatkanku dari sesuatu yang tidak mampu kulihat.
Karena itu, aku tak lagi meminta agar dia kembali.

Aku hanya meminta agar hatiku tetap baik meski ditinggalkan.
Aku tidak lagi memohon agar semua berjalan sesuai harapanku.
Aku hanya memohon agar langkahku tetap berada dalam ridho-Mu.
Jika ia memang ditakdirkan kembali, biarlah ia datang melalui pintu yang Engkau bukakan, Engkau ridhoin
Namun jika tidak, cukupkan aku dengan ketenangan yang berasal dari-Mu.
Sebab, pada akhirnya, tujuan perjalanan ini bukanlah menemukan seseorang yang tinggal.Melainkan menemukan hati yang tetap tenang — sebab siapa pun bisa pergi.

Dan mungkin, di situlah makna berserah yang sesungguhnya:
Bukan ketika semua harapan telah mati.
Melainkan ketika kita masih memiliki harapan, namun memilih meletakkannya dengan begitu lembut di hadapan Allah seraya berkata,
“Ya Rabb, aku telah berusaha menjaga cinta ini. Kini aku titipkan semuanya kepada-Mu. Jika ia baik untuk dunia dan akhiratku, dekatkanlah. Jika tidak, maka lapangkanlah dadaku untuk menerima keputusan-Mu. Karena Engkau lebih mengetahui isi takdirku daripada aku sendiri.”
*****
Depok, 4 Juni 2026.

Meraba Takdir di Sepertiga Malam