Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Ada Apa Dengan Paramitha

[Cerpen] Ada Apa Dengan Paramitha

(Foto ilustrasi - Stock.adobe.com)
(Foto ilustrasi - Stock.adobe.com)

Oleh: Imam M.Nizar

Saatnya esok, Riant akan memasuki ujian les gitar di perguruan nonformal yang dikelola oleh seorang selebritas pesohor di negeri ini.

Ujian tersebut bagi, Riant “anugerah” tersendiri. Sebab, Riant bukan dari kalangan keluarga berada. Ia tak lain anak dari pedagang sayur di sebuah pasar di bilangan Jakarta Timur.

Dan, mampu mengikuti pendidikan non formal, seperti les gitar dan jurnalistik di tempat yang tak murah untuk ukuran kocek seorang Riant. 

Keuntungan dari jualan sayur di lapak sebelah orang tuanya itu, sedikit demi sedikit ia kumpulkan untuk bisa ikut serta les gitar dan pendidikan jurnalistik di Jakarta Pusat. Hidup prihatin selepas lulus SMA menjadikan Riant  ingin pencarian jati dirinya terlihat lebih jelas. 

[Cerpen] Ketika Harapan Fauzar Pudar

Gagal lamarannya ke beberapa BUMN dan Bank Bank —- menjadikan Riant fokus akan kebisaannya sendiri, seperti menulis cerpen dan menciptakan lagu di ruang waktu berbarengan. 

Cerpen pertama Riant dimuat oleh Majalah ternama di negeri ini ketika Riant masih duduk di bangku SMA kelas dua, jurusan IPA. Lagu pertama yang diciptakan masih dalam proses seleksi oleh para produser ternama. Riant giat dalam pencarian jati diri. Setelah memang lelah dan gagal melamar ke instansi pemerintahan. Ia ngebatin: Aku akan fokus menjadi cerpenis yang produktif. Atau pencipta lagu —- tak pernah terbesit ia jadi wartawan. 

“Tolong jari manis, tengah dan telunjuk jangan kaku untuk memetik dawai gitar. Perhatikan baca not dan tekan senar di jari kiri ya…,” pinta Dosen tamu bernama Paramitha Wulandari — disapa Wulan saat Riant ujian gitar. 

Dosen tamu tersebut wajahnya tak asing bagi Riant dan kebanyakan orang yang kerap menonton televisi. Wulan adik dari ketua yayasan dari perguruan nonformal itu, sesekali tampil di layar televisi, terkadang bareng dengan sang kakak. 

Riant masih tertegun ketika melihat sosok Paramitha Wulandari — yang akrab disapa Wulan itu — melangkah anggun di Studio 7 TVRI sore itu. Lampu-lampu sorot memantulkan kilau rambut hitamnya yang terurai, gaun sederhana namun elegan membalut tubuhnya. 

[Cerpen] Sepasang Sandal di Teras Masjid

Senyum yang pernah ia lihat di layar televisi, kini hadir di hadapannya, nyata. Bukan lagi sekadar wajah di layar kaca, melainkan sosok yang pernah membimbing jemarinya menyentuh nada demi nada pada gitar. 

Suara Wulan lembut, tapi tegas. “Jangan buru-buru, Riant. Rasakan alurnya… musik itu bukan hanya nada, tapi juga cerita,” ucapnya, sambil memperagakan petikan gitar yang membuat hati Riant serasa terseret masuk ke dalam lagu yang dimainkan oleh Paramitha Wulandari itu. 

Riant berusaha fokus pada senar gitar, namun matanya sesekali mencuri pandang ke wajah Wulan. Ia ingat betul, dulu Wulan hanyalah “dosen tamu” di perguruan nonformal itu. 

Tapi kini, ia menjelma menjadi artis sinetron dan penyanyi yang kerap menghiasi layar televisi nasional. Sebuah transformasi dahsyat —  yang  bagi Riant, bukan sekadar soal popularitas — melainkan bukti bahwa mimpi bisa menjadi nyata. 

Pertemuan itu menjadi titik balik. Sejak hari itu, setiap kali Riant bertugas sebagai wartawan musik, langkah kakinya tak jarang membawanya ke panggung, konferensi pers, atau lokasi syuting di mana Wulan tampil. Hubungan mereka sebatas formal — wawancara singkat, sapaan singkat — tapi bagi Riant, momen-momen itu adalah “koleksi berharga” yang disimpan di sudut hatinya. 

[Cerpen] Sepatu Hitam untuk Ibu

Saking kagumnya, saat Riant menikah dengan seorang guru TK yang lemah lembut, ia sudah memutuskan jauh sebelum anak pertamanya lahir: bila kelak bayi itu perempuan, ia akan menyandang nama yang sama dengan Wulan, yang diambil dari bahasa Sanskerta, bermakna “permata yang penuh kasih”. 

Ketika putri kecil itu lahir, Riant memandang wajah mungilnya, usai mengumandangkan suara azan di telinganya, Riant berbisik, “Selamat datang di dunia, Paramitha…” 

Ia tersenyum. Nama itu bukan sekadar panggilan. Bagi Riant, itu adalah simbol kekaguman, semangat, dan mimpi yang tak pernah padam. 

Dan entah kenapa, setiap kali ia memanggil “Mitha…”, seolah terdengar gema halus petikan gitar dan senyum seorang wanita yang dulu mengajarinya, bahwa musik dan hidup memiliki irama yang harus dinikmati perlahan.

Meskipun, sulung dari pasangan Riant dan guru TK itu tak jadi penyanyi atau  bintang sinetron, namun kecerdasannya tak diragukan. Lulus dari Universitas Indonesia FMIPA jurusan Kimia dan dapat biasiswa dari BTADN. 

Hujan turun tipis sore itu, membasahi halaman parkir gedung konser di bilangan Jakarta Selatan. Riant bergegas menutup kamera di dalam tas, lalu masuk ke lobi tempat konferensi pers akan dimulai. Di balik pintu kaca, ia melihat kerumunan wartawan, lampu blitz, dan… Wulan. 

Bukan sekadar Wulan yang ia kenal dulu — kini ia berdiri di podium, gaun putih sederhana membingkai sosoknya, namun matanya menyimpan kilau lelah yang tak bisa disembunyikan. Senyum tetap terukir di bibirnya, tapi ada jeda panjang setiap kali ia menjawab pertanyaan, seolah menimbang kata-kata agar tak salah diinterpretasikan. 

Riant berdiri di belakang, mencoba menyimak. Saat salah satu wartawan menyinggung rumor yang beredar di media gosip—tentang hubungan Wulan dengan produser terkenal — ia melihat jelas jemari Wulan mengepal di sisi tubuhnya. 

Ketika sesi konferensi selesai, kerumunan wartawan berhamburan mengejar narasumber lain. Riant menunggu. Hanya ia yang tersisa di lorong belakang panggung. Lalu Wulan lewat, menunduk sedikit, baru menyadari kehadirannya. 

“Riant?” suara itu lirih, nyaris tak percaya. “Iya… sudah lama sekali,” jawab Riant, mencoba tersenyum meski jantungnya berdegup. 

Ada jeda singkat. Wulan menatapnya, dan di matanya Riant membaca sesuatu yang sulit diartikan—antara lega, rindu, dan kelelahan jawab-jawab teman wartawan saat konferensi pers tadi.

“Kadang… rasanya semua orang hanya mau tahu ceritaku, tapi bukan aku,” ucap Wulan pelan. 

Riant ingin berkata banyak, ingin menanyakan banyak hal—tentang hidupnya, tentang musik, tentang mengapa matanya kini tampak berbeda dari yang ia ingat. Tapi ia hanya mampu berkata, “Kalau butuh seseorang untuk dengar… aku masih di sini.” 

Wulan tersenyum samar. “Kau memang tak pernah berubah,” candanya. “Eh …., masih sering ketemu Kak Dian, guru gitar harianmu itu, ” lanjut Wulan. Dengan senyum tipis dan menggelengkan kepala, seolah Riant menjawab pertanyaan Dosen tamunya itu yang menjelma jadi artis top, sinetron dan penyanyi. 

Di luar, hujan mulai reda. Tapi di hati Riant, sesuatu justru baru saja dimulai — perasaan lama yang tak pernah benar-benar padam, kini bergelora kembali, bercampur rasa ingin melindungi, meski ia tahu, jarak,  waktu dan segalanya telah membentuk tembok di antara mereka. (KH/***)

=============

Untuk Putri Sulung Kami: Paramitha Yunizar Sari