Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd
Yang lazim kita rasakan dan saksikan sekarang ini, dunia yang kian bising oleh pujian dan pencitraan. Di tengah hiruk pikuknya, ada banyak orang yang rajin menumpuk amal seperti menimbun harta — semoga tak jadi harta qorun semata.
Sholatnya panjang, sedekahnya rutin, lisannya tak pernah kering dari zikir. Namun, di balik dinding hatinya, terselip rasa bangga yang diam-diam tumbuh menjadi pohon ujub yang menjulang. Ia merasa sudah cukup dekat dengan surga, seolah tiket keabadian telah berada di tangannya.
“Jangan bangga dengan amal, karena surga bukan milik orang yang banyak amal, tapi milik orang yang diterima amalnya,” tutur Ustaz Abdul Somad, dalam salah satu tausiyahnya via saluran resmi WhatsApp.
Kalimat singkat itu terdengar sederhana, namun tajamnya mampu menembus ke relung hati manusia paling dalam.
Betapa banyak di antara kita yang sibuk menghitung amal. Akan tetapi lupa menimbang keikhlasan. Seperti orang yang rajin menanam, namun tak pernah menyiram. Ia lupa, tanaman amal tidak tumbuh karena kesibukan tangan, melainkan karena hujan rahmat yang turun atas izin-Nya.
Amal yang Tak Diterima
Ibadah tanpa keikhlasan hanyalah gerak tubuh tanpa ruh. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
“Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
QS. Al-Mā’idah:27
Artinya, bukan banyaknya amal yang menjadi penentu, melainkan ketundukan hati di balik amal itu sendiri. Amal yang lahir dari riya dan ujub justru menjadi beban, bukan bekal. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW
“Barang siapa yang beramal karena riya, maka Allah akan membalas riya-nya itu (dengan kehinaan di hari kiamat).”
— (HR. Ahmad)
Maka, sungguh malang nasib orang yang beribadah bukan untuk Allah, melainkan untuk memantulkan cahaya dirinya sendiri atau meninggikan menara hati. Ia sholat agar tampak saleh, ia sedekah agar dikenal dermawan. Lalu, ketika pujian datang, ia merasa tinggi, terbuai dan di situlah segala amalnya melorot runtuh tanpa disadari.
Lupa Sang Pemberi Rezeki
Dii sisi lain kehidupan, ada pula manusia yang seolah punya alasan paling logis untuk menjauh dari Allah. Semisal, sibuk mencari rezeki. Ia tinggalkan subuh karena lelah bekerja, ia lewatkan zuhur karena rapat penting, ia tunda ashar karena klien menunggu. Mahrib dalam perjalanan dan terjebak macatnya lalu lintas dan lain sebagainya.
Lantas, kata Gus Baha, dalam satu tausiyah pendeknya.
“Jangan jadi manusia bodoh yang meninggalkan Sang Pemberi Rezeki dengan alasan mencari rezeki,” ujar Gus Baha.
Ini sebuah sindiran halus, namun menusuk, bagi mereka yang menjadikan kesibukan dunia sebagai pembenaran untuk lalai dari Sang Pencipta dunia.
Padahal, rezeki bukan hasil dari kerja keras semata. Seandainya rezeki bergantung pada kemampuan, niscaya burung yang lemah tak akan makan, dan semut yang kecil tak akan bertahan hidup. Namun Allah telah berfirman.
Allah SWT berfirman:
۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
“Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
QS. Hūd:6
Ayat ini seakan menampar kesadaran manusia modern yang terlalu percaya pada sistem, target, dan gaji bulanan, hingga lupa bahwa semua itu hanyalah jalan, bukan sumber.
Ujub dan Lalai: Seperti Dua Sisi Mata Uang, Wajah dari Satu Kelalaian
Jika diselami, pesan Ustaz Abdul Somad dan Gus Baha sejatinya berada dalam satu tarikan napas spiritual yang sama. Keduanya memperingatkan tentang bahaya hati yang terjebak antara ujub dan lalai.
Ujub adalah penyakit orang saleh.
Sementara, lalai adalah penyakit orang sibuk. Hem ….ya ya ya. Yang pertama, merasa sudah cukup beramal, yang kedua merasa belum cukup berusaha. Keduanya sama-sama menyingkirkan Allah dari pusat kesadaran otak dan hati manusia.
Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Tidak akan masuk surga seseorang karena amalnya.”
Para sahabat bertanya, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku.”_
— (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan untuk mengecilkan nilai amal. Akan tetapi, untuk mengingatkan kita, bahwa rahmat Allah adalah penentu utama, bukan amal itu sendiri. Amal hanyalah jembatan. Sementara yang menuntun kita menyeberang adalah rahmat-Nya.
Cermin untuk Diri Sendiri
Di era ketika keikhlasan sulit dibedakan dari pencitraan, dan kerja keras seringkali jadi tameng untuk menghindari ibadah — kedua pesan, dari ustaz pesohor negeri ini, menjadi penuntun bagi jiwa yang mencari jalan pulang kepada-Nya.
Kita tak perlu menampakkan amal, sebab cahaya tak pernah butuh pengumuman.
Kita pun tak perlu khawatir pada rezeki, sebab langit tak pernah lupa menurunkan hujan pada tanah yang sabar menunggu.
Barangkali, yang kita butuhkan hari ini bukan lagi semangat memperbanyak amal semata. Akan ttapi, kesadaran untuk memperbaiki niat. Bukan sekadar bekerja keras mencari nafkah, tapi memastikan langkah itu tetap berporos kepada Allah SWT.
Sebab, amal yang banyak tanpa diterima adalah debu yang tertiup angin.
Dan rezeki yang melimpah tanpa keberkahan hanyalah angka angka tanpa nilai makna.
Maka, berhentilah membanggakan diri di hadapan manusia, dan mulailah menunduk di hadapan Allah. Karena pada akhirnya, yang kita bawa ke liang lahat bukan jumlah amal, tapi amal yang diterima.
Dan yang menyambut kita di akhirat bukan gaji, tapi rahmat.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Kita semua milik Allah, dan hanya kepada-Nya kita akan kembali —- tanpa titel yang berentet, amal yang banyak, tanpa label kaya, hanya membawa hati yang tunduk dan amal yang diterima. (KH/***)
