Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Ketika hati tak terjalin, Fauzar seperti menelan sunyi dipeluk senyap. Bagaikan seseorang yang meneguk air laut, asin, perih atau minum godokan ramuan jamu, pahit, kecut, langu —- namun tak mampu ia tolak. Kata-kata Silva — wanita idamanya itu menggantung di udara, tidak jatuh, tidak pula menguap. Ia hanya ada, seperti takdir yang belum selesai ditulis.
Fauzar mengangguk pelan. Bukan karena mengerti sepenuhnya, melainkan karena sadar: ada ranah dalam diri manusia yang tak bisa dimasuki oleh siapa pun. Bahkan, oleh cinta yang paling bersungguh sungguh sekalipun.
“Tidak apa-apa,” ucap Fauzar, nelangsa dengan suara yang berusaha tegak, meski hatinya runtuh perlahan. “Mungkin aku yang terlalu jauh berjalan… sebelum kamu sempat melangkah.” lirihnya lagi.
Silva menunduk. Senja di atas gedung kampus menutup hari dengan warna tembaga, seakan langit pun sedang belajar merelakan terang.
Fauzar berbalik. Pamit. Langkahnya tidak cepat, tidak pula lambat—seperti seseorang yang sedang berdamai dengan kehilangan yang belum sempat ia miliki. Di kepalanya, percakapan demi percakapan yang dulu terasa hangat, kini menjelma gema yang kosong. Ia sadar, keyakinannya selama ini adalah tafsir sepihak atas isyarat yang belum tentu bermakna sama.
Dalam perjalanan pulang, Fauzar mulai menulis ulang makna cinta yang selama ini ia pahami.
Bahwa mencintai, dalam jalan tasawuf, bukanlah tentang memiliki—melainkan tentang mengikhlaskan tanpa kehilangan makna. Bahwa hati manusia bukan ladang yang bisa ditanami paksa, melainkan taman yang hanya akan berbunga bila ia sendiri merindukan hujan.
“Barangkali aku mencintaimu bukan untuk memilikimu,” bisiknya dalam hati, “Melainkan untuk belajar bagaimana melepaskan tanpa membenci takdir.”
Ia teringat satu ajaran yang pernah ia tulis di majalah nuansa religi:
“Cinta yang sejati adalah ketika engkau tetap mendo’akan dalam diam, bahkan setelah pintu itu tertutup rapat untukmu.”
Malam turun perlahan. Lampu-lampu jalan menyala, seperti harapan kecil yang tersisa di dada Fauzar. Ia tidak lagi mengejar bayangan Silva, tidak pula memaksa waktu untuk mengulang cerita. Dan, berusaha tak ingin menjapri, intip statusnya — Ia memilih berjalan maju dalam diam meski hatinya belum sepenuhnya pulih.
Sebab dalam diamnya, ia mulai memahami: bahwa tidak semua rasa harus berujung bersama, tidak semua do’a harus segera dikabulkan,dan tidak semua pertemuan diciptakan untuk menetap.
Ada cinta yang ditakdirkan hanya untuk mengajarkan kedewasaan, bukan kebersamaan.
Dan, Fauzar, malam itu, akhirnya belajar satu hal yang paling sunyi, namun paling agung:
merelakan dengan lapang dada adalah bentuk cinta yang paling tinggi. Semoga dirimu bahagia ya…. (***)
