Humaniora
Beranda » Humaniora » [Monolog] Sebegitu Hebatnyakah Sang Mantanmu? Membuat Kumbang Lain Merapat, Rontok Sebelum Waktunya

[Monolog] Sebegitu Hebatnyakah Sang Mantanmu? Membuat Kumbang Lain Merapat, Rontok Sebelum Waktunya

(Foto - Ilustrasi Jagonews)
(Foto - Ilustrasi Jagonews)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

Akhirnya tiba juga saatnya—sebuah titik sunyi di mana hati dipaksa dewasa oleh takdir yang tak bisa ditawar. Aku berdiri di ambang keikhlasan, menatap sisa-sisa kenangan yang dulu tumbuh seperti taman harapan: melangitkan do’a –  do’a, diberi pupuk kesabaran, disiramin kasih sayang dan dijaga dengan kesungguhan yang nyaris genap setahun lamanya. 

Namun, rupanya, tidak semua yang dirawat akan bersemi menjadi milik.

Dalam diam yang panjang, aku mulai mengerti—bahwa cinta bukan sekadar tentang memiliki, melainkan tentang memahami kehendak Yang Maha Membolak-balikkan hati. 

Ada rahasia yang tak selalu terjamah oleh logika. Dan, ada simpul-simpul rasa yang tak mampu diurai oleh kesetiaan semata. Dan mungkin, di sanalah letak ujian itu: ketika kita mencintai dengan sungguh, tetapi takdir memilih jalan yang berbeda.

[Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

Wanita yang kuharap menjadi pelabuhan—ternyata masih terikat pada bayang masa kelam. Bukan oleh raga, melainkan oleh sesuatu yang lebih halus, lebih dalam: sukma yang seakan terkunci oleh jejak yang belum tuntas. Bahkan, lebih gelap dan mengerikan dalam kenangan, jalani hidup. 

Ada permainan sunyi dipeluk senyap yang tak kasatmata. Ada ikatan yang tak terucap, namun kuat mencengkeram ruang batinnya. Dan, aku hanya seorang pejalan yang singgah secara alami, tanpa kuasa membuka pintu yang bahkan ia sendiri belum mampu membukanya. 

Maka, dengan lirih, aku belajar melepaskan. Bukan karena lelah mencintai. Tetapi karena sadar, bahwa memaksa adalah bentuk lain dari ketidakikhlasan. Dalam tasawuf hati, mencintai berarti merelakan—bahkan ketika relanya terasa seperti kehilangan arah. 

Aku kuburkan namanya bukan dalam benci, Insya Allah, melainkan dalam do’a yang tak lagi berharap kembali.

Biarlah ia menjadi bagian dari perjalanan ruhku, pelajaran tentang sabar, tentang batas antara ikhtiar, usaha dan takdir. Dan aku akan melangkah, membawa luka  ini —yang telah kuterangi penuh makna. Bahwa, setiap penolakan adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari sesuatu yang bukan hak kita. 

Mencintaimu Penuh Duri, Maaf Aku Pamit

Di ujung malam ini, aku tidak benar-benar kehilangan. Aku hanya sedang dikembalikan pada-Nya, yang tak pernah menolak cinta hamba-Nya.

Akhirnya tiba juga saatnya — aku harus berani melupakan semua kenangan itu bersamanya. Dan, Insya Allah aku mampu mengubur namanya bersama penolakannya yang halus, juga atas kemenangan cara halus sang mantan. Mengunci sukmanya.

Depok 21 April 2026