Humaniora
Beranda » Humaniora » Mencintaimu Penuh Duri, Maaf Aku Pamit

Mencintaimu Penuh Duri, Maaf Aku Pamit

(Foto ilustrasi - Freepik)
(Foto ilustrasi - Freepik)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

Diantara kita, ada cinta yang tumbuh seperti ilalang liar, tak diundang, namun sulit dicabut dari tanah hati. Begitulah aku mencintaimu. Dan, sebaliknya: diam-diam, dalam-dalam, tumbuh alamiah tanpa hak, tanpa nama yang layak disebut di hadapan langit. 

Kau datang penuh luka yang belum benar-benar sembuh. Sebuah pernikahan yang katanya hanya tinggal bayang. Namun,  bayang itu masih saja menempel di setiap langkahmu. Katamu, ia telah pergi—tak lagi menafkahi, tak lagi pulang dengan tanggung jawab. Ternyata, “sang mantan” masih rajin “ngapel” — dengan alasan melihat  buah cinta untuk dibesarkan bersama sama dengan cara yang tak lajim. Unik, langka, tapi nyata…. 

Entah kenapa, jejak itu masih nampak, begitu kentara terasa — seperti do’a-do’a yang tak pernah benar-benar putus, atau mungkin ada sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kenangan.

Aku bertahan, menguatkan diri di antara duri-duri yang kutanam sendiri, dan kau sirami pula…. 

[Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

Mencintaimu berarti menerima kabut yang tak pernah sepenuhnya sirna. Itu resiko. Aku sadar. Aku mencoba menjadi rumah, meski aku tahu, statusku hanyalah singgah yang tak diakui. 

Dalam renung malamku penuh tanya: apakah ini cinta suci? Atau sekadar luka yang saling kita sembuhkan dengan cara yang keliru? Aku lelah… bukan karena berhenti mencintai, tapi karena terus mencintai tanpa arah yang pasti. 

Dan, kini aku mengerti—tidak semua yang kita perjuangkan harus dimenangkan. Ada yang harus dilepaskan agar tidak semakin kehilangan diri sendiri.

Maaf… jika langkahku kali ini terasa seperti pengkhianatan. Padahal ini adalah satu-satunya cara agar aku tidak mengkhianati nuraniku sendiri. Semoga paham….. 

Aku pamit.

[Monolog] Sebegitu Hebatnyakah Sang Mantanmu? Membuat Kumbang Lain Merapat, Rontok Sebelum Waktunya

Bukan karena cintaku habis, tapi karena aku ingin menyelamatkan sisa yang masih tersisa. Biarlah kau kembali menyelesaikan kisahmu, tanpa bayangku yang terus mengganggu —  buat ku, itu sebuah kemenangan sang mantan dari cara cara halusnya. 

Aku paham, demikian dirimu. Namun, kau tak sanggup lepas dalam jeratnya.

Dan aku… akan belajar merelakanmu, meski setiap hela napas masih menyebut namamu dalam diam, senyap dipeluk sunyi. 

Depok, 18 April 2026.

Parama Hansa Abhipraya Raih Rekor MURI, Anak 7 Tahun dengan Prestasi Multidisiplin Terbanyak