Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Langit Tangerang Selatan pagi itu seperti menahan napas.Tak hujan, tak pula benar-benar cerah—seolah ikut cemas bersama seorang ayah bernama Fauzar, turun dari mobil yang dikemudikan sendiri — menggegam, memapah erat putri keduanya, Sari. Jalannya tertatih tatih, menahan sakit dibagian perut sebelah kiri.
Fauzar terus memapahnya hingga ke depan pintu Instalasi Gawat Darurat.
Langkahnya tergesa, tapi hatinya seolah tertinggal di belakang—di antara do’a-do’a yang tercecer dan harapan yang tak sempat ia rangkai dengan rapi.
“Ya Allah… jangan Engkau uji aku lewat anakku,” lirihnya dalam hati.
Sari, putri keduanya itu, terbaring lemah di kursi dorong. Wajah yang biasanya cerah oleh semangat mencari rezeki kini pucat pasi seolah kehilangan warna dunia.
Padahal, perempuan itu dikenal sebagai mata air kebaikan, ditengah keluarga, serta dimana pun lingkungan dia berada —ringan tangan, tak pernah menghitung ketika memberi. Rezeki yang ia genggam, tak pernah lama singgah di tangannya, solah tak betah — selalu mengalir ke saudara, teman, dan siapa saja yang membutuhkan.
Namun pagi menjelang siang itu, tubuhnya sendiri seperti meminta pertolongan.
Rujukan dari faskes pertama, dokter menyebutkan: indikasi gangguan liver, bola matanya, agak menguning.
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Fauzar dan Sakinah, sang istri —- mendengarnya dari tempat mengajar, bagaikan menjelma menjadi badai. Di dalam ruang IGD, waktu kehilangan bentuknya. Detik tak lagi berdetak, seolah hanya berputar-putar seperti orang bingung. Bau obat menyengat bercampur dengan kecemasan menggantung di udara.
Suara monitor berdenging seperti dzikir tampa jeda serta patah-patah. Namun, yang paling terasa untuk pasien adalah: penuh.Terlalu penuh. Pasien membludak. Tak ada lagi tempat tidur yang layak. Sari pun hanya mendapat bangku sandar—dingin, keras, dan terasa begitu asing untuk tubuh yang sedang meminta dimanja oleh kesembuhan.
Fauzar menatap sekitar. Ada seorang ibu tua yang meringis pelan sambil memegang dada. Di sudut lain, seorang anak kecil menangis memanggil ibunya yang terbaring lemah — sebelum akhirnya, bocil tersebut di bawa keluar oleh anggota keluarganya. Di dekat pintu, seorang pria paruh baya hanya bisa terpejam, menahan sakit tanpa kata. Ada pula, kakek tua di dekat bangku duduk Sari, tak kuat lagi nahan nyeri: Teriak sebisanya….
IGD sore menjelang malam itu seperti miniatur kehidupan—penuh luka, penuh harap, dan penuh ketidakberdayaan. Pasien dan anggota keluarganya sedang menjalankan peran masing masing dari skenario takdirNya.
Tampa diundang, mobil ambulance parkir di pintu IGD, membawa pasien yang sudah tak berdaya — disertai kecemasan keluarga yang mengantarnya.
Selang, berapa menit, ada beberapa anggota keluarga di ruang dalam IGD mendadak pecah tangisnya. Mereka baru saja, kehilangan salah satu anggota keluarganya yang di panggil Tuhan.
“Beginikah cara Allah mengingatkan hamba-Nya?” batin Fauzar bergetar.
Sari membuka mata perlahan.
“Ayah…” suaranya lirih, hampir hilang di antara riuhnya kesakitan orang-orang dan tangis yang mendadak pecah itu.
“Iya, Tiar… Ayah di sini,” Fauzar menggenggam tangan putrinya, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia sendiri hampir kehabisan. Di sela-sela rasa sakitnya, Sari seperti sedang membaca ulang hidupnya.
Ia teringat kebiasaan buruknya—minuman air berwarna, soda yang gemerlap, makanan serban instan dan sangat pedas. Juga, kesibukan yang sering membuatnya lupa pada air putih yang sederhana. Air yang bening, yang jujur — tak pernah menipu tubuh.
Betapa sering nasihat itu datang dari ibu dan ayahnya—namun ia dengar seperti angin lalu. Tak jarang ia candaain, berolok olok pada sang adik bontotnya, Fauzah. ” Tuh, dengar Dek Zah, ibu mu ‘berceramah’, ” paparnya tampa turun ke hati, hanya candaan. Itulah khasnya Sari, jika sedang dinasihati.
Kini, tubuhnya sendiri yang berbicara, bukan bercanda. Dalam bahasa tasawuf, sakit adalah bahasa cinta yang paling sunyi dari Tuhan. Ia tidak berteriak, tapi mengetuk hati dengan lembut—memanggil pulang jiwa yang mungkin terlalu jauh berjalan. Lalai menjaga sehat.
Air mata Sari jatuh perlahan.
“Ya Allah… jika ini cara-Mu memanggilku kembali, aku ingin pulang dengan lebih sadar…” ngebatin Sari dalam do’a.
Para perawat berjalan cepat, seperti waktu yang tak bisa ditahan. Wajah-wajah mereka lelah, tapi mata mereka tetap menyimpan kepedulian. Seorang suster menghampiri Sari, memeriksa kondisinya dengan tangan yang cekatan namun tetap lembut.
“Mohon bersabar ya, Pak… pasien memang sedang sangat banyak,” ucapnya lirih.
Fauzar mengangguk. Di matanya, para tenaga medis itu bukan sekadar pekerja—mereka adalah perantara rahmat yang berjalan di antara derita manusia.
Dalam keterbatasan, mereka tetap memberi. Dalam lelah, mereka tetap peduli.
Bukankah itu juga bentuk ibadah yang tak banyak disadari?
Sari pun mendapatkan tindakan pertama dari suster atas saran dokter. Di suntik, lalu tangannya diberi jarum impus.
Waktu terus berjalan. Satu jam. Dua jam. Sepuluh jam. Lebih dua puluh empat jam.
Sari masih di bangku itu dengan impusannya.
Namun yang berubah bukan hanya kondisi tubuhnya—melainkan cara ia memandang hidup di ruang IGD dengan aneka orang mengemban penyakitnya. la melihat, merasakan, betapa sehat adalah nikmat yang sering diperlakukan seperti sesuatu yang akan selalu ada. Betapa tubuh adalah amanah yang tak boleh disia-siakan.Dan betapa hidup bukan sekadar tentang mencari rezeki dan memberi, tapi juga menjaga diri agar tetap layak menerima karunia-Nya.
Fauzar menatap putrinya dalam lelahnya, ia menemukan pelajaran: bahwa seorang ayah tak pernah benar-benar kuat, kecuali ketika ia bersandar penuh kepada Allah.
Sakinah yang belum sempat hadir, lantaran kesibukan tanggungjawabnya, pasti teringat sang putrinya itu. Dalam subuknya berzikir pelan, berdo’a senyap.
“Ya Allah… Engkau yang memberi sakit, Engkau pula yang menyembuhkan. Jika sakit ini adalah jalan untuk membersihkan dosa, maka bersihkanlah… tapi jangan Engkau ambil harapan kami.” pinta sang ibu dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sakinah tiba di ruang IGD sekitar pkl 23.00 Wib, berganti waktu untuk jaga sang putri. “Sari belum juga dapat kamar ayah.. ” katanya dalam pesan WA pada suaminya yang sudah istirahat di rumah.
Fajar mulai merambat, cahaya tipis itu — menebar terang tanah seperti membawa janji: bahwa setiap gelap, betapapun panjangnya, pasti memiliki ujung.
Dan, di ruang yang penuh sesak itu, di antara bangku-bangku sederhana dan napas yang tertatih, ada satu hal yang tumbuh diam-diam: tentang kesadaran.
Bahwa, hidup bukan hanya tentang kuat atau lemah, sehat atau sakit.
Tapi tentang bagaimana manusia kembali mengenal Tuhannya… justru ketika ia merasa paling rapuh.
Dan, Sari di pagi itu, tidak lagi sekadar pasien. Ada janji yang ngebatin di balik dadanya. Ia adalah jiwa yang sedang pulang — untuk hidup dengan cara yang lebih sehat. Paling tidak, mulai menggemari air putih yang menurutnya jadi momok, enek di jalur tenggorokannya.
Siang harinya, Sari baru dapat kamar rawat inap. Si sulung, Miftay yang tinggal di Cikarang, sempat hadir dengan suami dan kedua anaknya yang masih kecil dan lucu lucu. Sayangnya, kedua cucu Fauzar dan Nek Sakinah itu, tak bisa masuk, lantaran masih di bawah umur, juga bukan jam bezoek pula kedatangannya. Mereka nunggu di mobilnya.
Hari pertama di ruang rawat inap, Sari menjalani tindakan medis, USG — istilahnya general cek up — observasi apa penyakitnya.
Dua hari berikutnya, hasil abdomennya, ternyata, Sari, ada peradangan empedu, karena infeksi, tidak ada indikasi batu empedu atau liver. Dokter memberikan obat heparmine — untuk menjaga organ tubuh yang lain agar tak ikut meradang — ikut menguning.
“Alhamdulillah….” puji syukur Sakinah — dari apa penyakit putrinya itu, tak ada batu ginjal atau liver yang dikuatirkan.
Sakina terbayang, dua pekan lalu, tetanggnya “hijrah” di panggil oleh Sang Maha Pemanggil. Orang baik itu, berpulang, penyebabnya, tumor empedu. Itulah takdir, siapa yang tahu….?
Pada jam.- jam bezoek normal, banyak yang mengunjungi Sari di pembaringannya. Dari tetangga rumah, teman sekolah, teman kerja, teman kerja ibunya serta teman sang ayah dari majelis ilmu pada ngebezoek.
Do’a yang nyaris sama dari mereka: Semoga Sari cepat kembali sembuh…Allah angkat penyakitnya. Amiin. (***)
