Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

[Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

(Foto ilustrasi - Shutterstock)
(Foto ilustrasi - Shutterstock)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

Sampai detik ini, aku masih pesimis untuk hidup berumah tangga lagi. Ketika aku ingin menyerah — selalu ingat pada anak-anak. Ini yang jadi alasan aku kuat bertahan hingga kini. 

Sampai ketika aku punya tujuan pun, aku merasakan ketakutan yang mengerikan. Maka dari itu, biarlah ini menjadi takdir hidupku, insyaallah aku terima. Aku yakin, Allah akan selalu bersamaku setiap saat. Setidaknya, hal ini — yang aku bendung untuk cinta seseorang padaku, agar tidak membahayakan orang yang tulus, cinta dan sayang padaku. 

Kalimat-kalimat itu ditulis Silva di catatan kecil yang selalu ia simpan di bok notes ponselnya. Layar handphone hitamnya itu kadang  basah oleh air mata yang jatuh diam-diam saat anak-anaknya sudah terlelap. Malam baginya bukan lagi waktu istirahat, melainkan ruang panjang untuk berdialog, menolog dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Ia langitkan do’a. 

Silva masih muda, usianya baru tigapuluhan. Wajah cantiknya menyimpan sisa-sisa keceriaan masa remaja. Namun, matanya telah terlalu sering memandang gelap. Tiga anaknya menjadi cahaya sekaligus alasan ia tak runtuh sepenuhnya. Penghasilan utamanya, mengajar dari sanggar  pendidikan yang ia dirikan dari keringatnya sendiri. Bisa dibilang, ia ustadzah yang tengah mencari jati diri. 

[Monolog] Sebegitu Hebatnyakah Sang Mantanmu? Membuat Kumbang Lain Merapat, Rontok Sebelum Waktunya

Di balik senyum yang ia paksakan, ada tekanan yang tak kasat mata—sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika sederhana. Ia merasa hidupnya seperti terikat oleh sesuatu yang halus, tak terlihat, namun kuat mencengkeram. 

Ia sering terbangun di tengah malam, dadanya sesak tanpa sebab. Ada rasa takut yang datang tiba-tiba, seperti dipanggil oleh bayangan masa lalu yang tak mau pergi. Mantan suaminya bernama Panto itu —  seharusnya telah selesai dari hidupnya—masih seperti memiliki jalan masuk ke ruang batinnya. Entah sugesti, entah hal lain yang lebih gelap, Silva tak mampu memastikan. Yang ia tahu, ia belum benar-benar bebas. 

“Sekarang kamu hidup, masih satu atap dengannya?”

Pertanyaan itu meluncur pelan dari Fauzar di kantin kampus. Siang itu, suara riuh mahasiswa seperti menjauh dari mereka berdua.

Silva tidak langsung menjawab.

Mencintaimu Penuh Duri, Maaf Aku Pamit

Ia menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu yang hendak pecah. Lalu perlahan, air matanya jatuh. Satu, dua, lalu deras seperti sungai kecil yang lama terbendung.

“Dibilang tidak…,” suaranya nyaris tak terdengar, “Tapi mantan masih sering datang ke rumah. Bahkan nginap. Alasannya… lihat anak kami, Adam yang masih kecil, lima tahun, usianya, ” terang Silva polos. 

Polosnya lagi,  Silva bertutur, bahwa sang mantannya itu Panto, pernah menceraikan Silva pada usia Silva  hamil Adam lima bulan. Singkat cerita. Silva pernah nikah lagi dengan sosok yang berbeda dari apa yang disebut mantan Panto itu.

“Aku nikah bersama Mas Helmi itu kurang dari tiga bulan. Dan, maaf tak pernah berhubungan intim. Entahlah….aku tak suka ” papar Silva sambil nyeruput seteguk es teh manisnya. Akhirnya pisah baik baik.

Pertemuan tengah petang itu dituntaskan cerita oleh Silva tentang jati dirinya pada Fauzar. Entah kenapa Silva kok bisa kembali nikah pada Panto yang punya adat tidak baik terhadap dirinya dan sang ibu Silva. 

Parama Hansa Abhipraya Raih Rekor MURI, Anak 7 Tahun dengan Prestasi Multidisiplin Terbanyak

“Aku dinikahkan kembali ke Panto, didukung oleh kakak pertamaku. Alasannya, demi anak anak. Aku mau, dengan syarat kebiasan buruknya di rubah…..Tapi, seiring perjalanan waktu, watak tak baiknya kambuh lagi. Tak jujur, dan tak bertanggungjawab atas finansial buat keluarga. Aku lah yang putar otak dan banting tulang untuk menutupi kebutuhan,” jelas Silva sejelas jelasnya. Bukan maksud untuk dikasihani oleh Fauzar.

Dan, kini Panto disebut oleh Silva: sang mantan. Mantan yang tak tahu diri. Silva nikah yang kedua kalinya dengan Panto secara siri. Begitu  kerap Panto menurut Silva mengulang ulang arah pisah, pisah dan pisah. ” Dan kembali, aku sering tinggalkan begitu aja….balik ke rumah semaunya. Ya sudah….aku sebut mantan. Cukup,” terang Silva. 

Fauzar terdiam, seolah menahan napas. Ada jeda…. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Rasa iba,  kesal, marah, dan entah sejak kapan cinta itu bicara. 

Pertemuan mereka sebenarnya tak disengaja. Hanya kebetulan pernah satu kelas di semester pertama. Fauzar lulus terlebuh dahulu, lantaran ia ikut program RPL — istilahnya percepatan kuliah.Silva dan manteman lainnya, masih berkutat dengan mata mata kuliah saban minggunya. 

Namun, sejak  semester kedua, Fauzar mulai memperhatikan Silva lebih dari yang seharusnya. Cara Silva tersenyum, cara ia menyembunyikan lelah, dan cara ia tetap berdiri meski terlihat rapuh.

Semakin sering mereka berbincang, semakin jelas bagi Fauzar bahwa Silva bukan sekadar perempuan kuat. Ia adalah seseorang yang sedang berjuang diam-diam melawan sesuatu yang tak terlihat.

Dan dari situlah, perasaan itu tumbuh.

Hari-hari berikutnya, percakapan mereka berpindah ke layar ponsel. Pesan-pesan sederhana berubah menjadi tempat berbagi cerita, keluh, bahkan harapan yang tak berani diucapkan lantang. 

Fauzar tahu, ia telah jatuh terlalu dalam.

Ia menahan diri cukup lama. Namun suatu malam, setelah membaca pesan Silva yang bercerita tentang ketakutan yang kembali datang tanpa sebab, Fauzar tak lagi mampu membendungnya.

“Aku ingin ada di sampingmu, Sil,” tulisnya. “Bukan sekadar teman.”

Lama tak ada balasan.

Hingga akhirnya, muncul tiga titik kecil yang berkedip — tanda bahwa Silva sedang mengetik.

“Aku tahu kamu tulus, dan banyak bantu aku, Fauzar,” balasnya. “Dan mungkin… aku juga nyaman bersama kamu.”

Fauzar menahan napas.

“Tapi aku belum bebas. Aku takut kamu kecewa, jadi beban dan sakit,” lanjut Silva. “Bukan cuma secara keadaan… tapi juga batin.”

Fauzar membaca berulang-ulang.

“Aku takut… kalau aku membuka hati, justru akan menyakitimu. Aku masih seperti orang terikat. Aku sendiri pun tidak mengerti bagaimana menjelaskannya.” 

Malam itu, Fauzar menatap langit lama sekali. Ia tak marah. Tak kecewa sepenuhnya. Hanya ada rasa hening yang dalam. “Lelaki itu, mantannya Silva…mungkin main halus, ” pikir Fauzar ngebatin 

Ia mengerti, cinta tak selalu tentang memiliki. Kadang, ia hadir untuk menjaga—meski dari jauh.

Sejak itu, Fauzar tetap ada. Namun tak lagi memaksa. Ia menjadi tempat pulang untuk kata-kata Silva, tanpa berharap lagi menjadi tujuan akhir, hidup bersama. 

Sementara Silva, di setiap sujudnya, terus berdo’a. Agar suatu hari, ikatan yang tak terlihat itu benar-benar putus. Agar hatinya kembali utuh.

Dan jika memang takdir membawanya sendiri hingga akhir hayat, ia ingin tetap kuat—demi tiga cahaya kecil yang memanggilnya “mama.”

Namun, di sudut hatinya yang paling sunyi dipeluk senyap, ada satu harapan kecil yang menyala — ia sendiri tak berani ucapkan:

Semoga, jika suatu hari benar-benar bebas… Fauzar masih ada di sana. Semoga deh. (***)