Cerpen Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.
Hujan siang itu turun perlahan, di halaman kampus Sekolah Tinggi Ilmu Mentalitas (STIM). Butiran air menitik di sela dedaunan flamboyan yang berjajar di sepanjang jalan menuju gedung pascasarjana. Para mahasiswa, berlarian kecil menghindari basah.
Sebagian, berteduh di bawah serambi. Sebagian lagi, menunggu hujan reda sambil bercengkerama.
Namun, di ruang dosen lantai dua, seorang perempuan berhijab biru tua, duduk memandangi jendela dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Dosen Suna, namanya.
Peserta didik, mengenalnya sebagai dosen psikologi, cantik, cerdas, disiplin, dan berwibawa. Ucapannya terukur. Senyum seperlunya. Yang sudah merasa dekat, manggilnya dengan sebutan Bunda Dosen.
Tidak banyak yang tahu, bertahun-tahun sebelumnya, ia pernah kehilangan separuh jiwanya. Sang suami telah pergi mendahului.
Meninggalkan rumah yang tetap utuh, tetapi kehilangan hangatnya.
Meninggalkan ketiga anak yang tumbuh, dengan pertanyaan yang tak pernah benar-benar selesai.
Dan, meninggalkan seorang perempuan — yang belajar menerima, bahwa tak semua kehilangan bisa dibiasakan.
Sebelum ajal menjemput, sang suami sempat menggenggam tangannya.
“Mama masih muda,” katanya dengan napas yang tersengal.
“Kalau suatu hari, menemukan penggantiku, jangan takut untuk menikah lagi. Tetapi, satu pesanku… jangan menjadi penyebab runtuhnya rumah tangga orang lain. Jangan memilih suami orang,” pesannya sebelum ‘hijrah.’
Kalimat itu, begitu amat sangat sederhana.
Tetapi, tertanam, menjadi sumpah serapah yang hidup dalam dadanya.
Sejak saat itu, hati Suna membeku.
Ia hidup sebagaimana mestinya.
Mengajar.
Menjadi ibu.
Tersenyum, bila diperlukan.
Lalu pulang ke rumah. Sunyi.
Begitu ia menjalani rutinitas — tampa membuka hati.
Pada tahun ajaran baru, program magister, di Sekolah Tinggi Ilmu Mentalitas (STIM) — seorang mahasiswa bernama Fauzar hadir dalam kelasnya.
Usianya, terpaut sepuluh tahun darinya.
Pembawaannya tenang — jika tak dibilang dingin.
Tidak banyak bicara.
Tetapi, setiap kali berbicara, selalu diawali dengan kalimat,
“Izin menjawab, Bunda dosen…” sok akrab Fauzar ke Suna.
Atau, “Mohon dikoreksi bila pemahaman aku kurang tepat…” Ya, begitulah Fauzar adanya. Dingin, penuh marwah.
Itu hal-hal kecil. Tetapi bagi Suna, yang hidup di zaman ketika adab perlahan kehilangan tempat — terkikis dengan kepongahan, sikap itu terasa berbeda.
Pada perkuliahan psikologi pendidikan, Fauzar menjawab pertanyaan tentang empati.
“Banyak orang ingin dipahami,” katanya. “Tetapi lupa belajar memahami. Padahal, kadang yang dibutuhkan seseorang bukan solusi, melainkan kehadiran yang tidak menghakimi.”
Ruangan hening.
Suna menatap mahasiswa itu beberapa detik lebih lama. Pikirnya: Cerdas ya…
Entah mengapa, kalimat tersebut terasa mengetuk sesuatu yang telah lama terkunci.
Hubungan mereka bertumbuh dalam batas-batas yang terjaga.
Sebatas dosen dan mahasiswa.
Sebatas diskusi akademik.
Sebatas saling menghormati.
Namun, kehidupan sering kali mempertemukan dua anak manusia melalui jalan kecil yang tak direncanakan.
Fauzar sering membantu membawa tumpukan buku ke ruang dosen.
Suna, beberapa kali meminjamkan referensi yang sulit ditemukan.
Percakapan mereka mulai bergeser.
Dari teori psikologi.
Menjadi kisah tentang pendidikan.
Lalu tentang kehidupan.
Tentang kehilangan.
Tentang harapan.
Tentang sepi yang diam-diam dipikul masing-masing.
“Apakah kesepian bisa sembuh, Bunda Dosen?” tanya Fauzar suatu sore, saat membatu bawa leptop dan perangkat lunak lainya ke ruangan dosen di lantai dua.
Suna tersenyum tipis.
“Kesepian bukan penyakit,” jawab Suna, sambil lalu matanya ke luar jendela.
“Lalu apa?”
“Kesepian adalah ruang. Kadang Allah mengosongkan sesuatu dalam diri kita agar kita tahu siapa yang benar-benar ingin tinggal.”
Fauzar menunduk. Ia memang sedang merasa sepi ditengah keramaian anggota keluarga, terutama pada sang istri.
Sejak itu Fauzar merasa ada ruang kosong dalam dirinya.
Ia hidup di antara ada dan tiada.
Tentang biduk yang retak tak kentara, tetapi Insya Allah tak karam.
Tentang ikatan yang secara hukum masih ada. Tetapi, secara rasa telah lama kehilangan makna. Kemarau begitu panjang…
Namun, ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan.
Ada aib yang lebih baik ditutupi.
Karena agama mengajarkan: menjaga kehormatan, bahkan ketika hati sendiri sedang amat terluka.
Antara Suna dan Fauzar perasaan itu tumbuh diam-diam.
Tidak melalui sentuhan.
Tidak melalui rayuan.
Tetapi, melalui perhatian kecil dan sederhana.
“Sudah makan siang, Bunda Dosen?”
“Hati-hati pulang, jalanan sedang hujan.”
“Semoga sehat selalu.” Begitu sering Fauzar utarakan pada Suna. Begitu juga sebaliknya, “Konsisten belajar. Tetap jaga kesehatan, ” kata Suna.
Suna mulai menyadari, dirinya menunggu.
Menunggu pesan singkat tentang tugas.
Menunggu pertanyaan tentang materi kuliah.
Menunggu seseorang yang dulu tak pernah ia pikirkan.
Lalu, ia marah pada dirinya sendiri.
“Apa yang sedang kau lakukan, Suna?” bisiknya di depan cermin, pada malam yang sunyi di rumahnya — yang memang sunyi dan senyap rumah Suna di badan gunung Manglayang.
Aku seorang dosen.
Aku seorang ibu.
Aku pernah berjanji pada ayahnya ketiga anak biologis kami — yang kini telah terbaring di balik anah.
Pada malam yang panjang, Fauzar menuliskan sesuatu dalam notes digitalnya.
“Ada sosok lembut, datang bukan untuk mengacaukan hidup kita. Ia datang hanya untuk mengingatkan bahwa hati kita masih mampu merasa.” Seperti semesta, merasa satu sinyalkan untuk semua galaksi bima sakti.
Beberapa minggu kemudian, dengan sisa keberanian yang dikumpulkan dari serpih, serpihan kangen, Fauzar menemui Suna.
“Bunda Dosen.. .”
Suna menoleh.
“Ada yang ingin aku sampaikan.”
Suara Fauzar bergetar. “Sok mangga..” jawab Suna dengan dialek sunda yang kental — padahal, Suna asli dari Jawa Tengah. Pacitan. Besar dan berkarir di Bandung.
“Aku menghormati Bunda, lebih dari siapa pun.”
Suna terdiam.
“Aku tak tahu, sejak kapan. Tetapi aku ingin melangkah dengan cara yang baik.”
“Fauzar…” lirih Suna seraya menatap Fauzar, tak percaya.
“Aku serius.”
Suna memejamkan mata.
Ada gemuruh di dadanya.
Ada bahagia yang menyesakkan.
Tetapi, mendadak ada pula tembok yang menjulang tinggi. Bak peradaban China itu.
“Apakah kau masih memiliki istri?” tanya Suna tegas pelan dan penuh hormat.
Fauzar menunduk.
Pertanyaan Suna menghantam titik balik, paling rapuh bagi Fauzar.
Ia ingin menjelaskan.
Bahwa hidup, tidak selalu hitam dan putih.
Bahwa, ada luka-luka yang tak layak dipertontonkan.
Bahwa ada alasan, mengapa sebagian orang memilih diam demi menjaga martabat keluarga?
Namun, kalimat tersebut tertahan. Tak Fauzar sampaikan ke Suna.
Karena, membuka semuanya, berarti membuka aib yang Allah tutupi.
Dan , ia tak sanggup melakukannya.
Diamnya Fauzar adalah jawaban.
Air mata menggenang di pelupuk mata Suna.
“Aku pernah berjanji,” katanya pelan.
“Sebelum suamiku meninggal, ia menitipkan pesan agar aku tidak menjadi alasan runtuhnya rumah tangga perempuan lain.” begitu kata Suna. Lirih dan nyaris tak terdengar.
“Tetapi……” serga Fauzar.
“Jangan memaksaku mengkhianati orang yang pernah kucintai dengan tulus.”
Fauzar menggenggam jemarinya sendiri.
Dunia terasa hampa dan sempit.
Kadang, yang paling menyakitkan, bukan ditolaknya cinta.
Tetapi, bertemu pada waktu yang salah.
Malam itu hujan turun deras.
Fauzar duduk sendirian di warung kopi.
Secangkir kopi pahit telah dingin sejak lama. Hanya diseruput sekali.
Ia teringat senyum Suna.
Cara perempuan itu mengoreksi tugas dengan teliti.
Cara menyebut namanya ketika presentasi.
Dan, tatapan mata yang selama ini tak pernah berhasil ia lupakan.
Sementara, di rumahnya, Suna menangis dalam sujud panjangnya.
“Ya Allah,” bisiknya.
“Jika ia bukan takdirku, jagalah hatinya. Jika ia adalah ujian, kuatkan aku untuk melewatinya.”
Tidak semua cinta harus dimiliki.
Tidak semua rindu harus berakhir pada pernikahan.
Ada cinta yang tugasnya hanya mengajarkan kita tentang keikhlasan.
Tentang menghormati batas.
Tentang melepaskan tanpa membenci.
Waktu berlalu.
Fauzar menyelesaikan studinya.
Hari wisuda pun tiba.
Dengan toga yang melekat di tubuhnya, ia menghampiri Dosen Suna yang tengah dikerumuni teman untuk foto bersama.
“Terima kasih atas semua ilmu dan do’a Bunda dosen,” sela Fauzar diantara temannya yang senyum sumingrah.
Suna pun menebar senyum. Beberapa detik, Suna Fauzar berpadu pandang.
Mata mereka saling memandang untuk beberapa saat.
Ada ribuan kata yang tak terucapkan.
“Apa Pak Fauzar bahagia?” tanya Suna.
Fauzar kaget dan tersenyum samar.
“Sedang belajar.”
Suna mengangguk.
“Begitu juga saya.”
Sebelum berpisah, Fauzar berkata pelan,
“Ternyata mencintai seseorang tidak selalu berarti memilikinya ya Bunda dosen…”
Suna menahan air mata.
“Dan ternyata,” jawabnya, “Menggenggam cinta, tak mesti bersama. Merelakannya pun tetap suci.”
Mereka berpisah di pelataran gedung hotel yang di sewa oleh pihak kampus untuk hajatan teesebut.
Dengan kelapangan dada yang tulus dan ikhlas.
Tampa menanam benih kebencian.
Akhirnya do’a-do’a itu diam-diam saling dikirimkan kepada langit.
Sebab, cinta yang dewasa bukan tentang siapa yang akhirnya bersama.
Melainkan siapa yang tetap memilih menjaga kehormatan orang yang dicintainya.
Meski harus menangis dalam diam.
Meski harus mengubur harapan sendirian.
Sebab, ada cinta yang tak pernah selesai.
Ia hanya berubah menjadi do’a.
Dan tinggal selamanya dalam kenangan.
Di suatu sore, ketika langit senja temaram. Suna membuka kembali buku psikologi yang dahulu dipinjamkan ke Fauzar.
Di halaman terakhir, terselip secarik kertas kecil.
Tulisan tangan itu berbunyi:
“Terima kasih telah membuat hati yang hampir mati, percaya kembali. Bahwa, ketulusan masih ada. Bila takdir tak mengizinkan kita berjalan bersasama dalam ikatan yang sakral. Semoga Allah mempertemukan kita dalam keadaan terbaik menurut-Nya.”
Suna memejamkan mata.
Lalu tersenyum dalam linangan air mata, menganak sungai di pipinya yang merah ranum.
Kadang…
menggenggam cinta memang tak mesti bersama.
Tetapi, cinta yang dijaga dengan adab dan ikhlas akan selalu menemukan jalannya menuju keabadian.
****
Setu, Kabupaten Bekasi, 11 Juni 2026.
