Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Fatamorgana, tetaplah fatamorgana.
Dari kejauhan, ia tampak seperti mata air yang berkilau di tengah terik padang kehidupan : teduh, menenangkan, dan seolah menjanjikan tempat berlabuh bagi jiwa yang lelah.
Untuk mendekatinya, dibutuhkan keberanian, kesabaran, bahkan perjuangan yang tak sedikit. Namun, semakin dekat langkah menapak, semakin nyata bahwa yang terlihat indah itu tak selalu ditakdirkan untuk digenggam. Tetap, fatamorgana.
Begitulah kisah seorang lelaki yang usianya tak lagi muda. Ketika cinta tumbuh, datang mengetuk pintu hatinya. Ia sempat percaya bahwa semesta sedang membuka jalan. Ada isyarat-isyarat kecil yang tampak seperti restu: percakapan yang menghangatkan hari, perhatian yang tumbuh perlahan, serta harapan yang diam-diam disusun dalam do’a-do’a panjang selepas malam.

Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, ia merasa bahwa mungkin masih ada kesempatan untuk berjalan berdampingan dengan seseorang. Karena hidup, selama ini tak punya cinta .Ada fase yang hilang saat merajut kebersamaan. Dan, kini kemarau itu panjang….
Namun, hidup tidak selalu membawa menuju alamat yang dikiranya benar. Ada perasaan yang tumbuh di tempat yang keliru — jika tak disebut salah alamat. Pada waktu yang tak tepat, dan dalam keadaan yang tak memungkinkan untuk dipersatukan.
Apa yang semula tampak sebagai awal perjalanan, ternyata hanyalah persimpangan yang melelahkan, mengajarkannya tentang batas.
Ia pun memilih jalan mundur, bukan karena cintanya kurang besar, melainkan karena kebijaksanaan terkadang menuntut keberanian untuk melepaskan. Ia memahami bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki. Ada kehormatan yang perlu dijaga, ada harga diri yang tak patut ditukar dengan harapan yang terus memaksa.

Do’a-do’a yang dahulu dilangitkannya dengan harapan untuk bersatu, kini berubah arah. Ia tak lagi memohon agar dipertemukan dalam satu ikatan, melainkan agar hatinya dikuatkan untuk menerima ketetapan. Agar ia mampu merawat keikhlasan, memelihara ketulusan, dan tetap mendo’a kan kebaikan, tanpa harus menjadi bagian lagi dari kisah yang diperjuangkan.
Pada akhirnya, ia memilih pulang, kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang belajar menerima, bahwa cinta bukan semata tentang memiliki. Kadang, cinta adalah tentang mengetahui kapan harus berhenti melangkah, agar jiwa tetap teduh, raga tetap sehat, dan kehidupan tetap berjalan dengan martabat yang utuh.
Dan, di usia yang tak lagi muda, ia mengerti satu hal: tidak semua fatamorgana harus dikejar hingga habis tenaga. Sebab, ada kalanya, kebijaksanaan terletak pada kemampuan untuk berpaling dengan ikhlas, lalu melanjutkan perjalanan tanpa menyimpan dendam kepada takdir.
Semoga semuanya dapat kembali berjalan baik baik saja — seperti belum tumbuhnya rasa rasa itu, meski ibarat kata: Masakan kemarin, dihidangkan hari ini, tentu, cita rasanya berbeda. Dan, itu manusiawi sekali, saat ego sudah melepas segalanya.
******
Depok, 14 Mei 2026
