Humaniora
Beranda » Humaniora » Lelaki Itu Terluka

Lelaki Itu Terluka

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.

Sesungguhnya, ia adalah sosok yang selama puluhan tahun menjaga keutuhan rumah tangganya dengan seluruh kemampuan yang ia miliki. Ia memahami, bahwa pernikahan bukan sekadar perjumpaan dua insan yang saling jatuh cinta. Melainkan, amanah panjang yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Maka, ia tidak pernah berniat melempar jangkar, di tengah lautan kehidupan. Lalu, membiarkan kapal yang telah ia nahkodai karam diterjang gelombang. Tidak. Itu bukan pilihan yang pernah terlintas dalam do’a-do’anya.

Ia tidak ingin anak-anaknya berenang dalam ketidakpastian. Ia tidak ingin sang istri, yang telah mendampinginya selama puluhan tahun kehilangan arah, tanpa pelampung, tanpa sekoci, tanpa pegangan. Baginya, seorang ayah dan suami tetaplah pelindung, sekalipun hatinya sedang compang-camping dan retak oleh pergulatan yang tak seorang pun mampu membacanya.

Namun, ada kejujuran yang sejak lama disimpannya dalam ruang paling sunyi.
Bertahun-tahun silam, di awal pernikahan mereka, ia pernah berkata kepada perempuan yang kini menjadi ibu bagi putri-putri itu:
“Aku menikahimu bukan dengan cinta yang bergelora.”
Kalimat itu meluncur dengan kejujuran. Barangkali terlalu telanjang. Dan, sejak saat itu, kalimat tersebut berubah menjadi bayang-bayang yang tak pernah benar-benar meninggalkan rumah mereka.

Hangatnya 1 Muharram: Muhasabah di Bawah Cahaya Api Unggun

Kini, tiga puluh tiga tahun telah berlalu.
Usia pernikahan mereka telah menua bersama waktu. Putri-putri yang dahulu digendong dalam dekapan, kini telah tumbuh menjadi perempuan dewasa. Satu diantaranya, telah membangun rumah tangga sendiri. Bahkan, dua cucu mungil telah hadir, menghadirkan tawa di sela-sela senja kehidupan mereka.

Ternyata, usia tidak selalu mampu menenangkan pertanyaan hati.
Di gerbang masa tua, sang istrinya masih sesekali bertanya dengan suara lirih yang sarat luka di tengah makan sore:
“Apakah engkau pernah benar-benar mencintaiku?”
Lelaki itu terdiam.
Bukan karena tak memiliki jawaban.
Karena beberapa jawaban terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Dengan tatapan yang telah banyak belajar menerima takdir, ia mencoba menjelaskan,
“Bukankah kita telah berjalan sejauh ini? Jika cinta tidak hadir sejak awal, bukankah kasih sayang telah tumbuh di sepanjang perjalanan?”

Lalu ia melanjutkan,
“Ada banyak rumah tangga yang dibangun oleh gejolak cinta — bahkan nikah di tanah suci, tetapi runtuh sebelum musim berganti. Sedangkan kita, meski tertatih, masih bertahan. Mungkin ada sesuatu yang lebih besar daripada cinta itu sendiri: kasih, kesetiaan, tanggung jawab, dan rahmat Allah yang menjaga langkah-langkah kita.”

Bertahan hingga kini adalah takdir yang melebihi kata cinta itu sendiri.
Luar biasa, ternyata, yang disebut kasih sayang itu. Masih tak enggeh juga?

Ternyata Kita Sudah di Gerbang Senja, Hati Masih Merasa Muda

Hidup sering kali menyimpan pelajaran yang datang terlambat.
Di sebuah persimpangan waktu, ketika rambut mulai memutih dan usia tak lagi muda, lelaki itu justru menemukan pertanyaan yang selama ini tidak pernah mampu dijawabnya:
Apa sebenarnya cinta itu?
Ia tidak mencarinya.
Ia tidak merencanakannya.
Ia tidak pula berharap menemukannya.
Tetapi, cinta kadang tumbuh seperti rerumputan liar di sela batu: hadir tanpa diundang, hidup tanpa diminta.
Getar itu muncul dari dua arah yang berbeda.

Yang satu, berdiri tegak di lereng “badan gunung”, berilmu, anggun, dan matang dalam pemikiran: seorang dosen yang kecantikannya bukan hanya terpancar dari wajah, melainkan dari keluasan hati dan kedalaman cara pandangnya terhadap kehidupan. Dia sedang sendiri lagi.

Yang satu lagi, tumbuh di dataran yang lebih sederhana, di sudut Bekasi Selatan: seorang peserta didik dengan sorot mata jernih dan kelembutan yang menghadirkan keteduhan.
Dua perempuan.
Dua dunia.
Dua jarak yang berbeda.
Dan, di antara keduanya, seorang lelaki yang sedang belajar memahami isi hatinya sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia kenali sebelumnya.
Jantung  berdebar saat menanti kabar.
Do’a yang menyelipkan nama seseorang secara diam-diam.
Kerinduan yang datang tanpa aba-aba.
Kekhawatiran yang tidak mampu dijelaskan oleh logika.
“Apakah ini cinta?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Lalu, pergulatan itu pun dimulai.
Sebuah perang sunyi yang tidak terdengar oleh siapa pun.
Di satu sisi, ada amanah yang telah dijaga selama puluhan tahun. Ia tak mampu menerjang badai lebih jauh….
Ada istri yang telah membersamainya melewati musim demi musim.
Ada anak-anak yang memanggilnya ayah.
Ada cucu-cucu yang menggenggam jemarinya dengan penuh percaya.

Fatamorgana Tak Mungkin Jadi Embun Pagi….

Tetapi, di sisi lain, ada hati yang untuk pertama kalinya merasa hidup dengan cara yang berbeda.
Lelaki itu pun bersimpuh dalam do’a-do”a panjang.
Ia tahu, tidak semua yang tumbuh di dalam hati harus dimiliki.
Tidak semua yang indah harus digenggam.
Dan, tidak semua cinta ditakdirkan untuk berlabuh.

Bukankah Allah sendiri mengajarkan, Bahwa,  ujian terbesar terkadang bukan pada apa yang kita benci. Melainkan, dari apa yang sangat kita cintai?
Maka, malam-malamnya dipenuhi istighfar.
Air matanya sesekali jatuh ketika sajadah menjadi saksi bisu — percakapannya dengan Tuhan.

“Ya Allah, jika perasaan ini menjauhkan diriku dari ridho-Mu, maka tenangkanlah hatiku. Tetapi jika perasaan ini adalah jalan untuk mengenal-Mu lebih dekat, tuntunlah langkahku agar tidak melukai siapa pun.”

Sebab,  ia sadar, usia senja bukan berarti manusia terbebas dari ujian perasaan.
Justru terkadang, pada usia itulah seseorang dipertemukan dengan cermin paling jujur tentang dirinya sendiri.
Tentang luka-luka yang belum sembuh.
Tentang ruang kosong yang selama ini dipendam.
Tentang kerinduan untuk dicintai dengan utuh.

Dan, lelaki itu pun menyadari satu hal:
Mencintai bukan hanya soal memiliki.
Kadang, mencintai adalah memilih untuk menjaga jarak demi keselamatan banyak hati.
Kadang, mencintai adalah mendo’a kan dalam diam.
Kadang, mencintai adalah mengikhlaskan tanpa pernah berhenti menghargai kehadirannya.
Ia masih pulang ke rumah yang sama.
Masih menjalankan tanggung jawab yang sama.
Masih menjadi ayah dan aqie aqie  bagi keluarga yang dicintainya.
Namun, ia tahu bahwa ada bagian dari hatinya yang tak lagi utuh seperti dahulu.
Barangkali, begitulah cara Tuhan mengajarkan, bahwa manusia memang tempatnya rapuh.
Bahwa cinta tidak selalu hadir pada waktu yang tepat.
Bahwa kesetiaan sering kali bukan tentang tidak pernah tergoda, melainkan tentang tetap memilih jalan yang benar meski hati sedang berperang.

Lelaki itu terluka.
Bukan karena tidak dicintai.
Bukan pula karena cintanya ditolak.
Melainkan, karena untuk pertama kalinya ia memahami arti cinta, justru ketika hidup telah berjalan terlalu jauh.
Dan, di hadapan langit yang mulai memerah menjelang senja, ia hanya mampu berbisik,
“Ya Allah, jika takdir-Mu adalah aku tetap berjalan dengan luka ini, maka jadikanlah luka itu sebagai jalan untuk lebih dekat kepada-Mu. Sebab hanya kepada-Mu segala hati akan kembali menemukan ketenangannya.”

Pada akhirnya, semua cinta manusia hanyalah persinggahan.
Sedangkan cinta kepada Allah adalah pelabuhan terakhir tempat jiwa menemukan rumahnya.
Untuk itu, lelaki penuh luka,  berjalan mundur untuk kedua sosok yang mampu menggetarkan hati dan perasaanya. Do’a do’a malam yang dilangitkan tak minta lagi untuk dipersatukan dalam satu ikatan. Namun, tetap berdo’a dan mendo’a kan untuk kebaikan semuanya.
*****