Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.
Aku, belum sanggup menghapus namamu dari daftar kontak di handphoneku. Padahal, nomor itu sudah lama tak menuju ke mana-mana. Tak ada nada sambung. Tak ada balasan singkat yang membuat dada berdebar. Tak ada lagi tanda “sedang mengetik…” yang dulu mampu membuat waktu terjeda berjalan lebih lambat.
Namamu tetap tinggal.
Sesekali, di sela malam yang lengang — setelah semua percakapan selesai, dengan urusannya masing-masing. Jemariku , tanpa sengaja berhenti pada deretan huruf yang menyusun namamu. Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Seolah ada pintu yang pernah terbuka lebar, lalu ditutup takdir tanpa sempat kutanyakan alasan.
Namamu, masih tersimpan di antara orang-orang yang masih bisa kuhubungi. Ironis, bukan? Mereka yang masih hidup dalam jangkauan suara justru sering terlupakan. Sementara, dirimu yang telah menjadi jarak, tetap mendapat tempat paling sunyi di dalam ingatan.
Aku tak mencarimu. Namun, aku juga belum sanggup menghapusmu.
Mungkin, beginilah bentuk kehilangan yang paling jujur: bukan tangis yang dipertontonkan, bukan puisi yang diumbar kepada banyak telinga. Melainkan, hal-hal kecil yang diam-diam kita pertahankan. Sebuah foto lama yang enggan dibuang. Pesan singkat yang tak pernah benar-benar dihapus. Atau sebuah nomor telepon yang sudah mati, tetapi namanya tetap hidup di layar kecil yang setiap hari kita genggam.

Barangkali, bukan nomor itu yang sedang kita jaga. Melainkan, kenangan tentang seseorang yang pernah membuat hidup terasa lebih bermakna.
Aku pernah beberapa kali niat menghapusnya. Dengan keberanian yang kupaksa tumbuh, kubuka daftar kontak itu. Jemariku sempat menggantung pada pilihan “hapus”. Namun, entah mengapa, selalu ada sesuatu yang menahan.
Bukan karena aku berharap, engkau akan kembali menghubungi. Tidak. Waktu telah mengajariku bahwa tidak semua yang pergi ditakdirkan untuk pulang.
Aku hanya takut, setelah tombol itu kutekan, tak ada lagi yang tersisa darimu.
Bukankah manusia sering kali bersikap lucu terhadap kehilangan? Kita tahu, bahwa kenangan tidak tinggal dalam benda. Namun, kita tetap menyimpan benda-benda itu, seolah dengan begitu waktu dapat ditawar sedikit lebih lama.
Ada yang menyimpan tiket perjalanan.
Ada yang menyimpan bunga kering di sela halaman buku.
Ada pula, yang menyimpan nomor telepon yang tak akan pernah aktif lagi.
Mungkin itulah cara kita berdamai dengan perpisahan.Tidak benar-benar melepaskan, tetapi belajar hidup berdampingan dengan ketiadaan.

Pada usia yang cukup matang, aku mulai mengerti bahwa rindu dan cinta bukan selalu tentang keinginan memiliki kembali. Ada rindu yang sekadar ingin duduk tenang di beranda hati — mengenang seseorang dengan do’a-do’a yang tak bersuara.
Sebab cinta, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa yang berhasil tinggal. Kadang ia adalah tentang siapa yang pernah hadir, lalu meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus oleh pergantian musim.
Ada satir yang diam-diam menertawakan kita: manusia mampu mengganti handphone berkali-kali. Mengganti nomor, mengganti pekerjaan. Bahkan, mengganti alamat rumah. Namun, untuk menghapus satu nama yang pernah membuatnya bahagia, ternyata membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar.
Barangkali, karena hati tidak bekerja seperti teknologi. Ia tak mengenal tombol delete.
Yang ada, hanyalah ikhlas. Sebuah pelajaran panjang yang harus dipelajari berulang-ulang.
Dalam keyakinanku, Allah tidak pernah keliru mempertemukan dua insan. Ada yang dipertemukan untuk membersamai hingga akhir usia. Ada pula yang hanya singgah untuk mengajarkan arti kehilangan, kesabaran, dan cara mencintai tanpa harus memiliki.
Dan mungkin, engkau adalah salah satu do’a yang dijawab dengan cara yang berbeda. Jika suatu hari nanti aku benar-benar menghapus namamu dari layar handphone ini, semoga itu bukan karena aku telah melupakanmu. Melainkan, karena aku telah menitipkan seluruh kenangan itu kepada Allah, Dzat yang tak pernah salah menyusun takdir.
Sebab, ada cinta yang selesai dalam kepemilikan. Ada pula, cinta yang matang dalam keikhlasan.
Dan, jika kelak seseorang bertanya, mengapa nomor yang tak lagi hidup itu pernah kusimpan begitu lama? Aku akan menjawab dengan sederhana:
“Karena, tidak semua kehilangan, harus segera dilupakan.”
Ada beberapa nama yang tetap tinggal sebagai pengingat. Bahwa, kita pernah menjadi manusia yang sungguh-sungguh mencintai.
Maka, biarlah untuk sementara waktu namamu tetap berada di hati ku. Di sudut daftar kontak yang jarang kubuka. Bukan untuk kupanggil kembali, bukan pula untuk menghidupkan harapan yang telah selesai.
Hanya sebagai saksi, ada suatu masa, di bawah langit yang sama, pernah ada seseorang yang kusebut dalam do’a-do’a terbaikku.
Dan, hingga hari ini, di sela dering notifikasi yang datang silih berganti. Masih tersisa satu sunyi, yang belum sanggup kuhapus dari layar handphoneku.
Yakni: Namamu, Kangmas……
Depok, 17 Juni 2026
