Humaniora
Beranda » Humaniora » MI Roudotutta’lim Menutup Tahun Ajaran dengan Pentas, Apresiasi, dan Haru Kebersamaan

MI Roudotutta’lim Menutup Tahun Ajaran dengan Pentas, Apresiasi, dan Haru Kebersamaan

Oleh: Anne Y. Wachyuni, S.Pd., C.EQL., C.PQI., C.RQM., C.MT

Bandung Barat, 17 Juni 2026 — Tangis haru seakan sengaja ditahan hingga penghujung acara. Suasana hangat itulah yang mewarnai kegiatan Pembagian Rapor Akhir Tahun Ajaran 2025/2026 di MI Roudotutta’lim Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Berbeda dari kebiasaan yang lazim dilakukan banyak sekolah, MI Roudotutta’lim memilih mengawali kegiatan dengan sentuhan emosional dan apresiatif. Urutan acara disusun secara sederhana namun bermakna: Pentas Seni, Pengumuman Siswa Terbaik. Lantas pembagian rapor di kelas masing-masing.

Tiga ruang kelas disulap menjadi aula sederhana. Di atas panggung terpampang spanduk bertuliskan “Tasyakuran Pelepasan Kelas VI dan Kenaikan Kelas I–V”. Orang tua duduk berjejer rapi. Sementara, para siswa tampak antusias menantikan giliran tampil maupun menyaksikan penampilan teman-temannya.

Tak ada kemewahan berlebihan. Yang hadir, justru suasana kekeluargaan, do’a-do’a tulus, serta kebanggaan atas perjalanan belajar yang telah dilalui selama satu tahun penuh.

Wanita Tameng di Balik Kerudung Hitam:Catatan dari Sebuah Lorong Kekuasaan

Panggung Keberanian dan Ekspresi Anak-anak

Acara dibuka dengan pentas seni yang menampilkan beragam bakat siswa. Menariknya, penampilan tidak disusun berdasarkan urutan kelas. Setiap kelompok tampil bergantian, menciptakan suasana yang hidup dan penuh kejutan.
Paduan suara dari siswa kelas 3A menjadi pembuka yang berhasil menyentuh perasaan para hadirin.
Lantunan lagu dibawakan dengan penuh semangat, mengawali rangkaian pertunjukan yang sarat makna.

Berikutnya, panggung diwarnai aneka tarian. Mulai dari nuansa Timur Tengah, tari daerah seperti Ampar-Ampar Pisang dan Jaipong, hingga Tari Islami Rahmatan Lil ‘Alamin. Tak ketinggalan, penampilan tari modern bernuansa Korea yang dikemas kreatif dengan kostum menarik, namun tetap menjaga nilai kesopanan dan aurat.

Di balik setiap gerakan dan penampilan, tersimpan pesan sederhana, namun mendalam: sebelum melihat hasil dalam bentuk angka, mari melihat terlebih dahulu proses yang telah dijalani anak-anak.
Mereka belajar untuk berani tampil, berani mencoba, bahkan berani melakukan kesalahan di hadapan banyak orang. Tepuk tangan paling meriah justru diberikan kepada beberapa siswa yang sempat lupa gerakan, tetapi tetap tersenyum dan menyelesaikan penampilannya hingga akhir.
Sebuah pelajaran berharga, tentang keberanian dan ketangguhan yang tak tertulis dalam rapor.

Usai pentas seni, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Para pembawa acara mulai membacakan nama-nama siswa berprestasi dari setiap kelas.
Satu per satu, tiga siswa dengan nilai akademik tertinggi dari kelas I hingga kelas V dipanggil ke atas panggung. Wajah-wajah ceria bercampur gugup terlihat jelas ketika mereka melangkah menerima penghargaan.

Sisa Kangen yang Belum Sanggup Kuhapus di Layar Handphone

Momen itu, menjadi simbol penghormatan atas kerja keras, disiplin, dan ketekunan yang telah mereka tunjukkan sepanjang tahun ajaran.
Dengan penuh hormat, para siswa menyalami wali kelas masing-masing sebelum menerima sertifikat penghargaan, rapor, dan hadiah yang telah disiapkan sekolah.

Di hadapan para orang tua, tepuk tangan mengiringi setiap nama yang disebutkan, menjadi bentuk dukungan sekaligus motivasi bagi seluruh peserta didik.
Puncak acara justru berlangsung dalam suasana yang lebih tenang dan personal.
Setelah sesi panggung berakhir, para orang tua dipersilakan memasuki kelas anak masing-masing untuk menerima rapor secara langsung dari wali kelas.

Di sinilah percakapan-percakapan bermakna terjadi. Wali kelas menyerahkan rapor satu per satu sembari menjelaskan perkembangan belajar siswa, kelebihan yang perlu dipertahankan, serta hal-hal yang masih perlu ditingkatkan bersama selama masa liburan.

Ada nasihat yang disampaikan dengan lembut. Ada pelukan hangat antara orang tua dan anak. Ada pula pesan yang begitu membekas:
“Anak-anak semuanya adalah juara. Ada yang juara dalam kesabaran, juara dalam akhlak, dan juara dalam adab. Piala mungkin hanya diberikan kepada tiga orang, tetapi pahala istiqamah diberikan kepada semua yang terus berusaha.”

Menariknya, tidak ada air mata kesedihan karena nilai akademik. Seluruh siswa berhasil mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah, yaitu 72. Mereka pulang dengan senyum yang mengembang dan kepala yang tegak, membawa kebanggaan atas usaha yang telah dilakukan selama setahun penuh.

Lelaki Itu Terluka

Merayakan Nilai yang Tak Tertulis

Ketika rapor telah tersimpan rapi di dalam tas dan doa penutup dipanjatkan bersama, berakhirlah rangkaian kegiatan tersebut.
Namun sesungguhnya, yang dibawa pulang anak-anak bukan hanya lembaran angka dan catatan hasil belajar. Mereka membawa kenangan tampil di atas panggung, semangat dari penghargaan yang diberikan, serta pengalaman berharga tentang keberanian, kerja keras, dan kebersamaan.

Selamat menikmati masa liburan bagi seluruh siswa MI Roudotutta’lim. Selamat kepada para siswa terbaik di setiap kelas yang telah menorehkan prestasi membanggakan.

Dan selamat yang paling tulus untuk seluruh anak-anak yang selama satu tahun terakhir tak pernah lelah menebarkan salam, menghormati guru, menjaga adab, dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Sebab ada nilai-nilai kehidupan yang tak pernah tercetak di dalam rapor, tetapi justru menjadi bekal paling berharga untuk masa depan.

“Allāhumma ja‘alnā minal ‘ulamā’il ‘āmilīn.”
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.
Semoga naskah ini terasa lebih seperti feature pendidikan di media massa: hangat, humanis, mengangkat suasana dan makna di balik peristiwa, bukan sekadar melaporkan rangkaian acara.