Oleh: Dr.Maria Susana Yudianti, S.Pd, M.Pd.
Ada kampus yang berdiri megah dengan jargon integritas, akreditasi, dan peradaban. Gedungnya menjulang. Para petingginya bergelar panjang. Dinding-dindingnya dipenuhi kutipan tentang moralitas, etika, dan pengabdian kepada ilmu pengetahuan.
Namun, seperti istana dalam kisah-kisah klasik. Tidak semua yang tampak bercahaya, lahir dari cahaya.
Di balik ruang rapat, yang berpendingin udara dan pidato-pidato tentang profesionalisme, aku menemukan kenyataan yang berbeda.
Sebuah kerajaan kecil yang diwariskan bukan melalui kompetensi, melainkan garis keturunan. Jabatan berpindah dari tangan ke tangan seperti pusaka keluarga.
Di sana ada ayah, anak, menantu, keponakan, saudara, kerabat, bahkan orang-orang yang kedudukannya tak pernah tertulis dalam struktur organisasi, namun pengaruhnya mampu menggoyahkan keputusan resmi lembaga.
Ironisnya, dalam kerajaan modern itu, kadang seorang selir lebih didengar daripada seorang akademisi.
Maka, aku pun bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah aku sedang bekerja di perguruan tinggi atau sedang hidup di dalam babad sebuah dinasti ha ha ha…?”
Aku datang sebagai orang asing.
Bukan anak pejabat. Bukan keluarga petinggi. Bukan bagian dari lingkaran darah yang diwariskan turun-temurun.
Aku, hanya seorang dosen psikologi —- yang percaya, bahwa pendidikan dibangun oleh ilmu, bukan silsilah.
Betapa naifnya keyakinan itu.
Pada bulan-bulan pertama, aku ditempatkan pada posisi yang banyak diimpikan orang. Sebuah amanah yang secara profesional membanggakan.
Namun, rupanya posisi, itu seperti duduk di singgasana yang tidak diinginkan keluarga kerajaan.
Sejak saat itulah, fitnah mulai diproduksi.
Fitnah adalah senjata paling murah dalam sejarah kekuasaan. Ia tidak membutuhkan bukti. Tidak memerlukan logika. Tidak membutuhkan saksi.
Fitnah, hanya memerlukan orang-orang yang takut kehilangan kenyamanan.
Dan, di lingkungan yang dibangun di atas ketakutan, kebenaran sering kali dianggap sebagai ancaman.
Sebagai dosen psikologi, aku mempelajari perilaku manusia.
Namun, pengalaman ini mengajarkan sesuatu, yang tak pernah tertulis dalam buku-buku teori.
Bahwa, manusia berpendidikan tinggi tidak otomatis menjadi manusia yang tercerahkan.
Gelar akademik, hanya mampu mengubah nama di depan pintu kantor.
Tetapi, tidak selalu mampu mengubah isi hati.
Ada profesor yang masih diperbudak ego.
Ada doktor yang tetap menjadi budak ambisi.
Ada pemimpin yang hafal teori kepemimpinan, namun gagal memimpin dirinya sendiri.
Mereka mengajarkan etika di podium, tetapi melupakan etika, ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Mereka berbicara tentang keadilan. Tetapi, diam saat ketidakadilan terjadi di depan mata.
Mereka mengutip ayat-ayat Tuhan, tetapi takut kehilangan jabatan melibihi daripada takut kepada Tuhan.
Dalam dua tahun lebih, aku menjalani hari-hari yang terasa seperti berjalan di atas kaca.
Duduk salah.
Berdiri salah.
Berbicara salah.
Diam pun salah.
Setiap langkah seolah diawasi.
Setiap gerak menjadi bahan tafsir.
Setiap keberhasilan dianggap ancaman.
Setiap kesalahan dibesarkan menjadi dosa.
Saya menjadi tameng.
Tameng bagi rahasia yang bukan milik aku.
Tameng bagi konflik yang tidak aku ciptakan.
Tameng bagi hubungan-hubungan yang tidak aku jalani.
Tameng bagi kepentingan yang tidak pernah aku minta.
Ketika masyarakat kampus bertanya, siapa sebenarnya raja dan siapa selir dalam cerita ini? Nama aku justru dilemparkan ke tengah arena.
Aku dijadikan kambing hitam, agar wajah-wajah yang sesungguhnya tetap tampak suci.
Begitulah cara kekuasaan bekerja, ketika kehilangan nurani.
Ia tidak mencari kebenaran.
Ia mencari korban.
Suatu sore yang mendung, aku pernah berteriak sendirian di kamar mandi.
Bukan karena lemah.
Melainkan karena luka yang terlalu lama dipendam, akan mencari jalannya sendiri untuk keluar.
Air mata yang tidak diberi ruang akan berubah menjadi jeritan.
Jeritan yang tidak didengar manusia akan naik menjadi do’a.
Dan do’a orang yang terzolimi memiliki jalur khusus menuju langit.
Di hadapan Allah aku bertanya:
“Ya Rabb, kesalahan apa yang sedang Engkau tunjukkan kepadaku melalui semua ini?”
Tidak ada jawaban yang turun dari langit.
Namun, perlahan aku memahami:
Tidak semua ujian datang untuk menghukum.
Sebagian ujian, datang untuk memperlihatkan, siapa yang benar-benar bersama kita.
Dan ternyata, ketika semua pergi, hanya Allah yang tetap tinggal.
Pagi-pagi aku berangkat bekerja dengan sholawat. Dzikir menjadi bekal.
Dhuha menjadi penyangga.
Tahajud menjadi tempat aku menambal jiwa yang retak.
Karena tanpa itu semua, mungkin aku sudah runtuh sejak lama.
Di gedung yang dihuni puluhaan pegawai, dan ratusan mahasiswa, aku sering merasa menjadi orang yang paling asing.
Tatapan sinis, lebih banyak daripada senyum.
Bisik-bisik lebih sering terdengar daripada salam.
Sebagian orang memalingkan wajah. Seolah aku membawa penyakit menular.
Padahal, aku yang luka.
Luka yang mereka sendiri ciptakan.
Ada pelajaran besar yang aku dapatkan dari semua ini.
Ikhlas, ternyata bukan kalimat yang mudah ditulis dalam status media sosial.
Ikhlas adalah jalan berbatu yang harus dilalui sambil berdarah darah.
Ikhlas bukan teori.
Ia adalah praktik.
Bukan ucapan.
Melainkan, perjalanan panjang antara kecewa dan ridho.
Aku belajar, bahwa manusia bisa merampas nama baik.
Manusia bisa merampas jabatan.
Manusia bisa merampas kesempatan.
Tetapi, manusia tidak pernah mampu merampas nilai seseorang di hadapan Allah.
Karena nilai seorang manusia, tidak ditentukan oleh rapat pimpinan.
Tidak ditentukan oleh struktur organisasi.
Tidak ditentukan oleh keluarga penguasa.
Melainkan ditentukan oleh Tuhan yang mengetahui isi hati.
Hari ini aku tidak lagi ingin bertanya, mengapa mereka menyakiti ku?
Sebab ,sejarah telah mengajarkan, bahwa para pencinta kekuasaan selalu membutuhkan korban untuk mempertahankan takhtanya.
Yang aku tanyakan sekarang adalah:
“Sudahkah aku lulus dari ujian ini?”
Karena pada akhirnya, semua raja kecil akan turun dari kursinya.
Semua dinasti akan berakhir.
Semua kekuasaan akan berganti tangan.
Semua nama akan menjadi batu nisan.
Dan, ketika hari itu tiba, tidak ada lagi gelar, jabatan, keluarga, ataupun selir yang dapat membantu.
Yang tersisa hanyalah amal.
Yang tersisa hanyalah kejujuran.
Yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Sementara, aku, wanita sederhana di balik kerudung hitam, masih berdiri.
Masih terluka.
Masih menangis dalam sujud.
Namun, belum kalah.
Karena selama Allah masih menjadi tempat pulang, tidak ada kehancuran yang benar-benar mampu menghancurkan seorang hamba.
Dan, selama do’a masih naik ke langit, harapan tidak pernah mati.
******
