Oleh: Dr. Maria Susana Yudianti, M.Pd.
Ada ironi yang menyakitkan dalam dunia pendidikan tinggi kita. Kampus yang seharusnya menjadi rumah ilmu, ruang dialog, dan benteng etika. Terkadang, justru meninggalkan kisah pilu yang tak pernah masuk dalam laporan akreditasi ataupun pidato dies natalis.
Di balik megahnya gedung, tingginya peringkat, dan sederet gelar akademik — ada dosen yang pulang membawa luka. Bukan karena gagal mengajar, bukan karena minim prestasi. Melainkan, karena merasa kehilangan penghormatan terhadap martabatnya sebagai manusia.
Sebuah kisah yang beredar dari seorang dosen, di salah satu perguruan tinggi di Bandung patut menjadi bahan perenungan bersama. Ia mengaku, “memilih mengundurkan diri” dari jabatan struktural dan berpindah ke kampus lain. Bukan karena mengejar karier, melainkan demi mencari ruang pengabdian yang lebih menenangkan jiwa.
Yang membuat kisah ini menyayat bukanlah perpindahan itu. Melainkan, pengakuannya. Bahwa, saat berpamitan, ia justru menerima kata-kata yang menurutnya sangat merendahkan. Jika pengakuan tersebut benar. Maka, itu bukan sekadar konflik pribadi. Tetapi, tamparan bagi nilai-nilai akademik yang seharusnya menjunjung tinggi adab, penghormatan, dan kemanusiaan.
Lebih jauh lagi, muncul pula persepsi tentang adanya praktik yang dianggap menyerupai nepotisme dalam tata kelola lembaga. Persepsi seperti ini, benar ataupun tidak, tidak boleh dibiarkan menggantung. Sebab, ketika publik mulai meragukan independensi dan profesionalisme sebuah institusi pendidikan, yang dipertaruhkan bukan hanya nama kampus — tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap dunia akademik.

Sudah saatnya para pemangku kebijakan —mulai dari pimpinan perguruan tinggi, yayasan, hingga Kementerian Pendidikan—memastikan bahwa setiap kampus memiliki mekanisme yang adil untuk menangani dugaan perundungan, penyalahgunaan wewenang, maupun konflik internal. Tidak boleh ada seorang dosen yang merasa takut menyampaikan pendapat atau memilih diam karena khawatir kehilangan ruang hidupnya.
Kampus bukan kerajaan. Jabatan bukan mahkota. Kekuasaan bukan alasan untuk merendahkan martabat orang lain.
Dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak mendzoiminya dan tidak menyerahkannya kepada kedzoliman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi pengingat, bahwa sebesar apa pun jabatan seseorang, kehormatan manusia tetap harus dijaga.
Kepada para pemimpin pendidikan di negeri ini, dengarkanlah suara-suara lirih yang selama ini tenggelam di balik tembok kampus. Tidak semua dosen mampu berbicara lantang. Banyak yang memilih diam demi menjaga nama baik institusi, meski hatinya remuk.
Sebab, pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya profesor, jurnal bereputasi, atau gedung yang menjulang. Pendidikan juga diukur dari seberapa manusiawi sebuah institusi memperlakukan para pendidiknya.
Semoga setiap kampus benar-benar menjadi taman ilmu yang menumbuhkan akhlak, bukan ruang yang membuat orang baik memilih pergi.
Dan, bila memang ada ketidakadilan, semoga ia diusut secara jujur, objektif, dan bermartabat, agar keadilan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar dirasakan oleh setiap insan akademik.
****
