Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Langit malam Jum’at selalu memiliki bahasa yang berbeda. Angin berembus lebih teduh, langkah kaki terasa lebih ringan. Dan, hati seolah dipanggil untuk kembali pulang kepada Rabb-nya. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti, Majelis Ilmu Al-Misbah dipimpin oleh Ustadz M.Alif menjadi sebuah pelabuhan ruhani: tempat manusia, khususnya kami, membersihkan debu-debu dunia yang melekat di hati.
Di majelis sederhana itulah para pencari ilmu, seperti kami, duduk melingkar memanjang — tanpa memandang usia, profesi, maupun kedudukan. Yang kaya dan yang sederhana, yang muda dan yang sepuh, semuanya sama-sama menjadi murid di hadapan ilmu Allah.
Malam itu, dimulai dengan bacaan surah Al-Khafi — masing masing jema’ah mendapat kebagian dengan ikhlas membaca surah Al-Khafi hingga semua jema’ah dapat menuntaskan 110 ayat dari surah tersebut.
Ayat demi ayat menggema, menembus relung jiwa. Suara para jamaah “mengingatkan’. Bahwa, manusia hanyalah hamba yang tengah meniti perjalanan pulang.

Surah Al-Kahfi menjadi penawar bagi hati yang lelah. Rasulullah SAW bersabda,
“Barang siapa membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jum’at, niscaya akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jum’at.”
(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Bukankah hidup ini memang membutuhkan cahaya? Cahaya yang menerangi langkah, ketika dunia menawarkan begitu banyak jalan yang menyesatkan.
Allah SWT berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujadilah : 11)
Ayat ini menjadi pengingat. Bahwa, kemuliaan seorang manusia bukan diukur dari banyaknya harta, jabatan, titel atau popularitas. Kemuliaan lahir dari keimanan dan ilmu yang diamalkan.
Lantas, setelah jeda beberapa menit —- se seyrupun kopi panas dan sebatang udut. Kami lanjut membacakan surah Yasin, yang dipimpin oleh H. Nasiron.
Majelis Al-Misbah tidak hanya dipenuhi bacaan Al-Qur’an. Di penghujung malam – malam tertentu, semisal malam jum’at kliwon — wirid dan do’a munajat dalam al qur’an yang di susun dalam buku: Munajat, oleh KHR Syarif Rahmat RA — mengalir dengan penuh harap.
Ada yang ngebatin, memohon ampun atas dosa-dosa yang telah lalu. Ada yang bersedih meminta kesehatan bagi keluarga. Ada pula yang memohon agar istiqomah hingga akhir hayat.
Barangkali, di luar sana dunia sedang sibuk mengejar gemerlap cahaya buatan manusia. Namun, di majelis ilmu, kami justru sedang mencari cahaya yang hakiki.
Para ulama sejak dahulu mengatakan,
“Al-‘Ilmu Nuurun” — Ilmu adalah cahaya.
Cahaya itu tidak sekadar memenuhi akal. Tetapi, juga menerangi hati.Sehingga, seseorang mampu membedakan antara yang hak dan yang batil.
Ustadz Abdul Somad, misalnya, pernah mengingatkan. Bahwa, majelis ilmu adalah taman-taman surga di dunia; siapa yang istiqomah menghadirinya, sesungguhnya sedang mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi.
Senada dengan itu, Ustadz Adi Hidayat sering menegaskan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan amal yang benar, dan amal yang benar akan mengantarkan manusia kepada kemuliaan di sisi Allah.
Kalimat-kalimat itu terasa hidup. Guru tidak hanya mengajarkan dalil. Tetapi, juga keteladanan. Murid tidak sekadar mendengar, melainkan belajar merendahkan hati. Sebab, keberkahan ilmu sering kali lahir dari adab sebelum pengetahuan.
Di zaman ketika informasi dapat diperoleh hanya dengan sentuhan jari, keberadaan guru tetap tak tergantikan. Buku dapat dibaca, video dapat diputar berulang kali. Tetapi, keberkahan ilmu sering kali mengalir melalui tatapan, nasihat, dan do’a seorang guru yang ikhlas.
Membersamai guru adalah perjalanan panjang menata hati. Bukan sekadar menambah wawasan. Tetapi, memperbaiki akhlak. Sebab, ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan. Sedangkan ilmu yang dibingkai adab, akan melahirkan kebijaksanaan.
Malam semakin larut. Majelis Ilmu Al-Misbah ditutup dengan do’a-do’a penuh harapan, dipimpin oleh H. Hairil. Sebelum jemaah pulang membawa ketenangan yang tak dapat dibeli dengan apa pun. Biasanya, kami masih membersamai guru sambil ngopi ngopi dan ngemil ala kadarnya — yang dibawa oleh jema’ah. Mungkin, esok diantara kami ada yang kembali berkutat dengan pekerjaan, kemacetan, persoalan keluarga, dan kerasnya kehidupan.
Namun, malam itu kami telah mengisi lentera hati dengan cahaya Al-Qur’an, dzikir, dan ilmu. Semoga langkah kaki yang istiqomah menuju Majelis Ilmu Al-Misbah senantiasa dicatat sebagai amal saleh.
Sebab, sejatinya, perjalanan menuju majelis ilmu bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat. Melainkan, perjalanan menuju cahaya yang akan menerangi dunia, alam kubur, hingga mengantarkan seorang hamba pulang menuju ridho Allah SWT.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ
(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
(QS. Ali ‘Imran : 8)
*****
