Oleh: Dr. Maria Susana Yudianti, S.Pd, M.Pd.
Ada sekolah yang berdiri karena investasi. Ada pula sekolah yang lahir dari panggilan hati. PAUD dan KOBER Al-Ikhlas Bunda Susan termasuk pilihan yang kedua. Rumah pendidikan itu berada di kaki gunung Manglayang, Bandung. Jl Cilengkrang 1 Kp Cipulus N0: 2 RT 02 RW 010.
Tak ada gedung megah yang menjulang. Tak pula halaman luas yang dipenuhi fasilitas modern. Hanya ruangan sederhana yang setiap pagi dipenuhi langkah-langkah kecil, suara tawa anak-anak, lantunan do’a — serta harapan para orang tua yang ingin buah hatinya tumbuh menjadi generasi berilmu sekaligus berakhlak.
Di tempat sederhana itulah, selama tujuh belas tahun, cahaya pendidikan terus dinyalakan. Senin, 22 Juni 2026, suasana haru menyelimuti acara pelepasan dan kenaikan kelas PAUD dan KOBER Al-Ikhlas Bunda Susan. Bukan kemewahan yang menjadi pusat perhatian. Melainkan, kehangatan kebersamaan yang sulit dibeli oleh apa pun.
Setiap pelukan orang tua, senyum para guru, dan langkah kecil anak-anak yang bersiap melanjutkan perjalanan pendidikan menjadi saksi bahwa proses mendidik bukan sekadar memindahkan ilmu, melainkan menanamkan kehidupan.
Di balik semua itu, maaf berdiri aku sebagai sosok Dr. Maria Susana Yudianti, S.Pd. M.Pd — sebagai perempuan yang selama hampir dua dekade memilih mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan. Perjalanan itu dimulai pada September 2009.

Saat rumah pribadiku bahkan belum benar-benar selesai dibangun, cita-cita justru lebih dahulu aku ditegakkan. Dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT. Aku mendirikan PAUD, PKBM, Majelis Taklim, Bimbingan Konseling, Pondok Baca, hingga kelompok belajar mahasiswa.
Tak sedikit yang meragukan. Namun, bagi seorang pendidik, keyakinan adalah modal yang lebih besar daripada materi.
Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain?
Saat itu, aku masih mengemban amanah sebagai guru tetap di SD Labschool UPI, Cibiru. Kegiatan belajar dilaksanakan setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. Setelah hadir para pendidik lain, kegiatan belajar berlangsung normal setiap hari.
Tahun demi tahun berlalu.
Satu angkatan berganti angkatan berikutnya. Anak-anak yang dahulu mengeja huruf hijaiyah dengan terbata-bata, kini telah tumbuh menjadi pelajar di berbagai jenjang pendidikan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah: semangat melayani.
Di tengah mahalnya biaya pendidikan, PAUD Al-Ikhlas memilih tetap membuka pintu selebar-lebarnya bagi masyarakat bawah. Tidak ada SPP. Tidak ada pungutan rutin. Hanya sebuah kencleng keikhlasan senilai tiga ribu rupiah setiap kali anak datang belajar.

Barangkali, secara ekonomi, pilihan itu tampak tidak masuk akal.
Namun, dalam logika keimanan, rezeki tidak selalu datang dari hitungan manusia. Allah membuka pintu-pintu yang sering kali tak pernah diduga.
Sebagian alat tulis, buku, hingga alat peraga edukatif berasal dari para mahasiswa, sahabat, dan kolega yang ikut percaya bahwa pendidikan adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Tahun ini, pelepasan siswa berlangsung lebih sederhana. Kebijakan pemerintah agar sekolah tidak membebani orang tua menjadi momentum untuk kembali meneguhkan makna syukur.
Tak ada pesta yang berlebihan.
Namun, justru di situlah kebahagiaan menemukan wajahnya.
Orang tua bergotong royong menyiapkan hidangan. Para guru menghias ruangan dengan penuh cinta. Anak-anak menampilkan pentas sederhana yang mampu membuat air mata haru jatuh tanpa diminta.
Sejatinya kebahagian bukan lahir dari kemewahan. Melainkan, dari hati yang saling mengikhlaskan.
Meski demikian, perjalanan mendidik juga menghadirkan renungan.
Sebagai praktisi dan akademisi pendidikan, aku melihat semakin memudarnya adab di sebagian kalangan. Maaf….ada orang tua yang begitu santun, menghormati guru, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Namun, ada pula yang mulai kehilangan etika dalam berinteraksi.
Padahal, pendidikan karakter selalu dimulai dari rumah.
Sekolah hanya melanjutkan apa yang telah ditanamkan keluarga.
Guru boleh mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Namun, adab lahir dari contoh yang setiap hari dilihat anak-anak di rumahnya.
Karena itu, penghargaan yang diberikan kepada orang tua terbaik pada acara pelepasan bukan sekadar simbol. Ia adalah pesan bahwa pendidikan adalah kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
Di penghujung acara, aku dan para pendidik lainnya, menyampaikan permohonan maaf karena tahun ini belum mampu memberikan hadiah terbaik kepada para siswa. Pada saat yang sama, aku juga tengah mempersiapkan kelulusan putra kedua, sehingga kemampuan finansial harus dibagi.
Di tengah keterbatasan itu, para wali murid menunjukkan ketulusan yang luar biasa.
Mereka bergotong royong membantu dekorasi, konsumsi, hingga memberikan cendera mata untuk sekolah.
Keikhlasan ternyata memang selalu menemukan jalannya sendiri.
Kini, masih ada do’a yang terus ku dipanjatkan setiap selesai sujud.
Semoga PAUD Al-Ikhlas memiliki alat peraga edukatif yang memadai, sarana pembelajaran yang lebih layak, sumber air bersih yang cukup, serta mampu terus menjadi rumah ilmu bagi masyarakat.
Lebih dari itu, aku sebagai “motor” rumah pendidikan Bunda Susa, memimpikan lembaga ini menjadi laboratorium pendidikan bagi mahasiswa calon guru.
Tempat mereka belajar, bukan hanya tentang metode mengajar, tetapi juga tentang cinta, pengabdian, dan keikhlasan.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar mencetak anak-anak yang cerdas.
Pendidikan adalah ikhtiar melahirkan manusia yang mengenal Tuhannya, menghormati orang tuanya, memuliakan gurunya, mencintai sesamanya, dan kelak menjadi cahaya bagi zamannya.
Dari ruang kelas sederhana di sudut Kota Bandung itu, pelajaran terbesar sesungguhnya sedang diajarkan kepada kita semua: bahwa keikhlasan adalah kurikulum paling mahal dalam dunia pendidikan.
Dan, selama masih ada orang-orang yang mengajar karena Allah, harapan bangsa ini tidak akan pernah benar-benar padam.
******
