KABARHIBURAN.ID – Film horor Indonesia terbaru PEMIKAT JIWA menghadirkan pendekatan berbeda dalam mengangkat tema pelet.
Tidak hanya memperlihatkan teror yang dialami korban, film arahan Dom Dharmo ini, juga membawa penonton melihat sisi orang yang melakukan, ketika rasa suka berubah menjadi obsesi dan membuka jalan menuju keputusan berbahaya.
Setelah penayangan awal, sejumlah penonton menilai bahwa PEMIKAT JIWA bukan sekadar horor tentang pelet.
Film ini disebut memiliki daya tarik karena berani memperlihatkan dua sisi dari teror yang sama: pihak yang memaksa rasa, dan pihak yang hidupnya berubah karena rasa itu dipaksakan.
Lewat karakter Jay yang diperankan Fajar Nugra, penonton diajak melihat bagaimana obsesi dapat tumbuh dari penolakan yang tidak diterima dengan sehat.
Jay bukan hanya digambarkan sebagai sosok yang jatuh cinta, tetapi sebagai laki-laki yang merasa berhak memiliki. Dari titik itu, cinta berubah menjadi paksaan, dan paksaan membuka pintu bagi teror yang lebih gelap.
Di sisi lain, Wulan yang diperankan Givina Lukita menjadi pusat dari dampak tindakan tersebut.
Film ini tidak menempatkan Wulan hanya sebagai korban yang diam, tetapi memperlihatkan bagaimana hidup, rasa, dan kendali atas dirinya perlahan berubah.

Transformasi Wulan dari sosok yang lembut hingga kehilangan kendali menjadi salah satu bagian yang membuat konflik dalam film terasa semakin intens.
“Film ini menarik karena bukan cuma nunjukin orang yang kena pelet, tapi juga orang yang nekat melakukannya. Dari situ kita lihat bagaimana semuanya mulai rusak, ini menjadi salah satu kesan yang muncul setelah penayangan awal,” kata Shanker R.S selaku Produser PEMIKAT JIWA.
Dijelaskannya, pendekatan dua sudut pandang ini membuat PEMIKAT JIWA terasa tidak sesederhana horor pelet biasa. Penonton tidak hanya diajak takut pada unsur gaib, tetapi juga dibuat tidak nyaman oleh proses manusia yang menganggap cinta bisa dipaksa.
“Film ini memperlihatkan bahwa teror bisa bermula dari hal yang sangat dekat, seseorang yang tidak mampu menerima penolakan,” ujar Shanker R.S.
Sementara itu, kehadiran Yuni Jasmine sebagai Sasi Geni turut memperkuat lapisan horor dalam film tersebut.
Sosok Sasi Geni menjadi pengingat bahwa dalam dunia PEMIKAT JIWA, pelet bukan hanya soal memikat hati seseorang, tetapi juga tentang akibat yang datang setelah manusia memilih jalan gelap.
Selain mengangkat unsur gaib, PEMIKAT JIWA juga menyoroti obsesi, manipulasi, hubungan tidak sehat, serta dampaknya terhadap korban.
Teror dalam film ini tumbuh dari konflik yang terus meningkat, bukan semata dari jump scare. Ketegangan dibangun lewat karakter, atmosfer, dan rasa tidak nyaman yang berkembang sampai akhir.
Dengan cerita dari dua sisi, PEMIKAT JIWA menawarkan horor pelet yang lebih intens dan lebih dekat dengan realitas masyarakat Indonesia.
Film ini tidak hanya bertanya apa yang terjadi ketika seseorang terkena pelet, tetapi juga memperlihatkan bahaya ketika seseorang merasa berhak memaksa cinta orang lain.
PEMIKAT JIWA diproduseri oleh Shanker R.S dan Rama Tribudiman sebagai Executive Producer. Film ini diproduksi oleh Makara Production yang berkolaborasi dengan NUSA Indonesia Bercerita, Jupiter, Salembe, AZ Film dan SHOW Token.
Film ini juga menghadirkan Nuugro Agung sebagai penulis sekaligus penggagas ide cerita. PEMIKAT JIWA tayang mulai 9 Juli 2026 di bioskop seluruh Indonesia. (KH/***)
