Humaniora
Beranda » Humaniora » Ketika Aku Monolog:Aku Bukan Siapa-Siapa Kamu(Jilid 1)

Ketika Aku Monolog:Aku Bukan Siapa-Siapa Kamu(Jilid 1)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

Aku bukan siapa-siapa bagimu.
Bukan nama yang kau sebut dalam do’a-do’a panjangmu. Bukan pula, tangan yang berhak menggenggam langkahmu, ketika jalan terasa terjal. Aku hanyalah seseorang yang, entah sejak kapan, menjadi tempat dirimu menumpahkan lelah, mengadukan sepi, merapikan gamang. Bahkan, ikut memikirkan jalan keluar, ketika hidupmu dihimpit kesulitan. Termasuk, saat keadaan finansialmu nyaris tak lagi berpihak.

Aku melakukannya dengan penuh ikhlas. Tanpa meminta balasan. Tanpa berharap menjadi seseorang yang harus kau miliki.
Namun, ada dinding yang tak mungkin kau runtuhkan. Juga, tak mungkin kudobrak. Dinding itu bernama kehidupan. Bernama rumah tangga — yang telah kita pilih dan kini sama-sama kita jalani.

Sebuah batas yang mengajarkan bahwa tidak semua rasa harus menemukan muaranya. Sering aku bertanya kepada sunyi, sampai kapan kebersamaan yang tak pernah memiliki nama ini akan bertahan? Sampai kapan kita menjadi dua orang yang saling menguatkan, tetapi tak pernah benar-benar dapat saling memiliki?

Apakah di Lauhul Mahfuz telah tertulis sebuah pertemuan lain untuk kita pada hari esok? Ataukah semua ini memang hanya persinggahan, agar kita belajar, bahwa tidak setiap kedekatan diciptakan untuk dipersatukan?
Aku tak hendak meraba takdir. Takdir adalah rahasia langit, dan biarlah langit yang menjawabnya pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Semangat Al-Qur’an Menggema di Pembukaan MTQ 2026 Tingkat Kabupaten Sumedang

Kini, aku tak lagi menyimpan keinginan yang berlebihan untuk memilikimu. Sejak badai itu datang, aku belajar bahwa ada rasa yang harus dikembalikan kepada Pemiliknya. Ada cinta yang cukup disimpan sebagai do’a. Bukan lagi diperjuangkan sebagai ambisius.
Jika suatu hari nanti langkah kita benar-benar harus berpisah, semoga yang tertinggal bukan penyesalan, melainkan syukur. Rasa bersyukur.

Karena kita pernah saling menjadi tempat pulang bagi hati yang lelah, meski tak pernah ditakdirkan menjadi rumah bagi satu sama lain.
Aku bukan siapa-siapa kamu.
Dan mungkin, memang begitulah cara semesta menjaga kita: cukup dekat untuk saling menguatkan, tetapi cukup jauh agar tak saling melukai.
*****