Humaniora
Beranda » Humaniora » Jalan Pulang Seorang Peserta Didik

Jalan Pulang Seorang Peserta Didik

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd.

Menurut orang bijak, hidup adalah pilihan. Banyak anak manusia yang telah merasa aman dan nyaman dengan pencapaian finansial serta kemewahan lahir. Mereka lupa, bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan, setiap kenikmatan yang diraih, dan setiap kesempatan yang digunakan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT pada akhir perjalanan kehidupan ini.

Bagi orang-orang yang diberi kecerdasan—bahkan lebih tepat lagi, mereka yang dianugerahi hidayah—kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Mereka mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang menuju Sang Khalik. Sebab manusia diciptakan dengan dua potensi yang selalu menyertai dirinya: ketakwaan (taqwa) dan kecenderungan kepada keburukan (fujur)

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Asy-Syams ayat 7–10:
وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا
Wa nafsiw wa mā sawwāhā.
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya.” (QS. Asy-Syams: 7)
فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا
Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā.
“Lalu Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 8)
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا
Qad aflaḥa man zakkāhā.
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا
Wa qad khāba man dassāhā.
“Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 10)

Empat ayat dalam Surah Asy-Syams itu menghadirkan gambaran yang begitu terang. Seolah Allah membentangkan dua jalan di hadapan manusia: jalan yang mengantarkan kepada cahaya ketakwaan, dan jalan yang menjerumuskan kepada gelapnya hawa nafsu.

Ketika Aku Monolog:Aku Bukan Siapa-Siapa Kamu(Jilid 1)

Pilihan itu selalu ada, sementara waktu terus berjalan menuju titik akhir kehidupan.
Aku adalah salah satu manusia yang pernah berdiri di persimpangan waktu itu.
Ketika masih aktif bekerja sebagai jurnalis hiburan di sebuah tabloid ternama di negeri ini, jauh sebelum tahun 2014, aku telah menanamkan satu tekad: mengambil pensiun dini.

Dunia jurnalistik hiburan begitu akrab dengan gemerlap panggung, sorot lampu, pesta popularitas, dan kehidupan para selebritas. Di sisi lain, Allah juga menitipkan kepadaku bakat menciptakan lagu. Semua itu, bila dikejar tanpa kendali, dapat menjadi jalan yang begitu mudah menggiring seseorang mencintai dunia secara berlebihan.

Namun, rupanya Allah menyiapkan jalan pulang yang lain.
Selepas pensiun, langkahku perlahan beralih menuju jalan ilmu. Berawal dari menghadiri majelis taklim di sekitar rumah, kemudian melintasi perbatasan Depok dan Tangerang Selatan, tempat aku berdomisili. Aku belajar tahsin di Masjid Mujahidin, Tangsel. Dari sanalah Allah mempertemukanku dengan LPQQ Indonesia.

Melalui lembaga itulah, singkat cerita, aku menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) di Bandung. Perjalanan itu berlanjut hingga kenjang pascasarjana yang hingga kini masih kutempuh. Semakin lama belajar, semakin kusadari bahwa hijrah bukan sekadar berpindah tempat, pekerjaan, atau lingkungan. Hijrah yang sesungguhnya adalah memindahkan hati agar lebih dekat kepada Allah.

Namun ternyata, jalan hijrah tidak pernah sepi dari ujian. Bahkan, dalam banyak keadaan, ia terasa lebih dahsyat dibandingkan ujian ketika aku masih menjadi wartawan.
Suatu hari, sebelum akhirnya aku putuskan ikut perkuliahan, telepon dari sosok yang pernah mengisi lembar awal perjalanan cintaku datang tanpa diduga. Entah dari mana ia memperoleh nomor teleponku. Berkali-kali panggilan itu kutolak. Aku merasa masa lalu seharusnya tetap tinggal sebagai masa lalu.

Semangat Al-Qur’an Menggema di Pembukaan MTQ 2026 Tingkat Kabupaten Sumedang

Namun, takdir sering kali menemukan jalannya sendiri. Pertemuan pertama terjadi. Disusul pertemuan kedua. Hingga akhirnya aku kembali dipertemukan oleh sosok cinta pertamaku dengan sosok sang ibu tua yang dahulu tidak pernah menjadi ibu mertuaku —  tetapi justru pernah menjadi guru agama semasa aku duduk di bangku sekolah dasar. Pertemuan anaknya dengan aku membuka lembaran usang, yang sepatutnya tak perlu di buka kembali.

Peristiwa-peristiwa itu, ternyata menghadirkan gelombang yang tidak kecil di dalam rumah tanggaku.
Di sana, istriku terluka. Sebab, setelah jeda waktu dua puluh delapan tahun, aku sempat “berjalan bersama” lagi pada seseorang yang pernah mengisi ruang kenangan dalam hidupku.

Aku tidak sedang membenarkan diri. Sebab, setiap luka tetaplah luka, dan setiap air mata pasangan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Dari situlah ujian hijrah itu benar-benar dimulai. Rumah yang selama ini terasa teduh, mendadak dipenuhi keheningan. Tatapan yang biasanya hangat berubah dingin. Percakapan menjadi singkat. Bahkan, diam terasa jauh lebih panjang dari pada kata-kata.Terasa mati suri dalam hubungan intim. Jedanya terlalu panjang.

Di tengah suasana itulah — saat aku duduk di bangku kuliah, tanpa kusadari, Allah menghadirkan ruang untuk bercermin.
Aku menemukan tempat berdiskusi, bertanya, dan meluruskan cara berpikir kepada seorang dosen yang kebetulan wanita, hidup tengah sendiri lagi — sekaligus menjadi pembimbing perjalanan ilmiahku. Hubungan itu murni hubungan antara guru dan peserta didik. Tidak lebih. Meski demikian, gosip diantara kami, bukanlah rahasia umum lagi.

17 Tahun PAUD Al-Ikhlas Bunda Susan: Menyalakan Cahaya dari Ruang Kelas Sederhana dan Merawat Harapan dalam Keikhlasan

Nyaris  bersamaan, aku pun menemukan teman wanita, sosok sesama peserta didik yang punya cerita nyaris sama dengan kehidupan yang tengah aku jalani ini. Kami saling menguatkan dan bersenergi untuk bisa masuk kuliah bareng, lulus pun, jika bisa bareng pula. Saling memberi keteguhan dan mendo’akan, untuk kebaikan bersama.

Di ruang-ruang perkuliahan, aku belajar, bahwa ilmu bukan hanya memenuhi kepala dengan teori. Melainkan, juga membersihkan hati dari kesombongan. Dan membimbing dari “teman” dosen dan wanita tersebut, agar kami mampu mengalahkan egonya sendiri.

Sebagai peserta didik, aku perlahan memahami bahwa orang yang sedang berhijrah tidak hanya diuji dengan kemiskinan atau kesulitan hidup. Ia juga diuji oleh kenangan, oleh rasa, oleh masa lalu yang sewaktu-waktu bisa mengetuk pintu hati.

Di titik itulah, aku belajar. Bahwa, musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri.
Hijrah, bukan sekadar meninggalkan sesuatu yang haram. Hijrah adalah kemampuan mengembalikan seluruh cinta kepada pemiliknya yang sejati, Allah SWT.
Aku pun mulai memahami mengapa para ulama mengatakan bahwa perjalanan menuju Allah adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada garis akhir, selain kematian. Selama napas masih berhembus, selama itu pula manusia akan terus diuji.

Kini, aku tetap melangkah sebagai seorang peserta didik. Bukan karena merasa telah menjadi orang baik. Melainkan, karena aku sadar masih terlalu banyak yang harus diperbaiki. Setiap ruang kuliah, setiap majelis ilmu, setiap ayat yang dipelajari, dan setiap nasihat guru, dosen atau teman adalah bagian dari jalan pulang yang sedang kutempuh.

Aku berharap, ketika perjalanan ini benar-benar berakhir, Allah menerima langkah-langkah kecilku sebagai ikhtiar seorang hamba yang tidak pernah berhenti belajar memperbaiki diri.
Sebab, pada akhirnya, gelar tertinggi bukanlah sarjana, magister, doktor, atau profesor. Gelar paling mulia adalah ketika Allah memanggil seorang hamba dengan penuh kasih, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rido dan diridoi”
Semoga, itulah akhir dari seluruh perjalanan seorang peserta didik, seperti aku, kamu dan kalian —  menuju kampung akhirat yang abadi.
******