Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Ketika cinta selalu diukur, dari seberapa sering seseorang mengunggah foto berdua, mengirim bunga. Atau, menuliskan kalimat romantis di media sosial — ada satu bahasa cinta yang perlahan mulai dilupakan, yakni tanggung jawab.
Padahal, dalam pandangan Islam, cinta tidak pernah berhenti pada rasa. Cinta adalah amanah. Dan amanah, selalu menuntut pembuktian.
Seperti firman Allah SWT.
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
(QS. Ar-Rum : 21)
Perhatikan, Allah tidak hanya menyebut mawaddah—cinta yang menggelora. Allah juga menyebut rahmah—kasih sayang yang melahirkan kepedulian, pengorbanan, perlindungan, dan tanggung jawab.
Di sinilah, banyak orang keliru memahami lelaki.

Tidak sedikit lelaki yang gagal mengucapkan kata-kata manis. Mereka kikuk merangkai puisi. Mereka bahkan tampak biasa-biasa saja.
Namun, setiap pagi mereka berangkat dengan membawa letih. Setiap malam, mereka pulang dengan menyimpan banyak lelah — yang tak pernah diceritakan. Mereka memendam cemas sendirian, agar perempuan yang mereka sayangi bisa tidur lebih tenang.
Itulah cinta yang bekerja dalam diam.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” Hadis ini mengingatkan bahwa kemuliaan seorang lelaki tidak diukur oleh kemampuannya memikat hati dengan kata-kata. Melainkan, oleh akhlak, tanggung jawab, dan kelembutannya kepada orang-orang yang ia lindungi.
Lelaki yang tulus, tidak selalu datang membawa kemewahan.
Terkadang, ia hanya membawa kesediaan untuk mendengar.
Kadang, ia hadir membawa solusi ketika hidup terasa buntu.
Kadang, ia membantu meringankan beban. Termasuk beban finansial, tanpa pernah menghitungnya sebagai utang budi.
Bahkan, ketika belum ada ikatan yang menghalalkannya, ia tetap memilih menjaga adab, kehormatan, dan keikhlasan niatnya.
Ironisnya, bahasa cinta seperti ini sering kali tidak terbaca.
Yang terlihat, hanya jumlahnya.
Yang dihitung, hanya nominalnya.
Yang dipersoalkan, hanya apa yang belum mampu ia berikan.

Sementara, do’a-do’anya tidak pernah terdengar.
Air matanya tidak pernah terlihat.
Lelahnya? Tidak pernah masuk dalam daftar penilaian.
Betapa mudah manusia mengagumi lelaki yang pandai merangkai kata. Tetapi, lupa menghargai lelaki yang diam-diam mengorbankan banyak hal, agar perempuan yang ia sayangi tidak terlalu berat memikul hidup.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian perempuan, baru menyadari arti kehadiran seorang lelaki, setelah kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat bersandar. Ketika pelindung itu telah pergi, barulah ia mengerti. Bahwa, perhatian ternyata tidak selalu berbentuk rayuan. Melainkan, juga pengorbanan yang nyaris tak pernah disebutkan.
Muhasabah ini, tentu bukan hanya untuk perempuan. Lelaki pun, wajib bercermin. Jangan pernah menjadikan bantuan, perhatian, atau pengorbanan sebagai alat untuk menguasai, mengikat, atau menuntut balasan. Keikhlasan akan kehilangan nilainya, ketika disertai pamrih.
Begitu pula perempuan, jangan sampai hati tertutup oleh penilaian yang hanya melihat penampilan, status, atau kemewahan.
Belajarlah membaca ketulusan yang hadir dalam tindakan. Sebab, itulah bahasa cinta yang paling jujur.
Sesungguhnya, lelaki yang benar-benar mencintai — tidak sedang berlomba menjadi yang paling romantis. Ia sedang berjuang menjadi pribadi yang paling layak dipercaya.
Ia ingin menjadi tempat pulang ketika dunia terasa melelahkan.
Ia ingin menjadi bahu yang kokoh, ketika air mata tak lagi mampu dibendung.
Ia ingin menjadi alasan seseorang merasa aman, bukan merasa takut.
Sebab, pada akhirnya, titik tertinggi cinta seorang lelaki bukan ketika ia berhasil membuat seorang perempuan jatuh hati. Melainkan, ketika ia tetap memilih menjaga, menghormati, mendoakan, dan bertanggung jawab atas perempuan yang Allah titipkan dalam hidupnya.
Karena cinta sejati tidak selalu terdengar nyaring.
Ia lebih sering berjalan pelan, bekerja dalam diam, lalu kelak dipersaksikan oleh langit sebagai amal yang lahir dari hati yang ikhlas.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu mencintai dengan adab, menjaga dengan amanah, dan mengikhlaskan setiap pengorbanan hanya demi mengharap ridho-Nya.
*****
