Humaniora
Beranda » Humaniora » Al-Ikhlas: Ketika Hidup Tak Lagi Mencari Tepuk Tangan Manusia

Al-Ikhlas: Ketika Hidup Tak Lagi Mencari Tepuk Tangan Manusia

Oleh: Dr. Maria Susana Yudiyanti, S.Pd, M.Pd.

Ada banyak perjalanan yang tidak pernah ditulis oleh almenak atau kalender dunia. Ia hanya tercatat di langit, di sela-sela do’a yang dipanjatkan dalam sunyi — di antara air mata yang sengaja disembunyikan, agar hanya Allah SWT yang mengetahuinya.

Begitulah makna Surah Al-Ikhlas hadir dalam perjalanan hidupku.
Bagiku, bukan sekadar nama yang aku sematkan pada PAUD Al-Ikhlas Bunda Susan dan PKBM Al-Ikhlas. Melainkan, jalan panjang yang setiap hari harus dilalui dengan kesungguhan hati.

Sebab, ikhlas bukanlah kalimat indah untuk diucapkan, melainkan amal yang harus dibuktikan ketika penghargaan tidak datang, ketika jasa dilupakan. Bahkan, ketika kebaikan dibalas dengan prasangka.

Aku lahir dari keluarga pendidik. Dari tangan seorang ibu yang menjadi guru.Dan ayah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan seni. Aku belajar bahwa ilmu bukan sekadar profesi, melainkan ibadah yang menuntut kesabaran sepanjang usia.

Ketika Aku Monolog:Aku Bukan Siapa-Siapa Kamu(Jilid 1)

Dari ruang kelas sederhana, perjalanan itu dimulai. Menjadi guru taman kanak-kanak, guru sekolah dasar, merintis lembaga pendidikan, membina anak-anak, menulis lagu, hingga akhirnya Allah memperjalankan aku menjadi dosen dan menyelesaikan pendidikan doktoral.

Semua itu bukan karena aku kuat.
Tetapi, karena Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Ikhlas:

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.
(QS. Al-Ikhlas : 1)

Di titik itulah aku memahami. Bahwa, manusia sering kali terlalu sibuk mengejar pengakuan sesama manusia. Padahal, kemuliaan hanya berasal dari Allah Yang Maha Esa.

Semangat Al-Qur’an Menggema di Pembukaan MTQ 2026 Tingkat Kabupaten Sumedang

Ketika hati masih berharap dipuji manusia. Sesungguhnya, kita sedang menjauh dari makna Al-Ikhlas itu sendiri.
Para ulama tasawuf berkata, “Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.” Maka setiap luka, justru mengajak aku bercermin. Jangan-jangan, yang masih harus diperbaiki, bukan dunia di luar sana. Melainkan, hati ku sendiri.

Aku pernah dipercaya memimpin, pernah pula dicaci. Pernah dipuji setinggi langit. Lantas, dijatuhkan menghujan bumi. Namun, semakin usia bertambah, aku menyadari, bahwa semua itu hanyalah pergantian musim.

Hari ini manusia memuliakan kita.
Bisa jadi, esok mereka bisa melupakan.
Bahkan, tidak sedikit yang mengenal kita hanya dari cerita orang lain, bukan dari perjumpaan dan kejujuran.
Namun, bukankah itu juga cara Allah mendidik hati?

Sebab, bila semua orang menyukai kita, mungkin kita akan lupa bahwa hanya ridho Allah yang layak diperjuangkan.
Aku belajar untuk tidak sibuk membela diri di hadapan manusia. Karena, pembelaan terbaik adalah memperbaiki diri di hadapan Allah.

Dalam dunia tasawuf dikenal sebuah nasihat indah:
“Jangan bersedih ketika manusia tidak mengenalmu. Bersedihlah bila Allah mendapati hatimu tidak mengenal-Nya.”
Kalimat itu menjadi cambuk bagi diri ku pribadi.

Jalan Pulang Seorang Peserta Didik

Betapa sering kita merasa telah berbuat banyak. Padahal, boleh jadi semuanya masih bercampur dengan keinginan untuk dihargai. Betapa sering kita kecewa. Karena manusia lupa, seolah-olah sejak awal kita memang beramal untuk mereka.

Padahal Surah Al-Ikhlas mengajarkan satu arah pengabdian: menuju Allah semata.
Di tengah perjalanan hidup, aku juga belajar bahwa tidak semua kedekatan harus dipertahankan dengan jarak yang sama. Ada hubungan yang tetap harus dihormati, namun cukup dijaga dalam batas yang menenangkan jiwa. Menjaga hati bukan berarti memutus silaturahmi. Sebab, adab tetap lebih tinggi daripada amarah.

Bukankah gunung yang menjulang pun masih tunduk kepada langit?
Lalu mengapa kita masih ingin berdiri lebih tinggi daripada orang lain?
Sesungguhnya, kesombongan paling halus bukan ketika seseorang merasa paling hebat, melainkan ketika ia merasa paling benar.
Dan, aku tidak ingin terjebak di sana.
Karena semakin lama mengabdi di dunia pendidikan, aku justru semakin sadar, betapa sedikit ilmu yang benar-benar aku miliki.

Gelar hanyalah pakaian dunia; sementara kemuliaan sejati hanya dikenakan oleh hati yang rendah di hadapan Rabb-nya.
Maka, apabila suatu hari nama aku dilupakan, jabatan ku dicabut, atau karya ku tidak lagi disebut. Semoga Surah Al-Ikhlas tetap hidup di dalam dada.
Sebab, yang ingin aku bawa pulang bukan tepuk tangan manusia, melainkan keridoan Allah.

Aku hanya ingin menjadi seorang pendidik yang bekerja dalam diam — menanam kebaikan tanpa sibuk menghitung siapa yang mengingatnya.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling banyak dipuji.
Hidup adalah tentang siapa yang paling tulus kembali kepada-Nya.
Dan maaf, jika masih ada ambisi yang ku simpan, semoga itu bukan untuk menjulangkan menara nama ku. Melainkan, agar ilmu yang Allah titipkan semakin luas memberi manfaat. Menjadi profesor bukan sekadar cita-cita akademik, tetapi wasilah agar lebih banyak anak bangsa yang memperoleh cahaya pendidikan.

Semoga Allah menjaga hati ini dari riya, dari ujub, dari keinginan dipandang mulia oleh manusia.
Sebab, Surah Al-Ikhlas telah mengajarkan satu pelajaran yang paling sederhana sekaligus paling sulit diamalkan:
Berbuatlah karena Allah. Cukuplah Allah. Dan kepada Allah-lah segala perjalanan ini akan kembali.
*****