SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humaniora
Beranda » Humaniora » Menyeberangi Keheningan di Jembatan Pasela, Menemukan Damai di Dermaga Maroko

Menyeberangi Keheningan di Jembatan Pasela, Menemukan Damai di Dermaga Maroko

Oleh: Anne. Y. Wachyuni S.Pd.

Matahari baru meninggi ketika roda-roda sepeda mulai berputar meninggalkan Pangauban, Kecamatan Batujajar. Bandung Barat.Udara pagi masih menyisakan kesejukan. Sementara, embusan angin dari Waduk Saguling sesekali menyapa wajah.

Perjalanan pagi itu bukan tentang mengejar jarak. Melainkan, menikmati setiap meter yang menyimpan pesona.

Tujuan kami sederhana: menyeberangi Jembatan Pasela dan mengakhiri kayuhan di Dermaga Maroko. Dua destinasi yang letaknya berdekatan, namun sama-sama menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan.

Dari kejauhan, Jembatan Pasela tampak membentang anggun di atas perairan Saguling. Pagar-pagar kuningnya memantulkan cahaya matahari pagi, menjadi kontras yang indah dengan birunya air dan hijaunya hamparan eceng gondok.

Membersamai Guru di Majelis Ilmu Al-Misbah: Menjemput Cahaya di Malam Jum’at

Jembatan apung, sepanjang sekitar 300 meter yang menghubungkan Kampung Pajajaran, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar dengan Selakopi, Kecamatan Cihampelas itu — bukan sekadar jalur penyeberangan. Ia telah menjadi ruang perjumpaan, penghubung kehidupan warga, sekaligus destinasi wisata yang memikat para pencinta fotografi dan olahraga sepeda.

Saat roda sepeda mulai menyentuh lantai kayu jembatan, terdengar bunyi berirama yang khas. Jembatan bergoyang pelan,  mengikuti gerak air, menghadirkan sensasi yang membuat setiap kayuhan terasa hidup. Tidak ada rasa tergesa. Semua mengalir mengikuti ritme alam.
Sesampainya di tengah jembatan, kami berhenti sejenak. Matahari berada tepat di depan, membentuk siluet yang begitu dramatis.

Momen singkat itu menjadi kesempatan mengabadikan keindahan, sekaligus menikmati panorama Waduk Saguling dari sudut pandang yang berbeda.
Perjalanan berlanjut menuju Dermaga Maroko. Hanya beberapa menit mengayuh, suasana berubah menjadi jauh lebih tenang.

Di ujung dermaga, bentangan Waduk Saguling terbuka tanpa batas. Permukaan air tampak nyaris tak beriak, memantulkan langit biru seperti cermin raksasa. Di kejauhan, rumah-rumah apung dan keramba milik warga menjadi penanda kehidupan yang berdampingan harmonis dengan alam. Perbukitan hijau yang mengelilingi waduk melengkapi panorama yang memanjakan mata.

Kami memilih duduk cukup lama di ujung dermaga. Tak ada percakapan panjang. Tak ada suara bising kendaraan. Hanya desir angin, riak air, dan sesekali suara burung yang melintas. Dalam keheningan itu, pikiran terasa jauh lebih lapang.

Semangat Al-Qur’an Menggema di Pembukaan MTQ 2026 Tingkat Kabupaten Sumedang

Perjalanan sederhana ini membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat-tempat yang jauh atau mahal. Kadang, cukup mengayuh sepeda beberapa kilometer, menyeberangi sebuah jembatan, lalu duduk menikmati alam yang masih terjaga.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, pagi hari antara pukul 07.00 hingga 09.00 WIB menjadi waktu terbaik. Cahaya matahari yang hangat membuat panorama semakin memesona. Sementara, suasana masih relatif lengang.Jangan lupa membawa air minum, uang tunai untuk tiket penyeberangan, serta menjaga kebersihan kawasan agar keindahan Jembatan Pasela dan Dermaga Maroko tetap lestari.

Pada akhirnya, Jembatan Pasela mengajarkan arti keberanian untuk terus melangkah. Sementara, Dermaga Maroko mengingatkan bahwa dalam hidup, setiap orang juga membutuhkan waktu untuk berhenti, menghela napas, dan mensyukuri perjalanan.

Karena sesungguhnya, perjalanan terbaik bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa dalam kita mampu merasakan setiap langkah yang telah ditempuh.
*****

Jalan Pulang Seorang Peserta Didik