SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Humaniora
Beranda » Humaniora » Madrasah Jiwa Bukan Cermin Bisu

Madrasah Jiwa Bukan Cermin Bisu

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.

“Boleh jadi engkau kehilangan seorang teman, tetapi Allah sedang menyelamatkan ketenangan jiwamu.”

Tak semua pertemuan dihadirkan untuk menjadi persaudaraan yang abadi. Ada yang datang hanya sebagai cermin: memperlihatkan wajah-wajah manusia yang dikuasai ego, merasa paling benar, dan menganggap kemenangan dalam perdebatan lebih mulia daripada menemukan kebenaran. Ya begitulah kehidupan.

Hal-hal kecil yang bagi kebanyakan orang hanyalah riak di permukaan, dan bukan menjadi masalah. Di tangan sebagian orang, dapat berubah menjadi badai. Ketika nalar dikalahkan oleh amarah, dan kebijaksanaan ditenggelamkan oleh keinginan untuk selalu menang. Serta dialog kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah suara yang meninggi dan ego yang berdiri di singgasananya sendiri.

Rasulullah SAW telah mengingatkan:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Kahfi: Gua yang Kucari Ternyata Berada di Dalam Hatiku

Kala itu aku memilih menggenggam telunjuk yang mengarah kepadaku. Sementara, wajah di hadapanku memerah penuh emosi. Tangan kanan yang terangkat nyaris kehilangan kendali. Aku sadar, satu ledakan amarah, dapat menghancurkan persaudaraan yang dibangun menahun nahun.

Aku sempat bertanya-tanya, di manakah letak salahku? Hal yang seharusnya tak jadi madalah — dipermasalahkan.
Kalaupun aku keliru, bukankah lebih indah bila ditegur dengan kasih, bukan ditepis dengan amarah? Bukankah silaturahmi dibangun dengan tabayun, bukan dengan prasangka?
Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
( QS. Al-Hujurat : 12)

Hari-hari berikut baiknya kuhabiskan dalam perenungan. Aku baru memahami bahwa berdebat dengan orang yang menjadikan ego sebagai kompas, hanyalah membuang energi dan menguras ketenangan. Seperti mengejar bayangan di tengah senja: semakin dikejar, semakin jauh ia menghilang.

Road to Depok Mengaji 2026: Ketika Lantunan Al-Qur’an Menyatukan Hati dan Menguatkan Kota

Ada kalanya mengalah bukan berarti kalah. Menghindar bukan berarti takut. Menjauh bukan berarti memutus silaturahmi. Itu hanyalah cara menjaga hati, agar tidak ikut terbakar oleh api yang bukan kita nyalakan.

Allah juga berfirman:

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”
( QS. Al-Furqan : 63)

Untuk itu, aku memilih diam. Bukan karena tak mampu menjawab, melainkan karena tidak semua perdebatan layak diperpanjang. Ada manusia yang lebih mencintai kemenangan daripada kebenaran. Lebih sibuk mempertahankan gengsi, daripada mencari hikmah. Melayani ego semacam itu, hanya akan menguras tenaga tanpa menghadirkan kedamaian.

Ketika Kampus Tak Lagi Menjadi Rumah bagi Dosen

Kini, kusadari. Mungkin Allah memang sedang mengajarkanku sesuatu.
Bahwa, tidak semua teman harus dipertahankan dekat. Tidak semua hubungan harus dipaksakan tetap hangat. Ada orang-orang yang lebih baik dido’akan dari kejauhan. Sebab, kedekatan dengannya hanya menyisakan letih bagi jiwa. Inilah madrasah jiwa dari-Nya.

Madrasah yang mengajarkan bahwa kesabaran lebih mulia daripada pembalasan. Bahwa, menjaga hati lebih utama daripada memenangi perdebatan dalam persoalan yang remeh temeh. Dan, kedamaian batin adalah nikmat yang tak layak ditukar dengan pertengkaran yang sia-sia.

Karena pada akhirnya, Allah tidak selalu mengirim orang baik untuk menemani perjalanan kita. Terkadang, Dia menghadirkan pribadi-pribadi yang sulit dan ego, agar kita belajar mengendalikan diri, mengenali batas, memilih menjauh dengan santun, lalu kembali bersandar hanya kepada-Nya.

كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
( QS. Al-Baqarah : 216)

Maka, aku memilih melangkah pergi, bukan karena membenci. Melainkan, karena ingin menjaga hati. Sebab, kedamaian adalah rezeki —  dan tidak semua orang mampu merawatnya. Serta, ketenangan jiwa, jauh lebih berharga, daripada kemenangan atas manusia yang masih diperbudak egonya.
*****