Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Pagi selalu datang dengan cara yang sama. Matahari perlahan menyibak gelap, embun menggantung di ujung dedaunan. Dan, secangkir kopi mengepulkan aroma yang menghangatkan ruang-ruang sunyi. Namun, tidak pernah ada pagi yang benar-benar sama bagi hati manusia. Ada pagi yang dipenuhi syukur. Ada pagi yang dihiasi kecemasan. Dan ada pula pagi ketika hati diam-diam sedang menyembunyikan sebuah rahasia. Bernama cinta.
Di sela seruputan kopi itulah, seseorang sering menemukan ruang paling jujur, untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Bukan kepada manusia, melainkan kepada hati yang selama ini terlalu sibuk menyembunyikan rasa. Dalam tradisi Islam, ruang sunyi itu disebut muhasabah—menghisab diri sebelum Allah menghisab kita.
Muhasabah, bukan hanya tentang menghitung dosa dan amal. Ia juga tentang menimbang setiap rasa yang bersemayam di dalam dada. Sebab, tidak semua yang tumbuh di hati harus segera diwujudkan dalam tindakan.
Allah SWT berfirman,
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
(QS. Ar-Rum : 21)
Ayat ini mengajarkan bahwa cinta adalah fitrah. Ia bukan penyakit yang harus dimusuhi, melainkan amanah yang harus dijaga. Yang dipersoalkan, bukan hadirnya rasa. Tetapi, bagaimana manusia memperlakukan rasa itu.
Di usia muda, cinta sering melompat mengikuti gejolak emosi.
Namun, di usia paruh baya — cinta datang dengan cara yang berbeda. Ia hadir perlahan, tenang, tanpa banyak suara. Ia tidak lagi sekadar memandang rupa, tetapi menemukan kekaguman pada akhlak, kecerdasan, kelembutan tutur kata, serta kematangan berpikir.
Orang-orang menyebutnya puber kedua.
Sebutan yang terkadang disampaikan dengan nada bercanda. Padahal, bagi sebagian orang, fase itu merupakan ujian batin yang sangat serius.
Sebab, pada usia yang tak lagi muda, seseorang tidak hanya membawa perasaan. Ia membawa keluarga, tanggung jawab, nama baik, amanah, dan perjalanan hidup yang telah dibangun bertahun-tahun.
Di sinilah akal dan iman mengambil alih kemudi.
Ustaz Adi Hidayat dalam banyak kajian menjelaskan bahwa hadirnya rasa bukanlah dosa. Allah tidak menghukum sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia. Yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah keputusan yang diambil setelah rasa itu hadir. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan agar menjaga pandangan, menjaga hati, dan menjaga kehormatan dirinya maupun orang lain.
Begitu pula Gus Baha, sering mengingatkan, ukuran kemuliaan bukanlah tidak memiliki keinginan. Melainkan, kemampuan menahan keinginan demi menaati Allah. Hati boleh bergetar, tetapi iman harus tetap menjadi nahkoda.
Mungkin, ada seorang lelaki yang kembali jatuh cinta pada seseorang yang begitu ia hormati. Ia sadar dirinya bukan orang berada. Penghasilannya, sederhana. Ia pun memahami bahwa setiap keputusan dalam rumah tangga memiliki konsekuensi yang berat. Bahkan, untuk sekadar membicarakan kemungkinan berpoligami kepada keluarganya, ia tidak memiliki keberanian, karena menyadari besarnya amanah, keadilan, dan tanggung jawab yang harus dipikul.
Lalu apa yang ia lakukan?
Ia memilih menjaga cintanya.
Ia tidak mengganggu.
Ia tidak memaksa.
Ia tidak merusak rumah tangga siapa pun.
Ia tidak mengubah rasa itu menjadi dosa.
Ia hanya menyimpannya sebagai do’a yang diam-diam ia titipkan kepada Allah.
Bukankah tidak semua cinta diciptakan untuk dimiliki?
Ada cinta yang Allah hadirkan hanya untuk mengajari manusia tentang kesabaran.
Ada cinta yang datang agar seseorang kembali memperbaiki sholatnya.
Ada cinta yang membuat seseorang semakin rajin membaca Al-Qur’an.
Ada pula cinta yang justru mengantarkan manusia belajar ikhlas.
Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Sahih Muslim).
Betapa indah bila cinta menjadikan hati semakin bersih, bukan semakin gelisah oleh hawa nafsu.
Hari ini, kita hidup di tengah masyarakat yang gemar membicarakan kisah orang lain. Meja-meja kopi, sering kali lebih ramai oleh ghibah daripada dzikir. Lisan terasa ringan mengomentari kehidupan orang lain. Tetapi, berat mengoreksi diri sendiri.
Padahal, secangkir kopi akan jauh lebih bernilai, bila ditemani muhasabah daripada dipenuhi percakapan yang melukai kehormatan saudara sendiri.
Betapa banyak orang merasa soleh karena rajin menghadiri majelis ilmu. Tetapi, masih gemar memperbincangkan kekurangan orang lain. Mereka sibuk menghitung dosa tetangganya. Namun, lupa menghitung air mata yang pernah mereka sebabkan. Atau emosinya bangkit, lantaran kelakuan kita.
Cinta yang dijaga dalam diam, jauh lebih mulia daripada cinta yang diumbar, tetapi melukai banyak hati.
Sesungguhnya, kedewasaan bukanlah ketika seseorang berhasil memiliki orang yang dicintainya.
Kedewasaan adalah ketika ia mampu menerima bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.
Mungkin cinta itu tidak pernah berakhir di pelaminan.
Namun, siapa yang mengatakan bahwa semua kisah cinta harus berakhir dengan akad?
Sebagian cinta memang ditakdirkan menjadi jalan menuju pernikahan.
Sebagian lagi ditakdirkan menjadi jalan menuju kedekatan kepada Allah.
Dan keduanya sama-sama indah apabila dijalani dengan iman.
Maka, ketika pagi kembali datang, seduhlah kopi dengan penuh syukur. Duduklah sejenak. Dengarkan suara hati. Biarkan akal berbicara, biarkan iman memimpin, dan biarkan do’a menjadi tempat pulangnya seluruh harapan.
Karena, cinta yang paling dewasa, bukanlah cinta yang berhasil memiliki.
Melainkan, cinta yang tetap suci meski tak pernah menggenggam.
Sebab pada akhirnya, seluruh rasa akan kembali kepada Pemiliknya.
Allah SWT.
“Tidak semua cinta ditakdirkan menjadi pasangan hidup. Ada cinta yang Allah hadirkan hanya untuk menguji kedewasaan iman, menghaluskan akhlak, dan mengajari manusia bahwa ikhlas adalah puncak tertinggi dari mencintai. Sebab, mencintai bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang menjaga agar hati tetap bersih hingga kembali menghadap Sang Pemilik Cinta.”
******
Foto rekayasa AI
