Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Ia adalah malam turunnya cahaya, saat langit membuka pintu rahmat dan bumi menerima petunjuk.
Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”
QS. Al-Baqarah Ayat185
Ketika kita mengenang malam itu, sejatinya kita sedang diajak menengok ke dalam diri: Sudahkah Al-Qur’an benar-benar turun ke hati kita?
Peristiwa Nuzulul Qur’an bermula di Gua Hira ketika malaikat Jibril menyampaikan ayat pertama kepada Rasulullah SAW (QS. Al-‘Alaq: 1–5). Malam itu mengubah sejarah manusia. Dari gelapnya jahiliyah menuju terang peradaban.
Namun, bagi sebagian dari kita, masa muda justru diisi dengan gelimang kenikmatan duniawi—lalai, terlena, merasa waktu masih panjang. Kita lupa bahwa hidup bukan sekadar menikmati, tetapi juga mempertanggungjawabkan.
Malam Nuzulul Qur’an menjadi momentum taubat. Via firmanNya — Allah menenangkan hati para hambanya dalam surah Az -Zumar, ayat 53.
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzolimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Tidak ada kata terlambat untuk kembali. Bahkan bisa jadi, penyesalan adalah pintu pertama menuju kedewasaan iman.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa hati manusia ibarat cermin. Jika ia terus-menerus terkena noda maksiat dan kelalaian, cahayanya redup. Namun, taubat dan dzikir adalah kain canebo pembersihnya.
Maka, ketika di malam Nuzulul Qur’an kita berniat memperbaiki sisa hidup itu adalah tanda bahwa hati belum mati.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Istiqomah bukan berarti tak pernah jatuh. Istiqomah adalah terus bangkit setiap kali jatuh.
Setiap jatuh terpuruk, seyogyanya kita bangkit dan bangkit lagi dengan sujud yang lebih panjang. Sebab, sujud bentuk kata lain simbol kepasrahan total. Dalam sujud, dahi yang dulu mungkin terangkat dongak oleh kesombongan dunia, kini direndahkan di hadapan Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Robb-nya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR. Muslim)
Sujud yang lebih panjang bukan sekadar memperlama gerakan, tetapi memperdalam rasa butuh sangat butuh. Mengakui bahwa masa muda yang berlalu tak bisa kembali, namun masa depan masih bisa disucikan.
Di sanalah makna Nuzulul Qur’an terasa lebih personal — bukan hanya wahyu yang turun, tetapi air mata yang jatuh.
Bukan hanya ayat yang dibaca, tetapi jiwa yang dibangunkan.
Bukan lagi pertemanan dalam beribadah hanya basa basi belaka, melainkan merekat silaturahmi hingga alkhir hayat.
Sudah pasti, kita tak bisa mengulang masa muda, penuh jaya itu —- jika tak dikatakan glamor. Sebab, waktu terus bergerak ke depan. Masa depan, masanya generasi anak anak kita. Akan tetapi kita masih bisa mengisi sisa usia dengan makna.
Malam Nuzulul Qur’an bagi kita yang ingin berbenah hati adalah undangan sunyi:
Untuk menukar kelalaian dengan kesadaran. Menukar kesenangan sesaat dengan ketenangan abadi. Menukar waktu yang terbuang percuma dengan sujud yang diperpanjang.
Karena, pada akhirnya, bukan berapa lama kita hidup di dunia yang Allah tanya. Tetapi, untuk apa usia itu kita gunakan.
Semoga di malam penuh cahaya ini, Allah menguatkan langkah kita dalam istiqomah, mengampuni kelalaian masa lalu, dan menjadikan sujud kita lebih panjang, lebih khusyuk, dan lebih punya makna di hadapanNya. (KH/***)
