Humaniora
Beranda » Humaniora » Kumpulan Puisi Tentang Rasa Mencintai Istri Seseorang

Kumpulan Puisi Tentang Rasa Mencintai Istri Seseorang

(Foto ilustrasi - Madjongke)
(Foto ilustrasi - Madjongke)

Oleh: Imam M.Nizar.S,Pd.

Aku Ingin Kembalikan Rasa Ini Pada-Mu Yaa Robbi…. 

Aku jatuh cinta pada seseorang — yang statusnya masih dipertanyakan (?)

juga bukan milikku dalam takdir dunia. 

Dan aku tahu,

Parama Hansa Abhipraya Raih Rekor MURI, Anak 7 Tahun dengan Prestasi Multidisiplin Terbanyak

setiap getar yang Kau ciptakan

pasti membawa makna—

meski tak selalu membawa kepemilikan. 

Rasa ini tumbuh

di sela-sela keriuhan — di rumah Mu yang agung, Istiqlal, priode tahun silam —

[Cerpen] Cahaya Cinta Yang Sesungguhnya

mengalir tanpa suara,

menggetarkan tanpa izin.

Sunyi senyap dalam keriuhan. 

Namun aku sadar,

cinta yang tak berpagar

[Cerpen] Ketika Cinta Mati Suri

hanya akan menjadi luka

bagi banyak jiwa-jiwa. 

Maka malam-malamku di ramadhan tahun ini, bukan lagi tentang angan,

melainkan tentang pengakuan.

Aku duduk di hadapan-Mu,

membuka hati yang riuh,

dan berkata pelan:

“Ya Allah,

jika rasa ini menjauhkan aku dari-Mu,

maka cabutlah ia perlahan.

Jika ia hanya ujian,

jadikan aku lulus dengan sabar.” 

Aku tak ingin  mencintainya

dengan cara yang Engkau murka.

Aku tak ingin menari

di atas luka orang lain — meski beliau sudah banyak cerita tentangnya. 

Aku tak ingin menjadi

sebab retaknya rumah

yang telah Kau sakralkan — meski itu sudah runtuh, sebelum hadirnya rasa ini. 

Bukankah cinta sejati

adalah yang menuntun jiwa

semakin dekat kepada Cahaya Mu?

Maka, biarlah aku mencintainya

seperti para sufi mencintai dunia.

Dari jauh melihatnya.

Dari jauh merasakannya,

dan tak melekat padanya. 

Aku akan menyimpannya

sebagai rahasia antara aku dan langit.

Setiap rindu yang datang,

akan kujadikan tasbih.

Setiap bayang wajahnya,

akan kuubah menjadi do’a. 

Aku tak memintanya menjadi milikku, 

jika Engkau tak kasih jalan dan tak ridho.

Aku hanya memohon pada-Mu:

jaga hatiku tetap bersih.

Karena mungkin,

Engkau menghadirkan rasa ini

bukan untuk menyatukan dua insan,

tetapi untuk mengajarkanku

tentang batas,

tentang ikhlas dan keikhlasan

tentang cinta yang berani melepaskan jika waktunya tiba. 

Dan, jika suatu hari

rasa ini benar-benar luruh,

biarlah ia luruh dalam senyap

seperti embun yang kembali ke langit—

tanpa dosa,

tanpa luka,

hanya jadi pembelajaran jiwa. 

Tuhanku…

aku kembalikan cinta dan rasa ini pada-Mu.

Sebab Engkaulah

Pemilik segala hati. 

Di Antara Rasa dan Ridho 

Aku jatuh cinta pada istri seseorang —

sebuah kalimat yang berat untuk diterjemahkan, 

bahkan sulit diakui pada diri sendiri.

Rasa ini tumbuh tanpa permisi,

datang seperti hujan

yang tak bertanya pada tanah,

siapa yang boleh dibasahi? 

Namun, aku tahu,

cinta bukan hanya rasa getar,

ia juga tentang pagar.

Tentang batas yang dijaga

agar hati tetap bernyawa

tanpa melukai siapa-siapa. 

Dalam diam, aku belajar

bahwa tidak semua yang indah

ditakdirkan patut dipetik.

Ada bunga hanya cukup dipandang,

ada cahaya  cukup untuk disyukuri,

tanpa harus dibawa pulang. 

Tuhan…

Engkau yang membolak-balikkan hati,

jika rasa ini Kau titipkan

hanya sebagai ujian,

maka kuatkan aku

untuk menjadikannya ibadah lebih panjang.

Jangan biarkan ia berubah

menjadi keinginan  liar,

yang merusak rumah pekarangan orang,

yang merobek robek kepercayaan,

yang menodai kesetiaan. 

Dan, aku tak ingin menjadi

bayang-bayang gelap

di antara janji suci

yang telah ia ucapkan

di hadapan-Mu. 

Biarlah aku mencintainya

seperti mencintai senja—

mengagumi tanpa menggenggam,

menikmati tanpa memiliki,

lalu merelakan ia pulang

kepada malamnya sendiri. 

Setiap kali rindu mengetuk,

aku langitkan ia dalam doa:

“Ya Allah… bahagiakan dia.

Tenangkan hatinya.

Lapangkan rejekinya…. 

Jadikan ia istri yang dicintai

dan mencintai dengan utuh — jika memang masih dalam satu ikatan, dalam koridhor ridho dan ketetapan hukumMu. 

Dan, bila namaku tak pernah

terukir di kisah hidupnya,

setidaknya Engkau tahu ya Allah, setidaknya aku pernah memilih jalan yang benar, meski terasa perih. 

Sebab, cinta sejati bukan tentang siapa yang akhirnya dimiliki, tetapi tentang siapa yang tetap di do’a kan

meski tak pernah dapat digenggam. 

Aku jatuh cinta,

namun aku juga belajar,

bahwa kedewasaan adalah

mengembalikan rasa

kepada Pemiliknya.

Dan di atas segala gelora,

aku memilih ridho

daripada sekadar bahagia. 

(Depok, 24 Februari 2026/Ramadan hari ke- 7 tahun 1447 Hijriah)