Humaniora
Beranda » Humaniora » Bedanya Manusia dengan Setan

Bedanya Manusia dengan Setan

(Foto ilustrasi - Vyne Agency)
(Foto ilustrasi - Vyne Agency)

Oleh: Imam M.Nizar

Ada garis tipis yang membedakan manusia dengan setan. Garis itu bukan pada kemampuan, bukan pula pada kekuatan. Ia terletak pada satu hal: tobat. 

“Setan salah, setan tidak tobat. Manusia salah, manusia tobat. Jadi, kalau ada manusia salah dan tidak mau tobat itu tandanya dia terprovokasi oleh setan,” begitu kata ustaz Adi Hidayat via saluran resminya di WA. 

Setan ketika bersalah tidak mau kembali. Iblis, dalam kisah Al-Qur’an, menolak bersujud kepada Adam. Kesombongan menutup pintu hatinya, hingga ia berkata: 

“Aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A‘raf: 12) 

[Cerpen] Ketika Harapan Fauzar Pudar

Sejak itu, iblis bersumpah untuk menyesatkan manusia. Tidak ada penyesalan, tidak ada tobat. Yang lahir hanyalah dendam. 

Sedangkan manusia, meski sering jatuh dalam salah dan dosa, selalu diberi jalan pulang. Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah SAW menyampaikan firman Allah: 

“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni dosa-dosamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu.” (HR. Tirmidzi) 

Itulah bedanya manusia dengan setan. Manusia salah, lalu bertaubat. Setan salah, tapi enggan kembali. 

Maka, ketika ada manusia yang bersalah tetapi enggan bertaubat, sejatinya, ia telah terprovokasi oleh bisikan setan. Kesombongan dan gengsi menutup pintu maaf. Padahal Allah mengingatkan: 

[Cerpen] Sepasang Sandal di Teras Masjid

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31) 

Di sinilah filosofi tobat menemukan maknanya: ia bukan sekadar ritual istighfar, melainkan keberanian untuk mengakui salah, meruntuhkan ego, dan kembali kepada fitrah sebagai hamba. 

Dalam kehidupan modern yang sarat godaan, manusia kerap tergelincir pada kesalahan yang sama. Namun, yang menentukan derajat manusia bukan seberapa banyak ia salah, melainkan seberapa besar kesungguhannya untuk kembali. 

Seperti kata para ulama, “Orang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah, tapi orang yang setiap kali salah ia segera kembali kepada Allah.” 
Dan, di situlah manusia menemukan kemuliaannya, karena ia berbeda dengan setan. Bagaimana dengan kita? Masih gengsi mengakui kesalahan….? (KH***)

[Cerpen] Sepatu Hitam untuk Ibu