Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Ketika aku menolog di penghujung bulan suci Ramadan 1447 H dengan usia yang tak lagi muda, ada rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ramadan yang dulu terasa panjang, kini terasa begitu singkat. Hari-harinya berlalu seperti desir angin senja, meninggalkan jejak-jejak renungan yang semakin dalam.
Dulu, ketika usia masih belia, Ramadan datang seperti tamu yang biasa saja. Ia kusambut penuh riang. Tetapi sering berlalu tanpa banyak makna. Malam-malamnya kadang ku habiskan dengan tawa yang berlebihan, sementara ayat-ayat Al-Qur’an hanya sesekali menyentuh hati. Waktu itu, aku merasa hidup masih panjang, seolah kesempatan untuk memperbaiki diri selalu tersedia di masa depan.
Namun, di usia yang semakin menua ini, Ramadan terasa berbeda. Ia hadir seperti seorang sahabat lama yang membawa cermin untuk jiwa. Setiap ayat yang terbaca terasa seperti teguran yang lembut. Setiap rakaat tarawih terasa seperti panggilan untuk kembali mendekat kepada Tuhan.
Aku teringat firman Allah
QS. Al-Baqarah: 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat itu kini terasa begitu hidup. Puasa ternyata bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah perjalanan sunyi menuju ketakwaan. Ia adalah madrasah jiwa, tempat manusia belajar mengendalikan diri, menata hati, dan menyucikan niat.
Di penghujung Ramadhan ini, aku sering bertanya dalam diam:
Apakah Ramadhan kali ini akan menjadi yang terakhir bagiku?
Pertanyaan itu tidak menghadirkan ketakutan semata, tetapi juga menghadirkan kesadaran. Bahwa waktu bukanlah sesuatu yang bisa ditunda. Bahwa usia adalah amanah yang terus berkurang setiap detik.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum dosanya diampuni.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits itu sangat mengguncang hati. Betapa meruginya jika Ramadhan datang sebagai lautan ampunan, tetapi aku pulang dengan tangan kosong.
Malam-malam terakhir Ramadhan sering membuat hati menjadi lebih lembut.
Dalam sujud yang panjang, aku mencoba menghitung kembali perjalanan hidup: dosa yang tak terhitung, kelalaian yang begitu banyak, dan amal yang terasa begitu sedikit. Di titik itu, aku menyadari bahwa manusia pada akhirnya hanyalah seorang hamba yang rapuh.
Namun Ramadhan selalu membawa harapan. Ia datang dengan janji bahwa pintu rahmat Allah terbuka luas. Bahkan bagi hamba yang paling banyak dosa sekalipun.
Allah berfirman:
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
QS. Az-Zumar[39]:53
Ayat itu seperti pelukan bagi jiwa yang letih. Ia mengajarkan bahwa selama nafas masih berhembus, pintu taubat tidak pernah tertutup.
Maka di penghujung Ramadhan ini, aku hanya ingin menjadi seorang hamba yang sederhana: yang pulang kepada Allah dengan hati yang lebih bersih daripada ketika Ramadhan datang. Tidak membawa kebanggaan atas amal, tetapi membawa harapan atas ampunan.
Jika Ramadhan ini adalah yang terakhir, semoga ia menjadi saksi bahwa aku pernah berusaha kembali kepada-Nya.
Dan jika Allah masih mengizinkan untuk bertemu Ramadhan berikutnya, semoga aku datang dengan hati yang lebih siap, dengan iman yang lebih matang, dan dengan kerinduan yang lebih dalam.
Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan sekadar bulan dalam hitungan almenak atau kalender.
Ia adalah undangan langit bagi manusia untuk pulang kepada Tuhannya.
Ya, Allah ampunilah segala khilah dan dosa dosaku…. (KH/***)
