Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Kau Sudah Basi

[Cerpen] Kau Sudah Basi

(Foto ilustrasi - Dreamstimes)
(Foto ilustrasi - Dreamstimes)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Pagi atau senja selalu punya cara tersendiri untuk mempertemukan wajah wajah lama dengan wajah yang nyaris lupa.

Di sebuah perjalanan menuju Sukabumi —yang katanya untuk “healing”, meski luka-luka batin tak pernah benar-benar bisa diobati dengan udara pegunungan—Aulia duduk di kursi belakang, memandang jalan yang berkelok seperti garis takdir yang tak pernah lurus. Ia tak sendiri, tapi kesendiriannya lebih ramai dari keramaian itu sendiri. 

Di sana, di antara tawa-tawa ringan para teman dan obrolan yang mengalir tanpa arah, Bram kembali hadir dalam hidupnya.

Bram—nama yang samar di ingatan masa kecil. Adik kelasnya dulu, di bangku Sekolah Dasar, ketika dunia masih sederhana: sebatas kertas tulis, lonceng pulang, dan mimpi yang belum ternoda. 

[Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

Kini, mereka dipertemukan kembali di usia yang tak lagi muda, ketika hidup sudah mengajarkan bahwa pertemuan bukan lagi soal kebetulan, melainkan ujian.

Pertemuan itu digagas oleh Iqbal. Lelaki yang secara alamiah merangkai dari cerita-cerita kecil dilingkar pertemanan mereka —  jika tak dibilang sang sutradara. 

Awalnya, Bram berangkat dengan niat lain—ingin mengenal seseorang yang katanya “sudah sendiri lagi” di Sukabumi. Akan tetapi semesta, seperti biasa, punya skenario yang lebih sunyi dan lebih dalam.

Ia justru dipertemukan dengan Aulia dalam perjalanan.

Aulia yang hidup sendiri itu, termasuk wanita karier, tajir tak pelit. Suaminya telah dua tahun lalu pulang Kepada Yang Maha Memanggil. 

[Monolog] Sebegitu Hebatnyakah Sang Mantanmu? Membuat Kumbang Lain Merapat, Rontok Sebelum Waktunya

Sejak itu, Aulia berjalan sunyi, yang ia “peluk” para sahabat yang tulus, bukan pulus. Ia terbiasa bepergian, menyusuri tempat-tempat asing, mungkin untuk mencari sesuatu yang tak pernah ia temukan di rumah: ketenangan yang utuh. 

Dan, diantara perjalanan itu, Bram hadir.

Seperti embun yang jatuh di ujung daun indah, tapi tak pernah benar-benar menetap.

Cinta mereka tumbuh tanpa aba-aba.

Tak ada yang tahu siapa yang lebih dulu memberi sinyal, menebar rasa. Yang jelas, dalam pertemuan demi pertemuan, di kelok Enambelas, Cimangu langkah mereka mulai seirama. Mereka berjalan bersama. Lalu, tanpa banyak tanya, mereka menyebutnya: hubungan. 

Mencintaimu Penuh Duri, Maaf Aku Pamit

Aulia mencintai dengan cara yang utuh—terlalu utuh, mungkin.

Bram menerima dengan cara yang longgar, terlalu longgar, mungkin juga….

Baru sebulan mereka kembali dekat, Bram telah meminta sebuah telepon genggam harga selangit — mahal, tak masuk akal untuk ukuran permintaan seorang lelaki yang baru hadir kembali dalam hidup seorang perempuan yang masa kecilnya dikenal. Namun Aulia, tanpa banyak tanya, membelikannya. Tulus….

Dua puluh juta lebih, jatuh seperti daun, ringan dari tangannya.

Dan setelah itu, seperti daun pintu yang terbuka buat Bram. Permintaan demi permintaan lain ikut masuk tanpa permisi. 

Biaya hidup. Kebutuhan sehari-hari. Bayar kontrakan yang tertunda. Bahkan, ketika anak dan cucu Bram sakit, Aulia tetap menjadi tempat Bram bersandar.

Aulia tak pernah bisa untuk tak berkata tidak. Ia dibuat oleh Bram, seperti ATM berjalan. Diperistiwa kehidupan tertentu, Aulia seolah menjadi ibunya Bram. Pelindung Bram dalam bentuk kesulitan apa pun, bukan lagi sekadar financial. 

Itu, bukan karena ia tak mampu menolak, tapi karena hatinya terlalu mudah luluh oleh rasa sayang dan kasihan berlebihan.

“Dia itu orang baik, dia lagi susah,” kata Aulia suatu malam, kepada Iqbal dan Ziner sebelum semua ini menjadi rumit. “Selama setahun jalan bareng gue, dia gak pernah sekalipun ngajak gue bermalam di hotel… gue kan janda…” 

Iqbal hanya tersenyum minor, sementara Ziner, dengan nada bercanda yang menyimpan kebenaran, menimpali, “Mungkin dia  memang enggak suka sama loe, Aulia. Dia sukanya sama saldo ATM loe ajah,”

Tawa pecah, tapi tak pernah benar-benar sampai ke hati. Buat Ziner dan Iqbal canda hal seperti itu ke Aulia sudah hal biasa

Karena kadang, kebenaran memang datang dalam bentuk candaan—agar tak terlalu menyakitkan.

“Cukup saldo ATM Aulia hanya buat Bram aja….Buktinya, saat Aulia ingin rekaman dengan loe Ziner. Yang tak setuju dan ngalangin  banget kan Bram…Begitu juga saat loe tawarin ilmu trading….Mana mau Bram memberi lampu hijau untuk Aulia, ” papar Iqbal agak lebih serius dengan senyum dinginya. 

Aulia menyimak, membenarkan juga hati kecilnya. Teringat juga saat Bram minta uang lebih besar dari biasanya untuk kepentingan bisnis, yang kata Bram sudah nanggung, untuk tetap diteruskan dan meminta depositto Aulia untuk dicairkan.

Saat itu Aulia, bisa berkata sedang tak ada uang dan tak mau depositto dicairkan sebelum jatuh tempo. Tapi apa kata Bram?

” Emang duit loe habis buat apaan ajah….”

Benar juga, Iqbal dan Ziner berasumsi pikiran rakusnya Bram. Terlalu, terlalu!

“Buat kita kita orang kali ya Bal….Dia curiga pada kita….ha ha ha.”

“Giliran Bram ada masalah, tempo lalu, cari cari Aulia….telpo  telpon ke  gue. Ter-help help untuk Aulia minta menghubunginya. Soal ngeruk dolarnya Aulia, Bram menengbee tuh manusia,” ketus Iqbal nahan kesal. “Ngak punya adab…!.” tandas Iqbal lagi, seraya menyeruput teh, manis jambu. 

Waktu berjalan, dan cinta yang tak dibangun di atas kejujuran perlahan mulai redup dan retak.

Bukan uang yang membuat Aulia terluka.

Ia perempuan yang sudah terlalu akrab dengan kehilangan. Uang baginya hanya alat, bukan inti.

Yang membuatnya runtuh adalah ketika ia sedang sakit… dan Bram tak datang, seribu alasan. Seperti lagu yang lagi viral versi AI — diaploud kembali oleh tokoh fiktif, Iqbal, versi vidio burung,  bernarasi dengan becground sound. Reff nya begini: 

…….

…….

Pernahkah sehari saja milikku.

Kau datang sesuka hati, pergi semau sendiri bagaikan pelayaran lupakan halauan……

Kau di mana, saat hatiku rindu…

Kau dimana saat hatiku pilu

Kau kemana melabuhkan hatimu

Rindu dan selalu rindu hidupku…. 

Dari sini sepertinya  Aulia bercermin — untuk kejujuran seorang Bram. Ketika Aulia butuh dirinya —  hanya sekadar untuk minta menebuskan obat ke apotek, seperti biasa, uangnya dari Aulia —-  Bram punya alasan untuk absen. Tak bisa ketemu…

Padahal, kalau untuk kepentingan Bram — Aulia selalu punya waktu dan punya untuk bayar bayar…. 

Dan,  seperti skenario yang ditulis dengan tinta pahit, Aulia justru melihatnya di sana—di apotek itu—Bram bersama perempuan lain — yang Aulia sendiri sudah curiga, tapi sosok itu masih berkabut.

Dunia seakan berhenti sejenak.

Bukan karena terkejut. Jeda, juga tidak…

Tapi lebih pada  kecurigaan yang selama ini Aulia kubur dalam-dalam, akhirnya menemukan bentuk. Nyata. Tak berkabut lagi. 

Bram tetap tersenyum, tidak kikuk, bak seperti pemain ulung. Mendekati Aulia di bangku tunggunya.Tetap mencoba bicara pada Aulia halus penuh yakin. Merangkai kata-kata manis, agar Aulia luluh dan percaya. Wanita yang didekatnya itu, bukan siapa- siapanya. “Percayalah, Aulia,”  itu kata Bram.

Namun malam itu, Aulia yang dulu begitu mudah percaya, hatinya mulai menutup pintunya.

Karena ada satu hal yang tak bisa dipaksakan kembali ketika telah retak rasa. 

Kini, yang mengganggu pikirannya bukan lagi puluhan juta yang telah mengalir untuk kebutuhan dan kepentingan Bram.

Melainkan ratusan juta yang telah ia investasikan kepada Waloyu—teman bisnis Bram, yang dulu dikenalkan dengan penuh keyakinan.

Uang itu bukan sekadar angka.

Itu adalah kepercayaan. 

Dan dalam dunia yang semakin tua ini, kepercayaan jauh lebih mahal daripada harta.

“Yang ini… gue gak bisa ikhlas kalau hilang begitu aja. Akan gue kejar keujung dunia manapun….” ucap Aulia lirih di hadapan Iqbal dan Ziner yang mendengarkannya seperti peserta didik, mendengar “petuah dosen”. 

Suasana hening. Karena mereka tahu, ini bukan lagi soal cinta. Ini soal harga diri. 

Dalam sunyi malam, Aulia mulai belajar memahami satu hal yang dulu tak pernah ia pikirkan:

Bahwa tidak semua yang datang kembali, layak untuk dipertahankan.

Dalam bahasa tasawuf, para arif, para bijak, berkata: “Yang kau kejar di dunia ini, jika bukan karena Allah, maka ia akan menjadi hijab yang menutup hatimu dari-Nya.”

Aulia tersenyum pahit. Terngiang candaan Ziner  ” Umur sudah berumur, kalau cari calon imam yang lebih benar dikit napa …” 

Mungkin selama ini, ia tidak benar-benar mencintai Bram. Ia hanya takut pada sepi.

Dan Bram… hanyalah jeda yang ia kira sebagai tujuan.

Kini, Aulia berjalan lagi.

Sendiri, seperti dulu. Namun, masih punya banyak teman dan sahabat yang setia, ada Iqbal, ada Ziner,  ada Ayuk Yuk, Zulfan dan banyak lagi yang lainnya. Seperti syair lagu Rhoma Irama he he he:  Ada Jawa, ada Sunda, ada Batak, Manado ….dan banyak lagi yang lainnya. Ha ha ha ha ha…. 

Namun,  kali ini, Aulia lebih ringan.

Karena ia telah melepaskan sesuatu yang selama ini ia genggam terlalu erat, beralusinasi. Ilusi…..Akan dinikahi oleh Bram tanggal 32, bulan ke 13. Ah? ” Eluh tuyeh, enak dah sekian ambil gajih ke 13. Emangnya, eluh Bram, karyawan gue,” tukas Aulia mutung semutung mutungnya. Sewot.

Di dalam hatinya, ia berbisik pelan, seperti menutup sebuah cerita, bab yang dituntaskan,

“Bram… kau bukan lagi luka. Kau hanya cerita lama… yang sudah basi, busuk!” (***)