Humaniora
Beranda » Humaniora » Ketika Seorang Pensiunan Merenung

Ketika Seorang Pensiunan Merenung

Oleh: Imam M. Nizar, S.Pd. 

Sudah dua belas tahun Fauzar “menikmati” hari tuanya. Sebuah kata yang kerap terasa ganjil di lidah batinnya sendiri. Menikmati, katanya, padahal hidup kerap menyuguhkan lakon-lakon getir yang tak pernah ia pesan dalam senyap atau “COD.” Di usia yang seharusnya teduh, ia justru diuji oleh riuh yang menggerus pelan, seperti ombak kecil yang sabar mengikis karang. 

Di awal masa pensiun, ia seperti burung yang baru dilepas dari sangkar. Bebas.Tak ada tenggat waktu, tak ada redaksi yang menunggu naskahnya. Dunia terasa lapang. Ia kembali pada cintanya yang lama: dunia musik. Dari rahim sunyi itu, ia membidani kembali Sylvie—penyanyi yang pernah ia orbitkan sejak gadis Betawi itu masih berseragam putih abu-abu. 

Namun, zaman telah berganti. Kaset dan CD tinggal kenangan. Musik menjelma menjadi angka-angka digital yang dingin. Fauzar pun beralih rupa: dari wartawan menjadi produser eksekutif, dari penulis menjadi penggagas, pengatur panggung-panggung tak kasatmata. 

Di sanalah ia bertemu Cikha.

[Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

Perempuan itu hadir seperti kilat, rudal canggih Iran di langit cerah atau malam —menyilaukan, memikat, sekaligus menyisakan tanya. Parasnya menawan, tutur katanya terukur, dan langkahnya selalu seolah tahu ke mana arah angin akan berpihak. Di sampingnya, dunia tampak lebih cepat bergerak. 

Namun hati Fauzar, yang telah ditempa usia, tidak lagi mudah percaya begitu saja pada kilatan gemerlap permukaan. Ia tahu, tak semua yang berkilau adalah cahaya; sebagian hanya pantulan dari sesuatu yang gelap.

Kerja sama mereka dalam management artis melahirkan banyak nama: Salfa dan Silfa, Putri, Novi, Hesti, Zulkan, hingga Fauzan. Sebuah kantor megah berdiri di kawasan elit Jakarta, menjadi saksi ambisi yang bertumbuh seperti ilalang, liar dan cepat. 

Tetapi, sebagaimana hukum sunatulloh, setiap yang tumbuh tanpa akar akan mudah tercabut oleh badai.

Malam itu, ketika hujan baru saja reda, Fauzar meluncur di jalan protokol Permata Hijau dalam sunyi. Lagu “Bento” mengalun lirih, seperti sindiran yang ia pahami terlalu dalam. Di balik kemudi mobil “sejuta umat” itu, ia merasa sedang mengemudi dirinya sendiri—menuju sesuatu yang belum jelas, namun pasti tak sederhana dalam pikirannya.

[Monolog] Sebegitu Hebatnyakah Sang Mantanmu? Membuat Kumbang Lain Merapat, Rontok Sebelum Waktunya

Telepon dari Sylvie menjadi pintu yang membuka tabir.

“Bang… aku stres,” suara itu bergetar, seperti daun yang tak sanggup menahan angin. “Iya kenapa…?,” jawab Fauzar.

“Chika, Bang…Aku pusing dan takut,” lanjut Sylvie. 

Keesokan harinya, di sebuah Kedai Bakul —-  tempat orang orang kantoran makan siang, kebenaran itu mulai menampakkan wajahnya. Pelan, ragu, namun pasti. Cerita Sylvie mengalir—tentang perlakuan yang tak wajar, tentang batas-batas yang dilanggar, tentang rasa takut yang dipendam. Fauzar terdiam.

Dalam dirinya, ada sesuatu yang retak. Bukan sekadar kepercayaan pada Cikha, tetapi juga keyakinannya pada kemampuan membaca manusia. Fauzar yang sepanjang hidup menulis tentang banyak orang lain, ternyata masih bisa keliru membaca satu jiwa, Chika! 

Mencintaimu Penuh Duri, Maaf Aku Pamit

“Dunia ini panggung sandiwara,” bisiknya dalam hati, mengingat bait lama yang kini terasa seperti wahyu kecil.

Peristiwa demi peristiwa mengalir seperti air keruh. Bukan hanya terjadi pada Sylvie, Novi dan Putri pun diminta cintanya oleh Chika. Putri, bahkan hingga terjadi perceraian yang menyeret luka lebih dalam. Semua mengarah pada satu titik: Cikha. 

Namun, luka terbesar bagi Fauzar bukan pada fakta-fakta itu. Luka sejatinya adalah fitnah.

Ia dituduh mencintai Cikha. Lebih dari itu—dituduh memaksa perasaan yang tak pernah ia miliki. Dunia yang dulu ia kenal sebagai ruang logika, kini berubah menjadi lorong prasangka buruk. 

Rumah tangganya pun goyah.

Di ruang sunyi, ia duduk sendiri. Istrinya tak lagi menatap dengan mata yang sama. Ada jarak yang tak kasatmata, namun terasa seperti jurang.

Di situlah Fauzar benar-benar pensiun—bukan dari pekerjaan, tetapi dari kesendirian dan keangkuhan dirinya. 

Ia  mulai merenung, bahasa – bahasa tasawuf mengajarkannya satu hal yang dulu hanya ia tulis, kini ia rasakan:

bahwa hidup bukan tentang bagaimana kita dipandang manusia, tetapi bagaimana kita dipandang oleh Yang Maha Melihat.

“Ya Allah,” lirihnya,

“jika ini cara-Mu membersihkan hatiku, maka kuatkan aku untuk menjalaninya.”

Ia mulai melihat bahwa semua ini bukan sekadar musibah, melainkan tajalli—penampakan kehendak Ilahi dalam bentuk yang tak selalu indah.

Fitnah adalah api. Dan api, bagi hati yang berserah, bukan hanya membakar, tetapi juga memurnikan. 

Hari-hari berikutnya, Fauzar memilih diam. Bukan karena kalah, tetapi karena memahami bahwa tidak semua kebenaran harus dibela dengan suara keras atau lantang. Ada yang cukup diserahkan pada waktu dan pada Tuhan yang tak pernah tidur.

Ia memperbaiki rumahnya, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kesabaran — seperti mata air menemukan muaranya. Ia mendekati istrinya bukan sebagai lelaki yang merasa benar, tetapi sebagai hamba yang sadar dirinya rapuh. 

Perlahan, retakan itu mulai merekat.

Di suatu senja, Fauzar duduk di beranda. Angin sore menyapa wajahnya dengan lembut. Ia tersenyum tipis.

Hidup, pikirnya, ternyata bukan tentang bebas dari duri, tetapi tentang bagaimana kita berjalan di atasnya tanpa kehilangan iman.

Dan ia pun mengerti, bahwa pensiun sejati bukanlah berhenti bekerja, melainkan berhenti menggantungkan diri pada dunia.

Sebab pada akhirnya, yang tersisa bukanlah nama, bukan pula karya,

melainkan seberapa dekat hati ini pada-Nya.

Dan, dalam senyap bergayut itu,

Fauzar akhirnya benar-benar pulang, 

bukan ke rumahnya. Melainkan ke dalam jiwanya sendiri. (***)