Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Lelaki Galau Berjalan Sepi di Tengah Keramaian

[Cerpen] Lelaki Galau Berjalan Sepi di Tengah Keramaian

(Foto ilustrasi - Depositphotos)
(Foto ilustrasi - Depositphotos)

Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd. 

Adalah Fauzar yang menatap kosong langit warna jingga di tepi Pantai Kuta. Pemandangan nan indah dan ramai dengan wisatawan asing dan lokal, baginya justru sunyi senyap dipeluk galau. Riuh tawa manusia hanya seperti gema jauh yang tak sampai ke telinganya. 

Ia masih terikat dengan bayang wanita Sunda yang melilit hatinya begitu erat.

Sementara itu, sang wanita berparas manis, wajah bulat telur, kulit kuning langsat, bernama Silva, telah melangkah jauh, meninggalkan harapan Fauzar yang tetap tinggal sebagai penunggu setia. Ingin rasanya ia berteriak keras, membuang nama Silva ke tengah deburan ombak. Namun pekik diamnya tak mampu pecah. Habis berbatang-batang ia hisap asap rokok di kepulan udara, berharap ada keajaiban—Silva berjalan kembali ke arahnya. 

Harapan itulah yang membuat Fauzar gamang, seolah mengadu kepada ombak yang datang dan pergi tanpa janji.

[Cerpen] Ketika “Tangan” Tak Sampai

Ia menunduk, memungut segenggam pasir, lalu membiarkannya jatuh perlahan dari sela jemari. “Beginikah waktu mempermainkan manusia?” gumamnya lirih. Pasir itu mengajarinya satu hal: yang digenggam terlalu erat justru lebih cepat pergi. Tetapi hati tak pernah sepandai tangan dalam melepaskan. 

Fauzar bukan lelaki kaya. Ia hanya lelaki biasa dengan punggung yang sering basah oleh peluh, dengan mimpi yang kadang ditertawakan keadaan. Ia belum mampu menghadiahkan Silva kemewahan, belum bisa membawanya berjalan ke toko emas, belum dapat menumpuk uang di meja sebagai bukti cinta. Namun di dadanya ada cita-cita yang tak pernah padam: membelikan sebuah rumah kecil, rumah subsidi sederhana bercat putih, dengan jendela menghadap pagi, tempat Silva menanam bunga, dan tempat mereka pulang pada senja yang sama. 

Rumah itu belum berdiri, tetapi fondasinya telah lama dibangun di dalam do’a.

Setiap malam Fauzar bekerja sebagai kreator dan editing lebih lama. Menahan kantuk, menahan lapar, menahan sepi. Ia menyisihkan uang receh demi receh, seperti seorang fakir yang menabung cahaya. 

Baginya, cinta bukan sekadar kata manis di bibir, melainkan kesanggupan menahan luka demi masa depan seseorang yang dicintai. Namun dunia sering terburu-buru menilai dari hasil, bukan dari niat yang suci.

[Cerpen] Ketika Silva Terikat Jiwanya 

Silva pernah berkata, dengan mata yang berkabut kecewa, “Aku lelah menunggu kepastian, Fauzar.” 

Kalimat itu sederhana, tetapi jatuh di hati Fauzar seperti kapak yang membelah batang tua. Ia tak mampu menjawab banyak. Sebab benar, ia hanya punya rencana, belum punya kenyataan. Ia hanya punya janji yang dibangun dari kejujuran, sementara hidup menuntut bukti yang dapat disentuh. Maka Silva pergi. 

Sejak saat itu, Fauzar belajar bahwa cinta kadang bukan kalah oleh hadirnya orang ketiga, tetapi oleh waktu yang terlalu lama dan kebutuhan yang terlalu nyata.

Langit kian gelap. Satu per satu lampu di pinggir pantai menyala seperti bintang yang turun ke bumi. Fauzar memandang cakrawala, lalu berbisik, “Ya Allah, bila ia bukan untukku, cabutlah namanya dari dadaku dengan lembut. Tapi bila ia masih takdirku, jagalah ia di mana pun berada.” 

Do’a itu keluar bersama air mata yang selama ini malu menetes. Dalam rangsel lusuhnya tersimpan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya ada tabungan yang belum seberapa, dan secarik kertas berisi gambar rumah sederhana hasil coretannya sendiri. Ada dua kursi di teras, satu jendela besar, dan tulisan kecil di atas pintu: Rumah Kita. 

[Monolog] Sebegitu Hebatnyakah Sang Mantanmu? Membuat Kumbang Lain Merapat, Rontok Sebelum Waktunya

Ia tersenyum pahit. Betapa lucu manusia, kadang membangun rumah bagi seseorang yang bahkan tak lagi menoleh.

Angin malam datang membawa bau asin laut. Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Fauzar memandang layar dengan tangan gemetar.

Nama itu muncul kembali: Silva.

Jantungnya berdegup seperti beduk menjelang takbir. Ia ragu mengangkat, takut suara di seberang sana hanya akan menambah luka. Namun jemarinya akhirnya menekan tombol hijau.

“Assalammu’alaikum wr wb……” suara Fauzar serak.

Lama tak ada jawaban, hanya napas yang terdengar.

Lalu suara lembut itu datang, suara yang selama ini hidup di kepalanya setiap malam.

“Fauzar… masih di pantai?”

Ia menutup mata. Air matanya jatuh tanpa izin.

“Masih,” jawabnya pelan.

“Aku juga di sini.”

Fauzar menoleh cepat ke belakang. Di antara keramaian, berdiri seorang perempuan berkerudung krem, dengan wajah yang masih sama seperti dulu—manis, teduh, dan membuat waktu berhenti. 

Silva berjalan mendekat. Tak ada musik, tak ada tepuk tangan dunia. Hanya langkah kecil yang mengalahkan ribuan kilometer rindu.

“Dulu aku pergi….,” kata Silva lirih. “Karena aku kecewa. Tapi sejauh apa pun aku berjalan, ternyata hatiku tetap tinggal padamu.”

Fauzar tak mampu bicara. Bibirnya gemetar seperti daun diterpa hujan pertama. 

“Aku tak butuh rumah besar, Fauzar,” lanjut Silva. “Aku hanya takut membangun hidup dengan lelaki yang menyerah. Tapi jika sampai hari ini kamu masih berjuang… izinkan aku ikut berjuang bersama.”

Tangis Fauzar pecah. Ia merasa seluruh ombak sujud di kakinya. 

Malam itu, Pantai Kuta menjadi saksi bahwa cinta sejati tak selalu datang membawa kemewahan. Kadang ia datang hanya dengan kesetiaan, luka, dan dua orang yang sama-sama memilih bertahan.

Rumah itu memang belum berdiri. Tetapi dua hati telah kembali pulang. (***)