Oleh: Imam M.Nizar, S.Pd.
Di sebuah kafe elit kawasan Jakarta Selatan, sore itu hujan turun rintik-rintik. Kaca bening di sisi ruangan dipenuhi jejak air yang mengalir perlahan, seperti kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.
Fauzar datang lebih dulu. Seperti biasa, ia mengenakan kemeja sederhana, celana bahan warna gelap, dan sandal kulit yang selalu bersih. Rambutnya mulai memutih di pelipis, tapi ditutup topi yang menjadi khasnya. Wajahnya tetap tenang, namun ada sesuatu yang tak pernah berubah dari lelaki itu: matanya menyimpan banyak cerita yang tak sempat diucapkan.Dulu, Ika jadi pendengar setianya dari cerita Fauzar sepenggal sepenggal.
Tak lama kemudian, Ika Putri datang. Ia tak lagi seperti gadis sembilan belas tahun yang dulu malu keluar rumah, syok karena cover tabloid sensasional. Kini ia lebih matang. Anggun. Ada garis letih di sudut matanya, namun justru menambah keelokan seorang perempuan yang pernah digembleng hidup.
“Bang Fauzar…” ucapnya lirih.
Fauzar berdiri. “Ika…Maryam,?”
Mereka berjabat tangan. Hangat, namun canggung. Seolah dua orang yang pernah dekat, tapi memilih jalan masing-masing, lalu dipertemukan takdir ketika usia telah banyak menghapus kesombongan.
Ika duduk. Memesan teh hangat. Fauzar kopi hitam tanpa gula.
Beberapa menit mereka hanya bicara soal hal-hal biasa: kesehatan, pekerjaan, anak Ika yang kini sekolah menengah, juga kabar orang tua.
Namun Fauzar tahu, perempuan ini tak mungkin mengundangnya hanya untuk membicarakan cuaca.
“Ika… maaf aku lebih suka panggil dirimu Maryam atau Iyam, seperti nama asli depanmu itu. Dan, Umi mu panggil dirimu, Iyam kan bukan bayam… ?” sela Fauzar sedikit serus di balut canda kecil.
Ika tersenyum. Pikirnya, lelaki yang dihadapannya ini, masih seperti dulu aja. Kerap dadakan muji dan candaanya.
“Iyam sebenarnya ada apa,?” tanyanya pelan.
Ika menatap jendela. Bibirnya bergetar.
“Bang.. kadang hidup itu lucu ya. Dulu orang banyak iri lihat aku. Panggung ramai, uang ada, rumah besar, terkenal…” Ia tersenyum pahit. “Tapi ternyata rumah tangga bisa runtuh tanpa suara.”
Fauzar diam.
“Aku capek bertahan jadi kuat terus, Bang,”
Kalimat itu sederhana, tapi menembus dalam ke dada Fauzar.
Ika melanjutkan, “Waktu aku menikah dulu, aku pikir cinta cukup. Ternyata tidak. Ego, kesibukan, dunia masing-masing… akhirnya hancur.”
Ia menunduk. Jari-jarinya menggenggam cangkir.
“Dan anehnya… di saat seperti ini, orang pertama yang teringat justru Abang”
Fauzar memalingkan wajah sejenak. Di luar, hujan makin rapat.
“Kenapa aku?” tanyanya.
Karena dulu, jawab Ika dalam hati. Karena dulu engkau adalah tenang di tengah gemerlap yang bising dan dunia yang menipu.
Namun yang keluar dari bibirnya hanya kalimat pendek.
“Karena Abang orang baik.”
Fauzar tersenyum kecil. “Orang baik belum tentu orang tepat.”
Ika menatapnya lama.
“Kalau dulu Abang bilang suka… mungkin hidupku beda.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu ke telaga tua. Membuat riak pada air yang selama ini tampak tenang, jadi pecah. Ambyar.
Fauzar menarik napas panjang.
“Kalau dulu aku bilang cinta… mungkin aku malah merusak jalan hidupmu Iyam. Aku waktu itu lelaki penuh takut. Takut pada dunia artis, takut pada penghasilanmu, takut merasa kecil di sampingmu.”
“Padahal aku tak pernah menilai itu,” sahut Ika cepat.
“Justru itu,” jawab Fauzar. “Aku yang menilai diriku sendiri.”
Sunyi kembali hadir.
Di antara bunyi sendok dan musik piano kafe, dua hati sedang membaca penyesalan masing-masing.
Ika menyeka air matanya.
“Abang… aku tidak mengundangmu untuk merebut masa lalu. Aku cuma ingin bilang… dulu aku menunggu.”
Fauzar menunduk. Dadanya terasa lebih sesak oleh sesuatu yang tak bisa diperbaiki.
“Aku juga menunggu, Iyam…” katanya lirih. “Tapi menunggu keberanian yang tak pernah datang.”
Ika tertawa kecil sambil menangis.
Dua manusia dewasa itu duduk berhadapan, sama-sama sadar: cinta kadang tidak mati, hanya salah waktu.
Menjelang magrib, Fauzar melihat Ika mengambil tas.
“Aku harus jemput anak.”
Fauzar mengangguk. “Aku antar ke mobil.”
Di parkiran, langit mulai gelap.
Sebelum masuk ke mobil, Ika berkata pelan:
“Abang.. kalau hidup memberi kesempatan kedua, apakah Abang masih takut?”
Fauzar terdiam.
Pertanyaan itu menggantung di udara, bersama aroma tanah sehabis hujan.
Ika masuk mobil. Mesin menyala. Perlahan kendaraan menjauh.
Fauzar berdiri sendiri. Menatap lampu belakang yang makin kecil.
Di dadanya, untuk pertama kali setelah sekian tahun, prinsip-prinsip hidupnya mulai goyah oleh satu pertanyaan sederhana:
Apakah cinta yang datang terlambat… masih pantas diperjuangkan? Bersambung…
Sentul, Bogor 1 Mei 2026
