Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Sepatu Hitam untuk Ibu

[Cerpen] Sepatu Hitam untuk Ibu

(Foto ilustrasi - iStock)
(Foto ilustrasi - iStock)

Oleh: Supria, S.Pd.

Pagi itu hujan turun pelan-pelan, seperti langit sedang berusaha menangis tanpa suara.

Di sebuah rumah kecil berdinding papan, seorang anak laki-laki bernama Raka duduk di pinggir kasur. Seragam putih birunya sudah ia pakai sejak subuh. Kemejanya tidak terlalu putih lagi, kerahnya mulai menguning, dan celananya sudah dua kali ditambal oleh ibunya.

Tapi yang paling ia sembunyikan adalah sepatunya.

Sepatu hitam itu sudah tidak layak disebut sepatu. Bagian depannya menganga, sol kirinya hampir lepas, dan jika hujan turun, air masuk sampai kaus kakinya basah. Raka sudah terbiasa berjalan pelan agar sepatunya tidak semakin robek.

[Cerpen] Ketika Harapan Fauzar Pudar

Ibunya, Sari, sedang menanak nasi di dapur. Dapur itu hanya berukuran kecil, dengan tungku tua dan panci yang bagian bawahnya menghitam. Di atas meja, hanya ada garam, sedikit ikan asin, dan dua potong tempe sisa kemarin.

“Rak, sarapan dulu,” panggil ibunya.

Raka berdiri. Ia sengaja melangkah pelan agar suara sepatunya yang menganga tidak terdengar.

Ibunya menoleh. Matanya berhenti di kaki Raka.

“Sepatunya makin parah, ya?”

[Cerpen] Sepasang Sandal di Teras Masjid

Raka cepat-cepat menarik kakinya ke bawah meja.

“Enggak, Bu. Masih bisa dipakai.”

Sari diam. Ia tahu anaknya berbohong. Tapi ia juga tahu, kadang-kadang anak kecil belajar berbohong bukan karena nakal, melainkan karena tidak ingin membuat ibunya merasa gagal.

Sari mengambil nasi dari panci. Ia membagi nasi itu ke dua piring. Piring Raka lebih penuh. Piringnya sendiri hanya sedikit.

“Ibu kok makannya sedikit?” tanya Raka.

Cerbung: Hati yang Datang Terlambat [Tamat]

“Ibu sudah kenyang tadi.”

Raka menatap ibunya. Ia tahu itu juga bohong. Tapi seperti ibunya, ia memilih diam. Di rumah kecil itu, mereka sering saling membohongi demi saling menguatkan.

Ayah Raka sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan kerja. Sejak itu, ibunya bekerja apa saja. Mencuci pakaian tetangga, membersihkan rumah orang, kadang ikut membantu di warung. Upahnya tidak seberapa. Cukup untuk makan, listrik, dan biaya sekolah Raka yang kadang masih menunggak.

Raka bukan anak yang banyak meminta. Ia tahu hidup mereka sempit. Tapi diam-diam ia ingin sekali punya sepatu baru. Bukan sepatu mahal. Bukan sepatu bermerek. Hanya sepatu hitam biasa, yang tidak membuat teman-temannya tertawa saat ia berjalan ke depan kelas.

Di sekolah, Raka selalu duduk di bangku belakang. Ia pintar, tapi tidak suka terlihat. Ia takut disuruh maju. Bukan karena tidak bisa menjawab soal, tetapi karena ia malu pada sepatunya.

Suatu hari, wali kelasnya, Bu Ningsih, mengumumkan bahwa minggu depan akan ada lomba pidato antar kelas.

“Setiap kelas harus mengirim satu wakil,” kata Bu Ningsih. “Ibu sudah mempertimbangkan. Untuk kelas kita, Ibu pilih Raka.”

Semua mata langsung menoleh ke belakang.

Raka kaget.

“Raka, kamu bisa. Tulisanmu bagus, suaramu juga jelas kalau membaca,” lanjut Bu Ningsih.

Beberapa anak bertepuk tangan. Tapi dari sudut kelas, terdengar bisikan.

“Pidato pakai sepatu buaya mangap.”

Beberapa anak tertawa kecil.

Wajah Raka panas. Ia menunduk dalam-dalam.

Sepulang sekolah, Raka tidak langsung pulang. Ia duduk di teras masjid dekat sekolah. Hujan turun lagi. Air menetes dari ujung genting, jatuh ke tanah, membentuk lubang kecil yang semakin lama semakin dalam.

Raka menatap sepatunya.

“Mungkin aku enggak usah ikut lomba,” gumamnya.

Sore itu, ketika pulang, ibunya sedang menjemur pakaian yang belum kering karena hujan.

“Kenapa pulang telat?” tanya ibunya.

“Ada latihan.”

“Latihan apa?”

Raka ragu.

“Lomba pidato.”

Mata Sari berbinar.

“MasyaAllah. Ibu bangga, Rak.”

Raka tidak menjawab.

“Kenapa mukanya begitu?”

“Aku enggak mau ikut, Bu.”

“Kenapa?”

Raka menggigit bibirnya. Ia menahan sesuatu yang sejak tadi menumpuk di dadanya.

“Aku malu, Bu.”

Sari terdiam.

“Teman-teman suka lihat sepatu aku. Mereka ketawa. Kalau aku maju ke panggung, semua orang pasti lihat. Aku enggak mau, Bu.”

Kalimat itu keluar pelan, tapi menghantam hati Sari dengan keras.

Ia ingin mengatakan, “Jangan malu, Nak.” Tapi lidahnya kaku. Bagaimana mungkin ia menyuruh anaknya tidak malu, sementara ia sendiri setiap malam menangis karena merasa belum mampu memberi kehidupan yang layak?

Sari mendekati Raka. Ia berjongkok di depan anaknya, lalu memegang sepatu itu.

“Besok Ibu usahakan.”

Raka cepat-cepat menggeleng.

“Jangan, Bu. Aku cuma cerita. Aku enggak minta.”

Sari tersenyum, tapi matanya basah.

“Kadang anak tidak meminta pun, ibu tetap mendengar.”

Malam itu, setelah Raka tidur, Sari membuka kaleng bekas biskuit di bawah lemari. Di dalamnya ada beberapa lembar uang kusut. Uang itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membayar tunggakan listrik.

Jumlahnya belum cukup untuk membeli sepatu.

Sari duduk lama sekali. Di luar, hujan masih turun. Di dalam rumah, suara napas Raka terdengar pelan dari balik kelambu.

Sari menatap anaknya.

Raka tidur menyamping. Wajahnya tampak lelah, padahal ia masih terlalu kecil untuk menanggung rasa malu sebesar itu.

Keesokan harinya, Sari bekerja lebih pagi. Ia mencuci pakaian tiga rumah. Tangannya keriput terlalu lama terkena sabun. Punggungnya pegal, kepalanya pening. Tapi ia terus bekerja.

Siang hari, ia pergi ke pasar.

Di sebuah toko kecil, ia melihat sepatu hitam sekolah berjejer. Ada yang bagus, ada yang biasa saja. Ia bertanya harga yang paling murah.

“Seratus dua puluh ribu, Bu,” jawab penjual.

Sari membuka dompetnya. Uangnya hanya sembilan puluh ribu.

“Tidak ada yang lebih murah, Pak?”

Penjual itu menggeleng.

Sari keluar dari toko. Ia berdiri di tepi jalan pasar, memegang dompet tipisnya. Orang-orang berlalu-lalang. Ada ibu yang membelikan anaknya tas baru. Ada ayah yang menggandeng anaknya sambil membawa jajanan. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak tahu bahwa ada seorang ibu sedang menahan tangis karena tidak mampu membeli sepatu.

Sari akhirnya berjalan ke toko barang bekas.

Di sana ia menemukan sepasang sepatu hitam. Tidak baru, tapi masih bagus. Ukurannya mungkin pas untuk Raka. Harganya lima puluh ribu.

Ia membelinya.

Sore itu, ketika Raka pulang sekolah, ibunya menyodorkan kantong plastik hitam.

“Coba pakai.”

Raka membuka kantong itu.

Sepasang sepatu hitam.

Matanya membesar.

“Bu…”

“Bekas, tapi masih kuat.”

Raka memegang sepatu itu seperti memegang sesuatu yang sangat berharga. Ia mencobanya. Sedikit longgar, tapi nyaman. Tidak ada lubang. Tidak ada sol yang terbuka. Tidak ada bagian depan yang menganga.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Raka melihat kakinya tanpa rasa malu.

“Makasih, Bu.”

Sari mengangguk. Ia pura-pura sibuk merapikan jemuran agar Raka tidak melihat matanya berkaca-kaca.

Hari lomba pun tiba.

Raka berdiri di belakang panggung kecil aula sekolah. Tangannya dingin. Ia memakai sepatu hitam pemberian ibunya. Seragamnya tetap sederhana, tapi hari itu ia berdiri lebih tegak.

Bu Ningsih mendekatinya.

“Sudah siap?”

Raka mengangguk.

“Pidatomu tentang apa?”

Raka menjawab pelan, “Tentang ibu.”

Bu Ningsih tersenyum.

Ketika namanya dipanggil, Raka naik ke panggung. Dari kejauhan, ia melihat teman-temannya, guru-guru, dan beberapa orang tua siswa.

Ibunya tidak datang.

Raka tahu ibunya bekerja. Ia tidak kecewa. Justru ia ingin menang agar bisa pulang membawa kabar baik.

Ia berdiri di depan mikrofon.

Untuk beberapa detik, ia diam.

Lalu ia mulai bicara.

“Bapak dan Ibu Guru yang saya hormati, serta teman-teman yang saya sayangi…”

Suaranya awalnya bergetar, lalu perlahan menjadi tenang.

“Hari ini saya ingin berbicara tentang seseorang yang sering terlihat lemah, padahal sebenarnya paling kuat. Seseorang yang sering bilang sudah kenyang, padahal belum makan. Seseorang yang sering tersenyum, padahal malamnya menangis diam-diam. Dia adalah ibu.”

Aula mulai sunyi.

Raka melanjutkan.

“Kita sering mengira kemiskinan itu hanya tentang tidak punya uang. Padahal kemiskinan juga tentang seorang anak yang takut maju ke depan kelas karena sepatunya rusak. Tentang seorang ibu yang menghitung uang receh berkali-kali, bukan karena pelit, tapi karena ia ingin anaknya tetap sekolah.”

Bu Ningsih menunduk. Beberapa guru saling pandang.

“Dulu saya malu karena sepatu saya rusak. Saya takut ditertawakan. Tapi sekarang saya sadar, yang seharusnya membuat saya malu bukan sepatu robek. Yang seharusnya membuat saya malu adalah kalau saya menyerah, padahal ibu saya tidak pernah menyerah.”

Suara Raka mulai pecah.

“Sepatu ini bukan sepatu baru. Tapi bagi saya, ini lebih mahal daripada sepatu mana pun. Karena sepatu ini dibeli dari tangan ibu saya yang lelah. Dari punggungnya yang sakit. Dari perutnya yang sering lapar. Dari doa-doanya yang tidak pernah terdengar oleh orang lain.”

Di bangku belakang aula, seorang perempuan berdiri diam.

Sari.

Ia datang terlambat. Bajunya masih bau sabun cuci. Tangannya kasar. Ia tidak sempat mengganti pakaian. Ia hanya ingin melihat anaknya sebentar, sebelum kembali bekerja.

Raka melihat ibunya.

Kalimatnya berhenti.

Aula ikut menoleh.

Sari ingin mundur karena malu. Tapi Raka menatapnya. Anak itu tersenyum sambil menangis.

“Ibu saya ada di sana,” kata Raka sambil menunjuk pelan. “Beliau bukan orang kaya. Beliau tidak punya gelar. Tapi beliau adalah alasan saya masih berdiri hari ini.”

Sari menutup mulutnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Raka melanjutkan pidatonya dengan suara yang semakin lirih.

“Bu, kalau hari ini Raka bisa berdiri di sini, itu bukan karena Raka hebat. Tapi karena Ibu tidak pernah pergi, bahkan ketika hidup kita terasa berat. Maaf kalau Raka pernah malu. Maaf kalau Raka pernah mengeluh. Mulai hari ini, Raka janji akan belajar sungguh-sungguh. Bukan untuk menjadi lebih tinggi dari orang lain, tapi supaya suatu hari nanti Ibu tidak perlu lagi menunduk di depan siapa pun.”

Aula hening.

Tidak ada yang berbisik. Tidak ada yang tertawa.

Bahkan anak yang dulu mengejek sepatunya kini menatap lantai.

Raka menutup pidatonya.

“Teman-teman, jangan pernah malu karena hidup sederhana. Malulah kalau kita punya orang tua yang berjuang mati-matian, tapi kita menyia-nyiakan kesempatan. Sebab tidak semua anak punya rumah yang indah, tapi setiap anak bisa menjadi alasan ibunya bertahan hidup.”

Tepuk tangan pecah.

Bukan tepuk tangan biasa. Banyak yang berdiri. Bu Ningsih menangis. Beberapa orang tua mengusap mata. Sari hanya berdiri kaku di belakang, seperti tubuhnya lupa cara bergerak.

Raka turun dari panggung dan berlari kecil ke arah ibunya.

Ia memeluk Sari erat-erat.

“Bu, Raka enggak malu lagi.”

Sari menangis di bahu anaknya.

“Ibu juga enggak malu, Nak. Ibu cuma takut belum bisa jadi ibu yang baik.”

Raka menggeleng cepat.

“Ibu sudah lebih dari cukup.”

Hari itu Raka tidak menjadi juara satu.

Ia hanya juara dua.

Tapi setelah acara selesai, kepala sekolah memanggilnya. Beberapa guru sepakat membantu membelikan seragam baru, tas baru, dan membebaskan sebagian tunggakan sekolahnya. Bukan karena kasihan, tetapi karena mereka sadar: kadang sekolah terlalu sibuk menilai anak dari angka, sampai lupa melihat luka yang mereka bawa dari rumah.

Sore harinya, Raka dan ibunya pulang berjalan kaki.

Hujan turun lagi, tapi kali ini Raka tidak takut.

Sepatunya tidak bocor.

Ibunya berjalan di sampingnya sambil membawa payung kecil yang sudah miring. Payung itu tidak cukup menutupi mereka berdua. Bahu Sari basah, tapi ia tetap mengarahkan payung ke Raka.

Raka memperhatikan itu.

Lalu ia mengambil payung dari tangan ibunya dan menggesernya ke tengah.

“Bu, mulai sekarang kalau hujan, kita basah bareng-bareng saja.”

Sari menatap anaknya.

Di tengah hujan sore itu, mereka tertawa kecil.

Tawa yang sederhana.

Tawa yang lahir dari dua orang yang belum menang melawan hidup, tapi juga belum kalah.

Dan di jalan becek itu, Raka berjalan dengan sepatu hitamnya. Bukan lagi sebagai anak yang malu karena miskin, melainkan sebagai anak yang paham bahwa cinta seorang ibu sering datang dalam bentuk paling sunyi: nasi yang lebih banyak di piring anaknya, senyum yang dipaksakan, dan sepatu bekas yang dibeli dengan seluruh harga diri.

Kadang, yang membuat seseorang menangis bukan karena cerita itu terlalu sedih.

Melainkan karena ia sadar, ada orang yang selama ini mencintainya begitu dalam, tetapi terlalu sering ia anggap biasa saja. (***)