Humaniora
Beranda » Humaniora » [Cerpen] Ketika Cinta Harus Berlabuh

[Cerpen] Ketika Cinta Harus Berlabuh

(Foto ilustrasi - id.pinterest.com)
(Foto ilustrasi - id.pinterest.com)

Oleh: Imam M.Nizar 

Aku masih seperti yang dulu

Menunggumu sampai akhir hayatku

Kesetiaanku tak luntur hati rela berkorban

Demi keutuhan kau dan aku….. 

Kumpulan Puisi Ramadan

Sepenggal syair dari lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Dian Piesesha, pada tahun 1990 an itu — membawa keutuhan lamunan Dosen Suna pagi itu di ruang kerja, rumah pribadinya begitu jadi sangat sempurna. Diam diam dosen yang mengajar Bimbingan dan Konseling ini air matanya meleleh,  menganak sungai di pipinya yang ranum itu.

Begituh dalamnyakah ia meresapi syair dari lagu tersebut? Atau begitu indah dan sakit ia mengenang perjalanan kebelakang bersama seorang belahan jiwanya?

Ya, lagu yang sempat ngetop di radio radio seantero NKRI ini, bagi Suna punya kenangan tersendiri bersama mantan kekasihnya — yang sempat menikahi Suna, memberikan dua orang anak, putra dan putri. 

Seiring perjalanan waktu, kepercayaan penuh Suna pun ternodai. Rumah tangga yang telah dibanggun 12 tahun lebih itu, tercoreng dengan berita yang belakangan diketahui Suna, bukan sekedar gosip belaka. Sang suami, merenda benang haram pada wanita sepupu Suna yang di bawanya dari Cirebon — untuk bantu bantu kesibukan rutinitas rumah tangganya.

Hati istri yang mana perasaanya tak terkoyak robek menganga? 

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

Sejak itu, luka menoreh begitu dalam di hati Suna. Setiap kali lagu “Aku Masih Seperti yang Dulu” mengalun, rasanya seperti membuka kotak usang berisi kenangan pilu yang tak kunjung kering. Ia bukan hanya mendengar lagu itu—ia merasakannya, seolah nada demi nada, kata demi kata menggali kembali puing-reruntuhan hati yang dulu pernah utuh bersama belahan jiwa, kini tinggal serpihan. 

Namun, hidup seperti arus sungai yang terus mengalir. Meski keruh di hulu, Suna berharap menemukan muara, nan jernih. Dalam kesunyian dan luka yang  membekas tak sepenuhnya kering, Suna memilih untuk tetap mengajar, tetap mengabdi pada dunia pendidikan— seolah sebuah “pelarian” yang diam-diam menjelma jadi penyembuh. 

Adalah Fauzar—mahasiswa Pascasarjana Bimbingan dan Konseling—yang hadir seperti hujan pertama, setelah musim kemarau panjang. Sikap sopan, perhatian yang tulus, dan kecerdasan yang bersahaja, membuat Suna perlahan membuka lembaran baru.

Awalnya, Suna menganggap Fauzar hanya sebagai peserta didik yang penuh semangat seperti yang lainnya. Namun, belakangan sering berinteraksi, baik dalam kelas zoom atau pun di ruang kelas fisik. Suna merasakan, bahwa hatinya yang beku dan terkunci lama, mulai mencair.

Bunda Dosen — begitu  Fauzar menyebut dosen yang satu ini. Ada keistimewaan tersendiri baginya.”Saya suka dengan cara Bunda memaparkan makalah. Bukan hanya soal akademik, tapi menyentuh ruang dan sisi-sisi terdalam hidup dan kehidupan,” ujar Fauzar di suatu gerbang sore setelah kelas “fisik” ditutup. 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

Suna tersenyum. Kali ini  entah kenapa senyumannya itu terkesan gugup. “Terima kasih, Fauzar. Mungkin karena saya juga belajar dari luka.” kilahnya sebisanya Suna menjawab. Dosen yang telah mempunyai jam terbang tinggi itu pun, nampak jelas wajahnya merah padam. 

Fauzar tak lanjut berkata. Tapi tatapan mata teduh Suna itu—seakan memahami bahwa dibalik ketegasan dan bijaksana dosennya, ada ruang kosong yang belum terisi. Dan, bagi Suna pun, ia sadar betul, ini bukan cinta sesaat. Suna paham, trauma dari masa lalu adalah jurang yang belum tentu bisa diseberangi dengan mudah. 

Seringkali, ketika malam tiba dan kamar sunyi, Suna duduk di tepi ranjang dengan pikiran galau. Ia mencemaskan banyak hal—perbedaan usia yang cukup jauh, status sosial, dan terutama bagi dirinya sendiri. Apakah ia benar-benar sudah sembuh? Ataukah hanya mencari pelipur dari luka lama? 

Kalau aku jatuh cinta lagi, pilkirnya. “Bisakah aku bahagia, atau malah terluka lebih dalam?” bisiknya pada bayangan di depan cermin — malam-malam yang penuh perenungan. 

Namun, yang namanya cinta tak selalu hadir dengan riuh dan tergopoh gopoh, gegap gempita. Cinta hadir bak embun sore melintas, membelah perbukitan jalan berliku puncak pegunungan —  diam-diam menyegarkan. Dan di setiap doa tahajud yang ia langitkan itu,  terselip nama Fauzar mulai disebutnya lirih, bersama harapan baru yang malu-malu tumbuh dalam jiwa. 

Suna belum sepenuhnya berani. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ia tidak lagi menangis karena kehilangan, sebab dari kecewanya. Melainkan, mulai tersenyum karena kemungkinan mampu untuk mencinta atau dicintai lagi. 

Hari itu,  kampus sedikit lebih sepi dari biasanya. Suna duduk di gazebo kecil di sudut taman fakultas, menghadap gedung pertemuan. Beberapa detik kemudian tangannya membuka laptop seraya menyeruput teh hangat yang dibawanya dari rumah, tadi pagi.

Angin bertiup pelan, mengusap lembut kerudung warna biru malam yang disukainya. Di sela mengetik bahan kuliah, pikirannya melayang kembali pada Fauzar. 

Belakangan, interaksi mereka memang semakin intens. Diskusi akademik sering menjelma menjadi obrolan personal, soal hobi dan kebiasaan. Fauzar tak lagi sekadar mahasiswa, ia mulai menjadi sosok yang mengisi ruang hampa dalam hari-hari Suna. Terkadang,  Suna selalu menarik diri kembali setiap kali hatinya terasa bergetar terlalu dalam. Luka itu masih ada. Luka yang membentuk batas antara logika dan perasaan. 

Begitu setidaknya Suna menganalogikan antara luka dan cinta masa depannya. “Lelaki, sama saja…,” pikir Suna dalam diam. Terbesit pada syair yang dilantunkan oleh almarhum Basofi Sudirman, mantan Gubernur Jakarta dan Jawa Timur itu — beda lagi, pandang Suna tentang cinta. Tidak Semua Laki Laki. Hati Suna menjadi terhibur. 

Hari itu, Fauzar menghampiri. Tak seperti biasa, kali ini ia nampak lebih rapi dari biasanya serta lebih serius. Ia duduk di hadapan Suna, matanya tak bisa berbohong—ada sesuatu yang hendak ia katakan pada Bunda dosen yang dikagumi lahir batin itu. 

“Bunda,” ucap Fauzar pelan namun jelas. “Saya akan menyelesaikan semester ini lebih cepat. Dan… mungkin saya akan lanjut ke luar negeri. Dapat beasiswa penuh,” katanya terbuka. 

Suna menoleh dengan senyum khasnya itu. Akan tetapi hatinya meredup. “Itu kabar baik, Fauzar. Saya bangga padamu,” jawab Suna, agak sedikit serak suara yang lepas dari laring tenggorokannya itu. 

Fauzar menggigit bibirnya sejenak, lalu menunduk. “Tapi ada satu hal yang belum sempat saya sampaikan pada Bunda….” katanya lirih. 

Suna menatapnya dalam diam. Jantungnya seperti berhenti sejenak. 

“Sa…sa saya punya perasaan, Bunda. Bukan sekarang saja. Tapi sejak kali pertama bertemu. Hanya saja, saya tahu itu  salah tempat, salah waktu… atau mungkin juga, salah orang.” papar Fauzar gamblang dengan kalimat sedikit terbata bata. 

Suna ingin berkata banyak. Akan tetapi  tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Hanya matanya yang menyiratkan gejolak perasaan—antara terharu, bangga, cemas  takut, dan ragu. 

“Saya tidak butuh jawaban sekarang, Bunda,”  lanjut Fauzar. “Mungkin memang saya hanya persinggahan kecil dalam hidup Bunda. Tapi… saya tulus, selama ini, ” lanjut Fauzar dengan lemah lembut.

Suna pun terbayang saat dirinya terkapar sakit, pasca operasi sinusitis — disalah satu rumah sakit di kota Bandung. Adalah Fauzar yang datang kali pertama saat dirinya baru siuman di ruang kamar rawat inap. Fauzar memberikan support padanya. Seraya menggenggam tangan Suna saat itu. Yang tak bisa dilupakan bagi kedua insan ini — saat Fauzar pamit pulang, Fauzar pun sempat mencium kening Dosennya itu. Sebuah keajaiban yang langka dalam dirinya. 

Suna menarik napas dalam diam. Lalu, dengan suara yang pelan juga dan tertahan, ia menjawab, “Hidup ini seperti buku, Fauzar. Tak semua halaman harus kita baca tuntas. Kadang, kita harus berhenti sejenak… menandai bab yang belum usai.” 

Fauzar hanya tersenyum kecil. Ia mengangguk, berdiri, dan memberikan  salam pamit pada Suna — seraya berjalan perlahan meninggalkan gazebo, bersama dosen yang ia kagumi penuh hati. 

Suna hanya melirik beberapa detik ke Fauzar, lalu ia menatap layar laptopnya yang kini menghitam, memantulkan bayangannya sendiri. Suna tahu, kisah ini belum usai. Tapi, tak juga bisa segera dimulai — pada akhirnya, takdir – Nya juga yang bicara. Ketika Cinta Harus Berlabuh — berlanjutkah hubungan mereka? (Red/***)