Oleh: Anne.Y.Wachyuni
KABARHIBURAN.id – Di tengah riuhnya suara kendaraan di jalanan Leles, Garut, Jawa Barat, tampak seorang pemuda mendorong gerobak sederhana berisi baso tahu. Ia tersenyum saat menata dagangannya, menyambut pelanggan dengan ramah, seolah dunia tak sedang memberatkan pundaknya. Dialah Muhammad Fadli, pemuda 20 tahun yang sedang menapaki jalan hidupnya dengan semangat yang tak pernah padam.
Fadli bukan sekadar pedagang kaki lima. Ia adalah potret generasi muda yang pantang menyerah. Di balik gerobaknya, tersimpan cerita perjuangan, keringat, dan doa.
Ia lahir pada 18 Maret 2005 di Kampung Sarjambe, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut. Kini, sambil berdagang, ia menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) At-Taqwa, Gegerkalong, Bandung, Jawa Barat, jurusan Manajemen Pendidikan Islam.
Masa remajanya ia habiskan di SMK Bina Karya Mandiri, jurusan Tata Busana — jurusan yang bukan pilihan hati, tapi hasil pertimbangan orang tua demi masa depan yang dianggap lebih menjanjikan.
Fadli sempat melamar kerja ke berbagai perusahaan konveksi, namun tak satu pun panggilan datang. Dunia kerja tampak belum berpihak, sementara waktu terus berjalan.
“Saya tidak bisa diam. Kalau hanya menunggu panggilan kerja, keluarga saya makan dari mana?” ucapnya.
Saat sang ayah terkena stroke ringan dan tak mampu lagi berjualan, Fadli menggantikan perannya sebagai pedagang baso tahu keliling. Dagangan itu bukan buatan sendiri, melainkan dari bos ayahnya yang dulu menawarkan pekerjaan setelah sang ayah harus pulang kampung akibat pandemi Covid-19.
Dari situlah Fadli mulai mengenal kerasnya dunia. Ia membawa gerobak sendirian, menembus panas dan hujan, dari satu titik ke titik lain: mulai dari depan sekolah dasar, area pabrik PT. Changsin, hingga perempatan jalan dekat butik. Ia berangkat pagi, kadang pulang hampir maghrib. Pernah suatu hari, ibunya khawatir karena Fadli belum juga pulang saat azan berkumandang.

Di tengah hiruk-pikuk berdagang, Fadli tetap mengejar pendidikannya. Ia memilih kelas karyawan agar bisa menyesuaikan waktu dengan aktivitas jualan. Biaya kuliah sebesar Rp500.000 per bulan ia bayar dari hasil berdagang, dibantu sesekali oleh kakaknya yang bekerja di Bandung. Uangnya tak banyak, tapi cukup untuk tetap melangkah.
“Saya pernah malu bawa gerobak sendiri. Tapi ketika bertemu teman lama, guru, bahkan kepala sekolah yang membeli dagangan saya, dan mereka bilang mereka bangga dan respek, saya langsung percaya diri,” ujarnya.
Mimpinya dulu menjadi seorang TNI terpaksa pupus karena tidak memenuhi tinggi badan minimum. Tapi itu tak membuatnya patah semangat. Kini, mimpinya lebih sederhana, namun besar: membahagiakan orang tua dan menjadi pemuda yang mandiri.
Peurih jadi peurah, perih dulu, sukses kemudian. Setidaknya begjtu ucap Fadli dalam bahasa Sunda, yang jadi “mantra” kehidupannya. “Semua berawal dari proses,” lanjut Fadli penuh harap pada masa depannya.
Bulan Ramadan pun tak jadi alasan untuk berhenti. Ia tetap berjualan di Jalan Anyar, jalanan yang dulunya persawahan dan kini menjadi pusat keramaian warga saat ngabuburit. Lokasinya tak jauh dari rumah, membuatnya bisa berjualan ditemani sang ayah yang meski perlahan, masih kuat berjalan.
Di mata orang lain, Fadli mungkin hanya penjual baso tahu belaka. Akan tetapi, di balik itu, ia adalah simbol tekad, keringat yang tak sia-sia, dan cinta kepada keluarga. Ia memilih tidak menyerah, meski dunia seolah menutup pintu baginya.
Dalam gerobak sederhana itu, tersimpan harapan besar. Harapan tentang masa depan yang lebih baik, tentang pendidikan yang bisa mengubah hidup, dan tentang seorang anak yang tak ingin menjadi beban bagi orang tuanya.
Fadli adalah gambaran nyata dari anak muda yang tidak menunggu kesempatan, tapi menciptakannya. Dari jalanan Leles, Fadli sedang “menulis kisahnya” sendiri — kisah yang barangkali akan menginspirasi banyak orang. Dia, Fadli sedang membangun masa depan. Insya Allah, takdir dan rejeki akan menemui jalan terbaik. (KH***)
