Humaniora
Beranda » Humaniora » Kisah Ma Titi, Lika-Liku Pengrajin Anyaman Bambu

Kisah Ma Titi, Lika-Liku Pengrajin Anyaman Bambu

Ma Titi, pengrajin anyaman bambu di Kampung Pangaroan, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat
Ma Titi, pengrajin anyaman bambu di Kampung Pangaroan, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Foto - Cici Cahyati)

Oleh: Cici Cahyati (Mahasiswi STIT Bandung) 

KABARHIBURAN.idDi sudut Kampung Pangaroan, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tinggal seorang perempuan tangguh bernama Ma Titi. 

Di usianya yang telah mencapai 85 tahun, semangat Ma Titi tetap membara. Wajahnya memancarkan kecantikan khas wanita Sunda yang penuh energi dan semangat hidup. 

Sejak duduk di bangku kelas 3 SD, Ma Titi telah mulai membuat dan menjual anyaman bambu hasil tangannya sendiri. 

Ia berkeliling dari kampung ke kampung, menawarkan hasil karyanya, mulai dari bakul, kukusan, nampan, kipas, hingga wadah serbaguna lainnya. 

Kumpulan Puisi Ramadan

Produk anyaman bambu Ma Titi telah menjadi bagian dari kebutuhan harian masyarakat sekitar. 

Ma Titi memiliki lima orang anak. Sejak suaminya meninggal, ia berjuang seorang diri. Alhamdulillah, kini anak-anaknya telah hidup sejahtera. 

Hasil kreasi Ma Titi sebagai pengrajin anyaman bambu di Kampung Pangaroan, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Hasil kreasi Ma Titi sebagai pengrajin anyaman bambu di Kampung Pangaroan, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Foto – Cici Cahyati)

Seiring bertambahnya usia, tenaga Ma Titi tidak sekuat dulu. Namun, semangatnya tak pernah surut. 

Ia masih tetap berjualan, menjajakan hasil karya anak dan beberapa tetangganya kepada para pelanggan setianya. 

Di antara puluhan pengrajin bambu di kampungnya, Ma Titi dikenal sebagai sosok yang tangguh dan ikhlas. 

Yang Tak Bisa Dielakkan: Belajar Ikhlas Apa pun yang Terjadi

Selama puluhan tahun, ia menjual karyanya tanpa pernah mematok harga tinggi dan sering kali dengan sistem seikhlasnya. Ada yang membayar tunai, ada juga yang membayar belakangan. Semuanya diterima dengan lapang dada dan penuh rasa syukur. 

Namun, Ma Titi menghadapi kesulitan ketika stok dagangannya habis, tetapi uangnya belum terkumpul karena banyak pelanggan yang membayar secara tempo. 

Kini, secercah harapan baru mulai tumbuh. Di Kampung Pangaroan, telah didirikan Warung Al Ikhlas, sebuah gerai penampung hasil anyaman bambu dan makanan khas kampung.  

“Saya sengaja memfasilitasi hasil kerajinan dari pengrajin anyaman dan pengrajin makanan khas kampung ini, agar warga kampung bisa sejahtera,” kata Kepala Dusun Pangaroan, Karta, yang juga merupakan pembina Kelompok Wanita Tani (KWT) Geulis.

Dengan adanya warung ini, Ma Titi mengaku merasa sangat terbantu. 

Mengelola Perbedaan dengan Hikmah: Saat Perseteruan Jadi Jalan Kedamaian

“Alhamdulillah, semenjak ada Warung Al Ikhlas ini, saya jadi mudah untuk mendapatkan barang dagangan, tanpa harus keluar modal untuk memulai jualan,” ungkap Ma Titi penuh syukur. 

Kini, Ma Titi bisa berjualan dengan tenang, tanpa harus memikirkan dari mana mencari modal pinjaman. 

Harapannya, para pengrajin ini ke depannya dapat terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produk mereka. Semoga mereka mendapatkan penghasilan yang lebih layak dan menjadi inspirasi sebagai warga yang mandiri dan berdaya. (KH/***)